Selasa, 12 Mei 2015

Bunda Yeni My Darling Sampah Plastik Jutaan Rupiah

 
Sampah bukan lagi identik sebagai masalah tapi peluang. Jadi peluang bisnis untuk beberapa pengusaha, dan bisa mencapai angka miliaran rupiah loh. Untuk kali ini, kisah seorang wanita 32 tahun, yang bernama lengkap Yeni Mulyani Rondonuwu Hidayat, A.Md. Merupakan pendiri dan sekaligus penggagas usaha yang berbasis sosial, My Darling. Yang jika dipanjangkan berarti Masyarakat Sadar Lingkungan. Sebuah usaha yang bermodal sampah dari masyarakat luas, Jawa Barat khususnya.

Menurut sumber Detik.com, kisahnya bermula, ketika puncak kekesalannya akan sampah. Dia melihat ada sampah berserakan dimana- mana. Perasaan kesal bergumam dalam hatinya. Hingga, mendorong Yeni untuk mengumpulkan sampah- sampah tersebut. Mulai dari sampah botol plastik, botol minuman ringan, koran bekas dan segalanya. Itu  kemudian dijadikan satu entah apa yang akan dilakukannya.

"Awalnya dari kesal melihat sampah, gemes melihat sampah di jalanan, jadi saya di mana pun, ke mana pun, kalau melihat sampah pasti saya pungut," ungkapnya.

Tentu hal tersebut dipandang aneh oleh orang sekitarnya. Kegiatan mengumpulkan sampah wanita nyentrik ini jadi sindiran bahkan hinaan "gila". Bahkan beberapa orang memanggilnya pemulung. Tapi justru itu malah membuat Bunda Yeni menjadi bangga. Tumpukan sampah tersebut benar membuatnya "gila". Wanita asal Cianjur, Jawa Barat, ini kemudian menemukan ide menyulap sampah. Menyulapnya menjadi aneka produk seperti bros, tas, tikar, topi, jam dinding, tempat pensil.dll.

Perlahan tapi pasti apa yang dibuatnya menarik hati masyarakat. Bermodal mulut ke mulut dijualah produk- produk unik tersebut. Sejak memulai usaha tersebut sudah ada 4 orang ikut membantu wanita, yang jika kami amati, sekilas nyentrik seperti Menteri Susi.

Perusahaan sampah


Didirikanlah sebuah perusahaan kecil- kecilan di kawasan Halimun, Setiabudi, Jakarta Selata, yang ia lantas namakan Bank Sampah My Darling. Tepatnya berada di Jalan Sultan Agung No.20 RT. 001/01 Kalurahan Guntur, Kecamatan Setiabudi, Kota Jakarta Selatan. Telah diresmikan oleh Walikota -nya sendiri pada 14 September 2012. Namanya Bank tugasnya memang mengumpulkan. Bedanya jika Bank Sampah adalah yang mengumpulkan sampah.

Sampah tersebut diolah menjadi bahan baku aneka produk kreatif. Akhirnya bisa diolah menjadi tas- tas unik yang tak bisa kamu temui di toko- toko biasa. Yeni sendiri bertuga menjadi Direktur di Bank miliknya sendiri.

Dibantu oleh 4 rekannya, yang masing- masing kebagian menjadi Sekertaris, Manager Keuangan, Bagian Penimbangan, dan Pengepakan. "Saya sarjana Perbanas. Cita- cita saya tercapai beneran jadi direktur tapi jadi direktur Bank Sampah," kata Yeni sambil tertawa kecil.

Produk yang dihasilkan dijual dengan aneka kisaran harga. Misalnya ada bros dari botol air mineral yang ia jual seharga Rp.5000, kalung dari koran bekas yang dibandrol harga Rp.50.000. Kemudian ada pula tempat pensil dari koran bekas seharga Rp.17.000, namun ada pula yang seharga Rp.35.000. Kemudian ada tempat tisu yang seharga Rp.95.000, mengejutkan bukan? 

Yang paling menarik ialah tikar dari plastik kopi, yang mana panjangnya mencapai 1 meter. Tikar itu terbuat dari 1.963 bungkus kopi yang mana dipatok harga Rp.200.000. Adapula tas dari botol minuman dibandrol sama. Untuk tas dari bekas botol minuman dibutuhkan 200 helas minuman kemasan. Tas tersebut bisa lantas dijual seharga Rp.300.000- 400.000. Berbicara soal omzet, Yeni menuturkan, dirinya dan kawan- kawan bisa meraup omzet Rp.15 juta per- bulan.

Pasarnya dijual hingga ke luar negeri yakni Darwin, Australia, Belanda, Amerika Serikat, Inggris, Singapura, Malaysia bahkan Nigeria. Moto Yeni sendiri adalah bagaimana merubah sampah menjadi gaya hidup. Yakni kita harus bersahabat dengan sampah karena itulah solusi sampah.

Produk unik


Jangan salah terbuat dari sampah bukan berarti menafikan keindaha. Bunda Yeni memang punya jiwa seni yang mana terpancar dari karya- karyanya. Awalnya, dia cuma memakainya sendiri, membawa tas terbuat dari plastik bekas itu kemana- mana. Hingga tiba- tiba ada seorang bule Prancis mendekatinya. Ketika itu, dalam tulisan sebuah blog nurulhoeda.blogdetik.com, sang Bunda Yeni sempat kepedean karena memang si bule ganteng.

Sempat merasa mau didekati, eh ternyata, ia cuma tertarik dengan tas plastik tentengannya. Langsung saja, si Bule itu menyebut How much? Berapa harganya itu kiranya apa yang coba ia lontarkan. Karena memang tak berniat menjual, ia nyeletuk sedanya, "seven hundred thousand rupiah" jawabnya. Tujuanya sih agar si bule tak berani membayarnya. Ternyata malah kebalikannya yaitu langsung keluar kontan; tanpa menawar lagi. Si bule sendiri sadar bahwa tasnya terbuat dari sampah kertas.

Menurut penjelasannya itu merupakan bentuk apresiasi akan konsep green. Yakni Yeni telah mengimplentasi apa yang disebut re- use. Ternyata diluar dugaan, di luar negeri, justru produk- produk seperti ini sangat lah diapresiasi.

Ia cumalah ibu rumah tangga biasa. Cuma saja ada mimpinya untuk menjadi direktur yang belum tercapai. Itu adalah obsesinya yang terbawa hingga My Darling berdiri. Sebuah kepedulian akan lingkungan yang mana nilai tambahnya adalah uang. Tujuan utamanya adalah mengolah sampah sehari- hari. Di belakang rumah, di garasi rumahnya, Manggarai Jakarta Selatan, dia mengumpulkan sampah- sampah plastik. Sampah- sampah itu dihargainya uang, dimana sampahnya akan diolah kembali.

Artikel Terbaru Kami