Jumat, 15 Mei 2015

Pengalaman Melanggar Hak Paten Penjual Pecel

 

Profil Wahyu Adji Evrawood


Ada seorang anak bercita- cita jadi pengusaha muda. Ada pula yang baru saja menemukannya ketika dia sudah dewasa. Adapula orang yang selepas keluar dari pekerjaannya menjadi pengusaha. Tepatnya apa yang ingin penulis katakan adalah setiap orang punya fase hidupnya masing- masing. Dan, menjadi pengusaha tak melulu harus dari nol, adapula yang menjadi pengusah sejak kecil. Kisah kali ini ada seorang Wahyu Adji Setiawan.

Sejak SMU sudah berbisnis sendiri, aneka usaha telah dilakoninya sejak masa- masa itu. Prinsip awalnya yakni menjual barang untuk menambah uang saku. Dia mulai berjualan barang- barang mode, seperti kaus, celana ataupun tas. Bisnisnya berlanjut hingga dirinya masuk ke Universitas Negeri Surabaya. Dalam catatan Detik.com, Adji ternyata pernah "mencoba" jadi pegawai. Kenyataanya itu tak berhasil, toh, memang lah hasratnya ada di kewirausahaan.

Berjualan stiker, kaus, bahkan juga pernah berjualan pecel dan crepes. Kisah pun berlanjut bahwa dia juga pernah ditawari menjual 400 tas oleh dosennya.

"Saya terima saja, ketika pulang baru mikir dari mana tasnya," ujarnya kepada CNN Indonesia.

Jiwa pengusaha sudah terbentuk sejak dini. Masalah apapun dihadapinya tanpa ragu. Apapun kesempatan usaha selalu dijalaninya. Ia pernah tercatat sebagai pengelola toko Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di kampusnya. Di toko tersebut Adji menjual aneka barang seperti aksesoris HP, kaos, stiker, dan minuman ringan. Setiap ada peluang selalu siap sedia dilakoninya penuh semangat.

Usaha mandiri



Yang terbesar dia pernah menyanggupi mengadakan barang buat kampusnya. Pengadaan atau pun tander kaus untuk mahasiswa baru. Dia berhasi memenangkan tender senilai 1.200 kaus. Caranya memenangkan tender terbilang unik. Karena sebagai mahasiswa, dia sama sekali tak punya pabrik sendiri, cuma bermodal pesan ke konveksi yang dikenalnya. Sayangnya, usahanya tak berjalan sesuai rencananya.

"Uang muka tak cukup karena pabrik minta uang 50%, sementara dari kampus hanya cukup membayar 30% uang muka," jelasnya kepada wartawan.

Disanalah ia belajar tentang 'apa itu negosiasi', dari sanalah cuma bermodal KTP, akhirnya ia sukses untuk memenuhi permintaan pihak konveksi. Ya, Adji tak punya uang sama sekali, satu- satunya cara ialah ia meninggalkan kartu tanda penduduknya. Sukses terbayar semuanya lantas disusul banyaknya pesananan lain berdatangan kepadanya. Kerja keras Adji tercium oleh dosen dikampusnya. Dia ditantang untuk masuk ke bisnis tas, yang mana seperti penulis ceritakan diatas.

Tahun 2006, seorang dosen menawari pria asli Kebumen, 10 Maret 1986, ada orderan tas yang perlu ia penuhi. Adji sama sekali tak menolak tantangan tersebut. Tanpa pikir panjang disanggupinya, kemudian ia memesan tas dari Tanggulangin, sentra produksi tas di Sidoardjo, Jawa Timur. Mulailah pengalamannya masuk ke bisnis tas semakin dalam. Semakin dalam masuk membuat itu menjadi passion -nya hingga sukses seperti sekarang.

Lebih mudah


Ada perbedaan antara berbisnis tas dibanding kaus jelasnya. Terutama jika berbicara tentang ukuran kaus yang harus pihak konveksi produksi. Sering akan terjadi revisi disoalan ukuran pesannan. Akhirnya, Adji memilih fokus pada satu bisnisnya, yakni memproduksi berbagai macam tas.

Memulai usaha sejak dini membuatnya mudah beradaptasi. Hanya ingin punya tambahan saja, awalnya, ia pun lantas memilih fokus pada usahanya sendiri. Berbeda dengan teman- temanya dimana selepas kuliah jadi pegawai. Sebetulnya ia sendiri pernah melamar kerja loh. Pernah terpikir untuk kerja sambilan saja dibanding kesana- sini mencari orderan. Total 5 buah lamaran sudah dikirimnya. "Untung gak diterima, kalau diterima saya enggak mungkin seperti ini," selorohnya.

Pria plontos ini memang lebih senang berjualan. Faktor efisiensi seperti soal ukuran menjadi alasan memilih berbisnis tas. Tak perlu memproduksi ukuran S, M, L, XL dan sebagainya. Tas itu enggak ada ukurannya, ujar Adji. Kelebihannya yang lain dari pengalamannya adalah segi bahan mudah dihitung. Soal penjualan, ia menjelaskan itu lebih mudah terjual, kalau pakaian kan soal ukuran. Jika ukurannya tak sesuai, bisa saja tak laku terjual.

Selepas kuliah langsung lah Adji mengajak temannya serius berbisnis. Langkahnya tersebut berbekal sudah berbekal pengalaman panjang. Sayangnya, ketika sukses punya usaha sendiri, bernama Ortiz, disaat itupula serbuan produk asing melanda. Ada merek- merek seperti Adidas, Nike, dan lain- lain sudah merajai pasar lokal kita. Tak pantang menyerah, Adji optimis kepada bisnis lokalnya, selain bersaing dengan merek- merek itu. Adapula merek- merek lokal mesti dihadapinya.

"Kelemahan waktu itu branding -nya. Waktu itu orang pikirannya merek itu nomor satu. Adidas bikin kantung  plastik pun laku mahal dijual. Beda dengan lokal meskipun produknya berkualitas," ujarnya lagi, menambahkan realita kewirausahaan sekarang.

Fokusnya adalah menyasar perusahaan- perusahaan. Gunanya adalah memenuhi permintaan mereka, yang rata- rata, ada untuk kebutuhan pegawainya. Sebut saja ada sebuah perusahaan Surabaya yang memasan tas darinya, untuk tas bepergian ataupu buat umroh dan haji. Seiring waktu semakin banyak pesanan datang ke padanya. Adji sebagai pemilik merek mulai kesulita ketika berhubungan dengan pengrajin. Ya, susahnya untuk mengatur mereka karena bukan pegawainya.

Hal- hal seperti keterlambatan memenuhi pesanan mulai terjadi. Untuk mendapatkan industri yang mau kerja untuk mereknya juga gampang- gampang susah. Mereka akan memilih mendahulukan pesanan besar, dan masalahnya ialah kala itu Adji baru saja memulai. Untuk itulah ia menerapkan konsep perjanjian dimuka, agar mereka mengerjakan pesanan miliknya tepat waktu.

"Salah satu pasalnya, jika terjadi keterlambatan, kami akan mengutip denda," terang Adji.

Dari sekedar membuatkan tas travel atau memenuhi kebutuha perusahaan, Adji ingin punya brand sendiri, akhirnya, ia punya brand fashion -nya sendiri yakni Ortiz. Merupakan tas kasual bagi kamu yang mana pasar produknya manyasar Malaysia dan Singapura. Sebagai pengusaha pemikirannya berkembang, kesemua itu demi keberlangsungan usahanya. "Idealisme saya sangat tinggi saat itu, ingin punya merek dengan desain sendiri," ungkapnya.

Jiwanya merasa tertantang untuk membangun brand -nya sendiri. Karena memang dirinya merasa senang untuk membuat desainnya sendiri. Tidak monoton seperti apa yang dipesannya dari konveksinya. Awal 2010 barulah merek Ortiz dipasarkan. Sebelum satu tahun berjalan bisnis barunya. Ada masalah, yakni masalah pelanggaran hak paten, pasalnya merek dagang Ortiz sudah dipatenkan. Yakni oleh perusahaan asal Spanyol dimana memberinya somasi langsung.

Dalam pasalnya disebut bahwa ia wajib menarik semua produk bermerek Ortiz dari pasaran. Jika tidak dilakukannya segera, bukan main akibatnya, yaitu dalam dua bulan jika tidak ditarik maka: Adji akan dituntut sebesar Rp.7 miliar. Padahal ketika itu dirinya sudah mendapatk kontrak 6.000 tas selama setahun. Dia pun menark kesemua produknya. Sebagai efeknya, Adji harus menanggung kerugian, yaitu kerugian dari kontrak itu sebesar Rp.600 juta.

Mungkin karena fokus Adji pada pasaran asing, makanya produknya itu menjadi sorotan pemilik brand. Di penelusurannya, dia menemukan bahwa mematenkan brand itu penting. Dalam hal ini jikalau kamu mau membuat paten Internasional maka di Singapura lah jalannya. Kembali ke bisnisnya, fokus pada pasar di luar negeri, Adji memandang di luar pemikiran orang Indonesia. Faktanya orang Indonesia memang selalu melihat merek bukan kualitas.

"Jadi, standar kualitasnya internasional," kata Adji.

Berkat kasus pelanggaran hak paten, Adji baru tau "dari situ baru saya tau, pendaftaran paten yang diakui secara internasional harus di Singapura." Akibat pristiwa tuntutan tersebut makalah ia harus membatalkan nilai kontrak vendor. Adji terpaksa berhenti berproduksi selama dua bulan. Banyak tagihan vendor dan juga pemasok barang banyak tak terbayar kenangnya. Tak mau terpuruk lama makalah ia mengunjungi pihak- pihak terkait.

"Kalau bahasa bisnisnya itu potential loss. Saya harus bayar ke mereka Rp.600 juta karena saya gagal untuk memenuhi target 5.000 tas yang mereka pesan," jelasnya.

Dia meminta tenggang waktu kepada vendor. Meminta untuk bisa membayar mundur. Modalnya hanyalah satu yakni kepercayaan diri yang tinggi. Selain itu karena selama berbisnis tidak ada masalah. Adji yang juga menjaga kepercayaan mereka. Jadilah ia dibolehkan membayar mundur. Bahkan, tidak hanya itu, ia diberi modal berupa pinjaman bahan baku untuk memproduksi kembali. Untuk kali ini, awal 2011, pengusaha muda yang satu ini memulai kembali.

Dari nol usahanya punya brand terbaru yakni Evrawood. Bahkan untuk menanggulangi hal- hal sebelumnya, maka, ia langsung bergegas mendaftarkan paten ke Singapura. Dia lantas merekrut orang- orang baru. Dia fokus pada kualitas bahan serta cara pembuatannya. Bahkan agar semakin cepat laris produk Evrawood membari garansi tiga tahun, ujar pengusaha 29 tahun tersebut. Selain di Indonesia, tas kasual urban ini, telah dipasarkan ke Jerman, Belanda, Singapura, dan Malaysia.

Kapasitas produksinya mencapai 1.000 item, jikalau di dalam dijual dikisaran 400.000, maka pasaran di luar negeri akan mencapai Rp.1,8 juta- Rp.2,5 juta.

Artikel Terbaru Kami