Selasa, 26 Mei 2015

Batik Godog Sekar Ayu Tahan Banting Melawan Bom

Profil Pengusaha Sukses: Uswatun Hasanah



Bisnis bisa datang dari tradisi masa lalu. Kemudian meresap dan diaplikasikan ke jaman sekarang. Seperti hal pola- pola batik kuno, yang kini, menjelma menjadi aneka pakaian modern. Kisah berikut adalah kisah pengusaha wanita asal Tuban. Pengusaha asal Tuban pemilik Batik Gedog asli Tuban, Jawa Timur, yang jika dirunut akar tradisinya begitu dalam. Pada jamannya, sebelum dipopulerkan pengusaha ini, awalnya Batik ini digunakan sebagai syarat pernikahan.

Seorang pria diharuskan membawa 100 kain batik tersebut. Kesemuanya harus punya cora  berbeda agar bisa melamar seorang gadis. Masih terngiang diingatakn Uswatun Hasanah, yang sekarang sudah berumur 41 tahun, disaat masih kecil mengingat betul bagaimana ibunya tengah membatik. Batik Gedog dimana berasal dari tradisi kini sudah tak ada lagi sejak tahun 1970 -an. Tradisi tersebut hilang ditelan perubahan jaman. Tapi coraknya masih terngiang dalam benak Uswatun kecil.

Dari 100 kain batik Godog punya arti sendiri- sendiri. Pada tahun 1990 -an, ia melihat batik itu kembali, dan ingatannya kembali ketika masih kecil. Batik Gedog peninggalan neneknya masih tersimpan rapi. Dia pun lantas belajar membatik. Ingin mengembalikan tradisi yang telah lama hilang. Dan, tentunya itu dengan cara sendiri, yakni dengan cara menjadi pengusaha batik.

"Awalnya di sini orang- orang hanya bisa menenun. Semua saya mulai dari nol. Saya mulai mengumpulkan 20 anak- anak putus sekolah," ujarnya.

Sayang, eh, apa- apa yang dimulainya tak semudah diharapkan. Mengajari mereka membatik justru hasilnya yaitu kain- kain rusak. Dia tak mau menyerah. Uswatun bahkan rela menjual rumah warisan ibunya.

Usahanya membangun bisnis Batik Sekar Ayu tak sia- sia. Akhirnya pada tahun 2000 -an, Uswatun lantas mendapatkan suntikan modal dari PT. Semen Gresik. Usahanya itu menjalar bahkan sampai ke pulau Bali sebagai basis besar bisnisnya. Usaha tersebut memang sukses. Hingga, pada bulan 1 Oktober 2005, sebuah pristiwa mengguncang laju bisnisnya. Ada apa? Pada saat itu ada pristiwa Bom Bali II, efeknya bagi bisnis Sekar Ayu adalah seretnya permintaan dari Bali.

Bangkit kembali


Kejadi Bom Bali II merusak sektor bisnis pariwisata di Pulau Dewata. Alhasil, Uswatun yang basis bisnisnya disana, juga kena imbasnya. Bahkan ia menjelaskan dari sanalah 40% produksinya tersedot dipasarkan. Dia mengaku sempat tertatih- tatih menghadapinya. Ia akhirnya limbung di tahun 2007 -an. "Saya angak tangan. Pembayaran macet semua," tambahnya. Ini adalah kebangkrutan pertama dilalui seorang pengusaha asal Jawa Timur tersebut.

Ada cicilan yang belum lunas kepada PT. Semen Gresik Tbk. Dimana dirinya mendapatkan bantuan modal kemitraan. Padahal perlu kamu tau dirinya tak pernah telat membayar cicilan. Dia, akhirnya, mulai melakukan yang terburuk yaitu merumahkan pegawainya. "Akhirnya saya beranikan menghubungi pihak Semen Gresik, saya menjelaskan apa adanya," jelasnya kepada Kabarbisnis.com. Alhamdulillah... bisnisnya justru dapat perhatian, bahkan, pihak Semen Gresik menyemangatinya.

Mereka bahkan mengeluarkan bantuan modal. Total 150 juta digelontorkan oleh Semen Gresik kepadanya sebagai modal usaha kembali. Uswatun tertantang kembali bangkit. Bahkan ia kembali aktif mempekerjakan tetangga sekitar. Luar biasa memang kekuatan wanita yang satu ini. Bisnis Batik Sekar Ayu perlahan tapi pasti mulai bangkit kembali. Bisnis yang awalnya dimulai dari usaha rumahan sang nenek di 1984, dulu, cuma mempekerjakan sepuluh orang.

Kini, usahanya menghasilkan omzet minimal Rp.200 juta per- bulan, dengan karyawan mencapai 400 orang sekarang. Tak mau berputus usaha bagi pengusaha ini merupakan kunci sukses.

Pada 2000, ia memberanikan diri mengajukan pinjaman kembali, setelah lunas sebelumnya tentunya. Yakni modal Rp.25 juta. Pemasaran batiknya juga tak lagi berfokus pada Bali. Dia menyebut ada di Surabaya, Bali, Yogyakarta, Jakarta hingga Batam. Sudah ada 200 motif batik dikembangkan olehnya. Dimana motif uniknya bertema buah dan tanaman lokal, seperti kates gantung atau pepaya gantung, dangkel sungsang atau bunga cempaka.

Unik, Uswatun juga memberikan kesempatan anak- anak sekitar. Dia mengajak ibu- ibunya, dan juga anak- anaknya untuk membatik. Meski hasilnya belum berhasil dirinya tetap memberikan upah. Setelah lama sejak kebangkitan bisnisnya, ia mendapat banyak penghargaan, seperti Upakarti 2010 yaitu kategori pelestarian. "Alhamdulillah sudah bertemu Presiden SBY, pameran di beberapa negara di Swedia, Thailand, Belanda, dan pernah berangkat sendiri ke Kamboja," ujarnya.

Dalam sebulan omzet Uswatun adalah antara 100 juta hingga Rp. 250 juta. Bahkan yang tertinggi, jelasnya ke awak media, bisa mencapai 450 juta. Yakni batik kuno yang perlembarnya ditaksir Rp.100 juta oleh seorang kolektor, dimana ia menyimpan 400 lembar. Tapi dia menolak hal itu karena kelak dia berharap beralasan anakanya ingin membangun sebuah meseum batik sendiri. "Anak saya yang SMA punya cita- cita ingin membuatkan museum batik," jelasnya.

Pernah ditipu


Awal belajar membatik bukanlah tentang bisnis semata. Sejak awal, keluarga Uswatun, pada dasarnya tak spesifik berbisnis. Diturunkan dari satu generasi ke generasi lain demi tradisi. Tak ada arahan untuk dijual, ya, semuanya cuma untuk koleksi pribadi. "Saya lihat koleksi batik nenek saya sampai ratusan. Dari situ saya tertarik untuk membuat sendiri," kata Uswatun, yang telah belajar membatik dan menenun sejak masih kecil. Ada filosofinya ditiap canting ditangannya ketika membatik.

Dimulai dari mengajar anak- anak belajar membatik di tahun 1993. Pada tahun yang sama itu pula, seperti dilansir dari laman Kontan, ia mulai berani menjual batik hasil karyanya. Saat itu menjual batik dalam bentuk kain bahan bukanlah kewajaran atau familiar bagi masyarakat. Oleh karena itulah ia mulai fokus pada batik jadi yakni membuat batik diatas kaus atau kaos. Batik kaos nyatanya, saat itu, kurang diminati masyarakat juga.

Modal cuma Rp.300.000 telah mengempis. Pasar menolak batik kaosnya, dan akhirnya, uang itu hilang dan dirinya praktis juga merugi. Hasil karya tersebut dijualnya murah.

Model bisnis batik Sekar Ayu yaitu melalui penjualan dari pintu ke pintu. Dia belum lah punya mitra untuk menampung batik buatannya. Meski terus merugi tak membuatnya berputus asa. Dibantu oleh ibu- ibu dan anak- anak tetangga terus berkarya sampai sekarang. Pada awalnya, ia pernah meminjam modal 15 juta, tapi sayangnya; ia kena tipu. Hingga jatuh tempo utangnya tak terbayar. Uang tersebut justru dibawa lari oleh patnernya di Bali.

Bisnisnya pun berubah jadi titip tanpa uang muka. Yakni yang dititipi tak perlu membayar hingga jualannya laku terjual. Nah, pada ada Bom Bali, dia mengaku semua titipannya ditolak bayar. Alias mereka para penjual yang dititipi tak mau membayar. Alasanya karena batiknya kena bom. Semua orang yang dititipi juga berkata seperti itu, entah, itu cuma alasan saja atau benar; Uswatun memilih legowo. Total kerugiannya mencapai 25 juta.

Sebagai kompensasi gagal bayar. Uswatun pun haru mengajar membatik. Dia diminta sang empunya kredit untuk mengajar sebagai kompensasi maaf. Di Tuban, ia tak cuma mengajar, tapi juga aktif mencari- cari cara baiknya berbisnis. Dari belajar marketing, manajerial, pengemasan, dan lain- lain. Aneka pelatihan ia jalani di sela- sela mengajar sementara Batik Sekar Ayu tutup sementara. Dia bahkan tak sungkan pergi ke daerah lain, seperti Pekalongan untuk memperdalam ilmunya.

Dengan konsisten fokus usahanya ada pada batik tulis. Berjalannya waktu workshop dibangunnya kembali, dan sukses besar, semua berkat konsisten dan selalu belajar selain pantang menyerah.

Artikel Terbaru Kami