Sabtu, 30 Mei 2015

Peternak Bebek Muda Dewa Duwe Duck Bali

Profil Pengusaha Sukses: Dewa Gede Putra



Ada gak anak muda berminat menjadi peternak? Jawabanya ada, dari beternak lele kemudian ada pula yang beternak bebek. Salah satu pengusaha peternak bebek unik. Adalah sosok Dewa Gede Putra Darmawan, anak muda asli Bali, yang memilih "pekerjaan orang tua". Bermodal inovasi dan kreatifitas hasilnya ternyata cukup mengejutkan loh. Dikutip dari laman Bisnisbali.com, Putra sendiri adalah putra asli daerah Br. Pabean Ketewel, Sukawati, Gianyar, sukses bermodal minim.

Kelahiran 21 September 1984, anak muda ini memulai sebuah peternakan bebek sejak 2009 -an lalu. Dewo begitu panggilan akrabnya, mengatakan, untuk sukses berbisnis bebek tidak lah sukar. Sayangnya, anak muda jaman sekarang enggan berkotor- kotor. Jelasnya lagi peternak harus terlebih dahulu senang atas apa yang dikerjakannya. Kalau kamu suka lele maka beternak lah lele, kalau suka ayam maka beternak lah ayam, dan lain- lainnnya.

Ketertarikan menjadi peternak sejak lama. Semuanya karena kampungnya sendiri juga sentra unggas. Orang tuanya juga seorang pengusaha pemotongan unggas. Passion -nya beternak membawa dirinya berkuliah di jurusan peternakan.

Usaha pemotongan bebek


Sejak awal usahanya berkat ketertarikannya kepada unggas. Utamanya ketertarikan akan unggas, khususnya unggas bebek, dibawah benderanya bernama Dewa Duwe Duck. Artinya juga bisa berarti Dewa punya bebek yang diambil dari namanya sendiri. Sukses Dewo mampu menjadi suplier tetap bebek untuk kawasan Gianyar, Bali.

"Sejak awal saya memang senang dengan bebek, saya selalu senang melihat bebek," ungkapnya kepada pewarta Detik.com, ketertarikannya akan ternak yang terbawa hingga kampus, kemudian diaplikasikan dalam sebuah kerja praktik lapangan.

Mahasiswa Universitas Warmadewa ini lantas memberanikan diri membuka peternakan sendiri. Semua itu setelah kunjungan praktikumnya ke daerah Mengwi, ke sebuah peternakan unggas khususnya bebek. Dewo memang dari keluarga pengusaha pemotongan unggas. Tapi soal memelihara unggas lain lagi ceritanya. Ini dia pengalamannya memulai beternak bebek: Awalnya, dia membeli 10 ekor bebek anakan, iseng- iseng saja dengan modal cuma Rp.30.000.

Anak bebek atau DOD -nya kemudian diberi pakan ternak berupa konsentrat. Itu dibelinya cuma seharga Rp.20.000 saja. Jadi total modal awal seorang Dewo cukuplah Rp.50.000 untuk berbisnis bebek. Hasilnya tak disangka karena bebeknya tumbuh pesat. Dalam tempo 2 bulan saja, dirinya sudah mampu memetik hasil jerih payahnya, menghasilkan Rp.500.000 atau naik 10 kali lipat. Semenjak kesuksesan pertama itulah ia makin bertekat berbisnis.

Memutar kembali modalnya adalah salah satu cara yang diamini Dewo. Dia memutar uangnya membeli lebih banyak DOD. Kali ini, ia membeli 100 ekor langsung, berharap uang yang diputarnya semakin besar. Namun di pertengahan 2010 -an, usahanya memutar uang dengan 100 ekor nyaris bangkrut. Dalam beritanya dia menyebutkan 40% hasilnya mati. Ia pun berpikir apa penyebab bebek- bebeknya mati. Apakah penyebab kematian bebek tersebut.

Dia mulai membaca aneka buku berternak. Ia mencari- cari kunci jawaban kenapa bebeknya banyak yang mati. Hingga Dewo mengadakan penelitian langsung. Fungsinya untuk memastikan apa yang dibuku benar adanya. Melalui pengamatan langsung lah dirinya menemukan penyebab.

Bisnis bersih


Berdasarkan pengamatan jawabannya ada pada kebersihan kandang. Menurut Dewo penyebab matinya sejumlah bebek karena kabanyakan populasi. Kondisi kandang sempit tak sanggup manampung jumlah lebih banyak bebek. Semenjak hal itu pula fokusnya kemudian adalah menambah jumlah kandang. Ia bahkan rela merogoh kocek 8 juta untuk kandang saja. Kandang permanen tersebut kemudian dikembangkan lagi. Hasil pengembangannya sudah ada tiga kandang siap pakai.

Kandang pun ada pembagiannya sendiri- sendiri. Yakni satu kandang digunakannya untuk bebek berumur kurang dari dua bulan. Satu kandang lagi digunakan untuk bebek berumur diatas dua bulan. Kadang yang berisi DOD atau kurang dari dua bulan berisi 300 ekor, kandang kedua dan ketiga isinya 500 ekor, dan dalam sebulan sudah panen 300 ekor. Sukses Dewo mampu menyuplai kebutuhan bebek di sejumlah daerah di Pulau Bali, khususnya untuk kawasan Gianyar, Bali.

"Margin bisnis bebek itu bisa berkali- kali lipat," ungkapnya.

Dia kini memiliki empat kandang bebek berukuran 4x6 meter. Disetiap kandang sudah bisa menampung 500 ekor bebek. Setiap dua minggu sekali Dewa Duwe Duck mendatangkan bibit baru dari Badung Bali. Dewo bisa memanen bebek setiap seminggu sekali. Untuk kandang ada satu tips lucu darinya, yakni buatlah sebuah kolam kecil di areal kadang, disana bebek- bebek akan bermain air. Ini akan membantu bebek- bebek itu jadi tetap bersih dan tak berbau.

Untuk bau pada kadangnya, Dewo punya cara sendiri, yakni ketika akan memberi pakan di pagi dan sore, ia mencampurkan daun pepaya di pakan ternak. Fungsinya itu untuk membuat kotoran bebek jadi tak berbau. Daun pepeya juga punya khasiat lain loh. Menurutnya bebek yang diberi makan daun pepaya akan lebih empuk jika dimasak. Namun, ia mengingatkan agar porsinya jangan terlalu banyak, untuk bahan pakan lain kamu bisa memanfaatkan nasi sisa.

Pakan utama tersebut didapatkannya dari restoran- restoran sekitar. Jadi modal pakannya bisa dibilang gratis kecuali tambahannya. Yakni tambahan berupa aneka sayuran sisa yang diperolehnya dari pasar. Soal jenis sayurnya itu terserah yang penting harus ada sayurnya. Plus, dia menambahkan, campuran gedebog pisang yang dicacah, yang sudah direbus terlebih dahulu. Menurutnya bebek adalah binatang tahan penyakit. Dari pengalamannya tingkat kematiannya dibawah 10%.

Soal kesehatan terutama mengatasi penyakit flu. Dewo juga punya tips sendiri yakni memberikan campuran daun mengkudu dicampur adonan pakan bebek. Biaya produksinya dari pakan sampai perawatan dalam hitungannya tak mencapai Rp.14.000. Soal bibit di Bali sendiri, banyak sudah orang beternak bebek, beda dengan dirinya mereka masih menjadikan itu bisni sambilan. Sedangkan Dewo memilih untuk beternak bebek secara total. Dia tak melepaskan bebek tapi menempatkannya di kandang- kandang.

Fokusnya adalah membesarkan bebek. Lantas setelah besar, ia memasarkan sendiri hasilnya ke restoran- restoran, pecel lele, rumah makan, pendeta dan lain- lain. Dibanding beternak unggas ayam, berdasarkan pengalamannya, harga bebek hampir tidak pernah turun. Harga jualnya cenderung lebih bagus. Harga bebek dibawah 1 kg berusia kurang dari satu bulan, akan dijualnya seharga Rp.35.000 per- ekor, untuk yang usia 3 bulan dijual Rp.60.000.

"Terus terang saja, saya merasakan kewalahan meladeni permintaan, di wilayah Ubud saja permintaan pasar 1.000 ekor per- hari. Saya baru suplai 100," kata pemuda lulusan S-1 Jurusan Peternakan, Universitas Marwadewa ini.

Berkat keuletan itulah ia pernah menjadi salah satu wirausahawan muda besutan Mandiri. Untuk bisnisnya itu sudah habis 14 juta sudah, cuma untuk membangun kandang bebek bermodal pekarngan rumah. Dewo juga punya mobil pick up sendiri untuk berbisnis. Inti artikel ini adalah beternak bebek tidaklah susah. Soal modal beternak bebek dibuktikan bisa seminimal mungkin asal ada tekat. Bahkan bermodal pangan sampah sudah bisa jalan bisnisnya.

Beternak tak selamanya butuh dana besar jelasnya. Pasar pun tidak cuma Bali saja, di pulau Jawa juga bisa jika kamu mencarinya. Khusus Bali ada perbedaan yakni adanya pariwisata membuat permintaan jadi lebih mudah, ditambah tradisi umat Hindu yang menggunakan bebek. Mereka menggunakan unggas bebek untuk menggantikan angasa dalam ritual ibadah. Terutamanya bebek putih yang melambangkan kesucian terkait Dewa Brahma. Putra dari pasangan Dewa Putu Oka dan Desak Putu Swasti ini tak ada matinya.

Alamat:

Jl. Ida Bagus Mantra, Br. Pabean, Sukawati, Gianyar, Bali.

Artikel Terbaru Kami