Sabtu, 25 April 2015

Membuat Chocomory Bukan Sekedar Meneruskan Bisnis Keluarga

  
Menjadi penerus nama ayahnya sebagai pengusaha cukup menantang. Itulah kesan yang diambil ketika Axel Sutantio diwawancarai pewarta Okezone.com. Unik, karena dia diajarkan untuk tak melanjutkan bisnis sang ayah, Bambang Sutantio, yang dikenal sabagai pemilik Cimory. Ayahnya sudah bergulat sejak 2006 dengan aneka olahan susu. Melalui perusahaan PT. Cisarua Mountain Dairy atau Cimory mencoba mencari sesuatu yang baru. Nah, inilah pekerjaan mereka anak- anak Pak Bambang melanjutkan.

Mereka dibekali ilmu tapi soal produk harus bisa bikin sendiri. Mereka tak hanya diajarkan bagaimana cara berekspansi tapi juga bagaimana membuat produk. Soal produk apanya Axel memilih sama olahan susu tapi beda bentuknya. Anak kedua Pak Bambang dipancing membuat usaha sendiri. Supaya dirinya bisa lebih masuk ke bisnis sains ini.

Ia lantas berpikir, "apa sih bahan baku produk yang banyak di Indonesia tapi masih bisa dikembangkan dari segi produknya?"

Riset berbulan- bulan dilakukannya sebelum memutuskan. Usaha apa yang bisa dijalankan olehnya nanti ke depan. Yang bisa memiliki prospek sebagai bagian dari Cimory. Lahirlah sebuah ide tentang produk olahan coklat. Negara kita merupakan negara penghasil biji coklat terbesar. Rasa ingin taunya begitu menggebu, bagaimana cara mengembangkan komoditas ini.

Bisnis mandiri


Keinginan menggabu untuk masuk dunia coklat. Axel pun mulai belajar tentang komoditi satu ini. Bahan baku sudah melimpah. Tapi apa yang kurang menurutnya adalah olahannya. Padahal di Indonesia adalah nomor 3 disoal memproduksi biji coklat. Dari situlah dirinya bergerak Menyasar daerah pariwisata, coklat buatannya juga spesial, bukan seperti yang biasa ditemukan di mini market.

Menjawab tantangan sang ayah, Axel melakukan semuanya sendiri. Dengan dukungan keluarga ia jadi lebih bersemangat. Pertama kali melangkah dirinya mengaku kesulitan mencai suplier. Susah buat mencari bahan baku coklat yang bagus. Tidak memiliki jaringan produsen coklat membuatnya kesulitan. Bahkan sebagai orang baru di bisnis coklat; Axel disepelekan. "Mereka menilai saya baru mulai, jadi tidak diuruslah, kasar katanya," jelasnya.

Sempat juga beberapa kali dikecewakan suplier asal Indonesia. Axel masih pada tekatnya berbisnis coklat. Ia terus mencari suplier terbaik. Pada akhirnya ia menemukan suplier baik hingga saat ini.

Meski memulai bisnis sendiri bayang- bayang sang ayah menghantui. Tatapan sinis bahwa dirinya cuma jadi pewaris bisnis keluarga menghantui. Omongan- omongan tak enak tersebut bahkan datang dari teman- temannya. Halangan terus menerjang baginya memulai sesuatu yang baru. "Itu adalah fakta. Memang saya tidak membangun bisnis ini dari nol," dengan rendah hati dirinya mengakui. Tapi bukan berarti Axel cukup duduk- duduk santai saja.

Dalam benaknya ayahnya merupakan panutan. Sang Ayah lah yang berlari 100 meter membangun bisnis Cimory dari nol besar. Sementara dirinya tidak bisa cuma tinggal diam. Meski cuma berlari 2- 5 kilo meter tak apa. Yang terpenting adalah keharusan agar bisnis keluarga lebih maju. Bukan lari dengan kecepatan yang sama. Tapi bukankah ada istilah lebih sulit mempertahankan. Sementara Axel ingin lebih dari sekedar bisa mempertahankan. Jadi tak ada hak baik mereka atau kita menila buruk dirinya.

"Itu tugas saya," ujarnya penuh percaya diri.

Pada tahun 2012 usaha pertama digelutinya mulai dijalankan. Hasilnya yaitu coklat aneka cita rasa bernama Chocomory. Sebuah gerai dibukannya di kawasan Komplek Cimory Riverside, Puncak, Jawa Barat. Disana selalu banyak pembeli berdatangan. Brand bernama Chocomory kini menjadi salah satu oleh- oleh yang bisa kamu bawa ketika ke puncak. Pabriknya bisa memproduksi hingga 500kg per0- hari. Coklat tersebut dijual kisaran Rp.2000- Rp.40.000.

Memasuki tahun ketiganya banyak hal telah dicapai Axel. Langkah selanjutnya seperti hal sang ayah yang aktif mengedukasi masyarakat. Ia pun mengambil langkah sama yakni kelas edukasi coklat. Tujuannya untuk memperkenalkan produk coklat asli Indonesia. Agar masyarakat lebih mencintai produk dalam negeri. Dia fokus pada anak- anak TK sampai SMP. Akan ada sejarah coklat, bagaimana cara membuat coklat, itu akan menjadi pengalaman tersendiri.

Artikel Terbaru Kami