Rabu, 13 Mei 2015

Cilok Mochi Inovasi Imanuddin Pengangguran


Agar tetap punya uang selepas berhenti bekerja, Imanuddin haru memutar otak, bahkan sampai 180 derajat dari biasanya. Pemuda satu ini pernah bekerja sebagai seorang desain grafis. Pekerjaan monoton di sebuah perusahaan di Bandung. Memilih keluar tidak semerta Iman langsung menemukan suksesnya. Butuh waktu, serta cara unik, yang akhirnya membawa namanya menjadi pengusaha beromzet 15 juta per- hari.

Kalau pun gaji naik, tapi gajinya paling naik sedikit keluhnya kepada Detik. Apalagi menurutnya di kawasan Bandung pekerjaan desain grafis kurang dihargai. Menjadi lah wirausaha pilihan utamanya selepas keluar dari perusahaan. Sayangnya, tak semudah membalik telapak tangan menjadi wirausaha sukses. Pasalnya dia tak berbekal apapun ketika memutuskan jadi pengusaha. Dua bulan sudah dirinya menganggur dan tak ada ide bisnis apapun yang cocok.

Sampai ketika ide itu muncul sendiri tanpa diduga- duga.

Bisnis mochi


Bukan sembarang mochi karena idenya datang dari jajanan cilok Loh kok? Alkisah, pada suatu sore di tahun 2012, ketika dirinya melamun di sore hari karena menganggur. Kakaknya datang berkunjung membawa satu makanan khas Bandung, cilok. Makanan terbuat dari aci asli Sunda, yang berbuat dari tepung sagu. Jajanan anak- kecil hingga dewasa yang disuguhkan layaknya bakso tusuk. Ditusuk- tusuk kemudian dibumbui saus tomat ataupun bumbu lain.

Masa mengganggur itulah yang terberat. Hingga ide itu muncul, Imanuddin mengaku cuma bisa melamun, duduk- duduk didepan layar komputer. Dalam pikirannya bercampur bahasa Sundakan, "kumaha carana ya untuk membuka peluang usaha? Intinya ia ingin membuka ide sendiri dan pekerjaan sendiri. Nah, seperti tadi penulis jelaskan diatas. Kakak iparnya tepatnya menyuguhinya jajanan cilok. Ternyata cilok buatan sendiri itu enak ternyata.

Akhirnya, pria lulusan SDN Banjarsari, SMPN 5 Bandung, dan SMAN 19 Bandung, ini akhirnya berniat membuat jajanan khas anak SD tersebut. Namun, kalau cilok bumbu kacang mah udah biasa katanya dalam hati. Itu terlalu mainstream kata orang jaman sekarang. "Saya mah ingin menciptakan jajanan khas rakyat itu menjadi sesuatu sajian yang baru," jelasnya. Disaat itu dalam benaknya jualan cilok kurang menarik, tidak ada perbedaan dalam penyajian dan rasanya.

Selain dari rasa ciloknya Imanuddin juga menyoroti pada sausnya. Itu- itu saja jelasnya kembali di sebuah artikel. Ingin ada trobosan terbaru tidak cuma membuat cilok direbus, lalu dikukus, tapi membuatnya jadi cilok bakar. Langkah awalnya adalah menemukan komposisi pas serta resepnya.

Iman ingin mengangkat derajat cilok. Kendati belum terpikirkan caranya tapi langsung saja membawanya ke media sosial. Inilah marketing unik cara Imanuddin: Pada Januari 2012, diluncurkannya terlebih dahulu brand miliknya Mochilok. Maksudnya adalah untuk memancing reaksi pasar. Apakah ini mochi atau cilok, kalau penulis bisa asumsikan kedua nama itu memang saling bertautan; jadinya ya unik. Nah, selepas melempar bola panas tersebut barulan Iman mancari resep.

Trial- error


Melalui berbagai pecobaan layaknya ilmuan. Iman bermodal koneksi internet mencoba mewujudkan menu- menu dalam benaknya."Cilok naik kelas," imbuhnya. Tak lengkap rasanya dalam benaknya cilok asin jika tak ia sandingkan rasa manis. Ketemulah ide tentang mochi, yang kebetulan nyambung dengan kata cilok, dan jadilah mochilok. Keduanya memang berbeda asal dan konsep. Berbekal imajinasi yakni mau membuatnya jadi seperti martabak mulailah Iman mencoba.

Namanya Mochilok, kan Ci bertemu kata Ci lain, yang mana digabungkan berbunyi enak.

Karena sudah tau mau bisnis apa. Dia mengalami kesulitan terutama soal mochi. Kalau cilok mungkin bisa ia pahami tapi bagaimana dengan mochi. Karena berlatar belakang desain grafis bukannya mencari resep dulu. Ia malah bikin logo bisnisnya. Logo tersebut dipasarkan melalui media sosial, adapula yang dirubahnya jadi gantungan kunci dan stiker. Semua dibagikan ke masyarakat secara cuma- cuma. Tanpa berucap satu kata pun apa itu Mochilok, inilah 'gong' marketingnya, dimana orang menunggu- nunggu.

Sambil berjalan berguru mencari resep mochi dari mbah internet. Total enam bulan lamanya hingga ia bisa membuat mochi. Berkali- kali mencoba, berkali- kali pula kegagalan menemuinya. Hingga dalam perjalanan ide cemerlang timbul; kita ganti isinya. Jikalau sebelumnya mochi berisi gula kacang merah, ditangan Iman itu jadi ice krim.

"Enam bulan saya trial and error. Tapi saya tak menyerah, sampai akhirnya ketemu resep mochi dengan isi es krim," ungkapnya.

Cuma iseng aja mencoba apa- apa yang ada dibenaknya. Hasilnya? Ternyata berdampak positif dalam hal kemajuan usahanya. Ketika baru dibuka, secara resemi, mochilok sangat disambut positif. "Mereka bilang, ooh ini Mochilok? Saya pernah liat logonya," begitu kiranya ungakapan mereka yang baru datang, di awal pembukaan Iman telah menang berkat marketing jitu. Meski sudah jalan bukan tanpa kendala, kendalanya ialah modal sudah kehabisan.

Modal awal 5 juta ternyata dirasanya kurang, cuma cukup dibelikannya freezer, peralatan, dan bahan baku untuk mochi dan cilok. Sambil berjalan hitung- hitunganya diperketat lagi. Agar lebih efisien dan untung lagi begitu jelasnya. Menjadi salah satu perhatiannya ada pada kemasannya. Karena mochinya berisi es krim, maka mudah cair, butuh sesuatu agar bisa awet. Secara aktif Iman memperhatikan bagaimana para pedagang es krim menjual barangnya.

"Dari situ saya belajar pengemasan dan pengirimannya," ujarnya pasti.

Marketing jitu

Soal kemasan sebagai seorang desain grafis menjadi andala. Itulah kiranya yang penulis baca dari cara bisnis Kang Imanuddin. Dimulai tepat 8 Jun 2012, gerai pertamanya dibuka di kawasan Jalan Kubang Sari 7 No. 42, Bandung. Modal awalnya seperti disebutkan diatas 5 juta rupiah, Iman menjual 50 cilok dan mochi isi es krim aneka rasa jelasnya. Hanya dalam sebulan saja sudah bisa begitu besar hasilnya. Tercatat sudah ada 7 gerai Mochilok di Bandung saja.

Rasa yang semakin beraga membuat usahanya semakin laris. Uniknya, kedua makanan utama yakni cilok dan mohci, Iman suguhkan secara bersamaan. Yakni cilok barbeque dilumuri mayonnaise, disuguhkan juga mochi es krimnya dengan aneka isian. Berjalan waktu bisnisnya bisa menjual 7.000 buah mochi dan juga 3.000 -an cilok. Untuk meningkatkan penjualan, sekaligus menjadi brand awareness Iman sendiri langsung jemput bola. Melalui layanan delivery order membuat usahanya lebih pesat lagih.

Dimulai ketika itu pada bulan Juni- September, efeknya ternyata sangat memuaskan, utamanya karena pada bulan- bulan itu adalah hari libur mahasiswa. Kang Iman memastikan bahwa kamu akan bisa menikmati hangatnya cilok dan dinginnya mochi kapanpun. Layanan tersebut bahkan sudah diaplikasikan ke semua cabangnya. Hitungannya ialah jarak yakni dari Rp.5000- Rp.20 ribu, untuk pembelian minimal 10 buah cilok dan mochi.

Kendati persaingan mulai keras, banyak sudah makanan sama persis, bahkan diberi nama sama Mochilok telah bermunculan; Imanuddin tak gentar. Ia tetap percaya diri dan tidak mempermasalahkan orang lain ikut- ikutan mengenakan brand -nya. Dia percaya kualitas usahanya lebih dari apapun. Tak cuma hanya dikenal di penjuru Bandung, dari luar pun, banyak orang datang untuk mencicipi produknya. Apa yang terbaru dari usaha miliknya adalah menggabungkan cilok dan ramen.

Soal omzetnya, ia mengatakan kepada media, bahwa saat ini usahanya menghasilkan Rp.15 juta per- hari. Ia menyebut itu jika tak hujan. Soalnya ketika musim hujan penjualan mochi akan menurun. Lebih banyak yang membeli ciloknya. Menurutnya adanya persaingan adalah mendorongnya untuk lebih inovatif. Yang hebat itu bukanlah apa yang kita jual, tapi ide baru apa yang kita wujudkan. Jika ada orang yang meniru, buat sesuatu yang baru, jangan berhenti berinovasi.

"Yang penting mental, jangan takut persaingan," tutupnya.

Artikel Terbaru Kami