Minggu, 12 April 2015

Makna Persahabatan Dalam Pembuatan Growbox Jamur



Apa itu Growbox? Sebuah kotak untuk bercocok tanam. Jangan bayangkan sebuah kota kayu berisi tanah dan didalamnya bisa ditanami. Khusus untuk Growbox, yang sudah dipatenkan, berisi aneka jenis jamur yang punya aneka warna unik. Tenang karena jamurnya aman kok buat dimakan. Sebuah inovasi khas anak muda yang ingin sesuatu yang beda. 

Suatu tanaman hias yang unik dan tenang, ini aman jika termakan.

"Asesoris interior rumah tangga yang unik, hidup, dan sehat untuk dimakan," ungkap Annies kepada pewarta asal Indonesiacareercenter.com.

Usaha berbasis persahabatan yang sudah dimulai sejak bangku kuliah. Mereka total ada empat orang yang mengusung konsep kerja bersama. Dalam sebuah wadah bernama IDEAS Indonesia yang tak terbatas pada produk satu ini. Tapi secara keseluruhan menciptakan perpaduan antara desain, permesinan, seni, dan juga ilmu pengetahuan. Yang menarik ternyata mereka berempat bukanlah berasal dari pendidikan agri. Yap, Annisa sendiri sebagai wanita satu- satunya, merupakan mahasiswi ekonomi.

Sementara itu, ada Adi, Robby, dan Aldi, yang merupakan mahasiswa arsitektur. Mereka juga kesemuanya adalah mahasiswa ITB. Bersama- sama belajar tentang aneka jenis jamur dan cara menanam jamur secara mandiri. "Saya sendiri mendalami ilmu ekonomi, dan belajar soal jamur secara mandiri," ungkapnya. Dengan fasih lantas ia menjelaskan beda jamur beracun- tidak beracun kepada para pewarta. 

Disebuah rumah yang dirubah mereka jadi semacam workshop disanalah IDEA atau kepanjangan Innovation Design, Engineering, Art and Science.

Jamur lucu


Apa yang membuat mereka berbeda adalah kenyataan latar pendidikan mereka. Itupula yang jadi masalah menurut mereka dalam sebuah acara televisi. Mereka sempat dilarang menggarap Growbox loh. Katanya itu cuma buang- buang waktu, bukannya mengerjakan apa yang mereka pelajari, itulah yang dikatakan para orang tua mereka. Juga orang tua kita pada umumnya ketika mendengar kita mau jadi pengusaha. Tapi sama seperti pengusaha muda lainnya mereka memilih tetap berlanjut.

Ada anek jamur yang ditanam melalui media Growbox. Annies menjelaskan ada jamur tiram yang biasanya dijual di pasar atau swalayan. Adapula jenis jamur lain yang mana aman ditumbuhkan; seperti jamur tiram kuning, pink, biru, coklat, dan hitam. Warnanya yang mencolok menjadikan Growbox ini digemari sebagai produk hiasan. Denga media terencana ini, kamu bisa menumbuhkan jamur dalam waktu 2- 4 minggu, dan kamu bisa langsung makan.

"Kami sengaja menyarankan penggunaan air, agar proses tumbuh jamur ini murni dan bebas dari hormon," ungkapnya.

Awalnya, pada tahun 2012, empat bersahabat ini tengah menikmati liburan ke Yogyakarta. Mereka sedang merayakan kelulusan kuliah mereka. Annisa jadi pertama yang terpana akan berbagai macam jamur. Saat itu, di sebuah rumah makan, ada ornamen lucu terbuat dari jamur terpasang di dinding- dinding. "Kok lucu banget, ada media tanam jamur- jamur yang digantung di restoran," kenang Annisa. Waktu itu belum ada pembicaraan tentang berbisnis Growbox.

Meski belum ada pembicaraan mereka berempat sepakat dalam satu hal. Yaitu bagaimana agara mandiri selepas menyelesaikan pendidikan masing- masing. Selepas makan mereka lantas berkunjung ke sebuah taman...

Disana terjadi sebuah pembicaraan ringan antar calon arsitektur. Para calon- arsitek ini berbincang tentang sangat suburnya tanah Indonesia. Kemudian merembet ke bagaimana tanah bisa diolah agar memiliki nilai ekonomi tinggi; untung kalau dijual. Indonesia tanahnya subur kok sayang jika dibangun rumah semuanya. Itu kirannya kesimpulan pembicaraan tersebut. Muncul pemikiran tentang pekerjaan petani. Dimana para petani itu dikenal lusuh, kotor, dan tidak bergengsi.

Siapa anak muda yang mau jadi petani? Itulah apa kesimpulan mereka dari pembicaraan tersebut. Mereka berpikir kuliah tinggi di Bandung, selepas kuliah, lantas jadi seorang petani. "Apa kata dunia, kalau nanti profesinya petani," pikir para arsitek muda.

Mereka lantas berpikir banyak dari makanan, laha, pertanian dan kolaborasi arsitektur. Annisa ikut nimbrung membahas bersama menghabiskan waktu berjam- jam. Lalu, terbersitlah kenangan Annisa terhadap hiasan- hiasan diata restoran tersebut. Empat bersekawan lantas setuju berkunjung ke sentra jamur tiram di kawasan Bandung. Kunjungan mereka bukanlah untuk berwisata. Mereka murni belajar tentang jamur, bagaimana teknik pembibitan, pembuatan media tanam, dan hal- hal lain.

Berempat sepakat membagi- bagi tugas selepas pulang dari sana. "Kami harus membuat prototipe sendiri- sendiri. Kebetulan rumah kami tersebar di Utara, Selatan, dan Timur yang berbeda kondisi iklimnya," tutur Annisa menjelaskan. Ia pun akhirnya tau kalau jamur juga seperi hewan. Mereka (jamur) butuh oksigen bukanlah karbondioksida. Mereka juga butuh sinar matahari tapi bukan matahari langsung. Beda kan dengan tanaman pada umumnya?

Hasil penelitian masing- masing dipertemukan dalam satu diskusi kembali. Pengalaman mereka menanam jamur sendiri dibincangkan kembali. Ini sebuah cara untuk mengenal sifat jamur. Lantas, mereka berpikir agar bagaimana citra petani berubah. Karena kini mereka lah yang akan jadi 'petaninya'. Di sinilah sumber pengalaman arsitektur tiga orang, Aldi, Adi, dan Robby mulai digunakan. Untungnya si Robby ini suka segala pekerjaan tukang.

Ia lantas mengambil bahan kardus sebagai pot bukan pot plastik. Dalam tempo singkat setelah beberapa kali disempurnakan jadilag Growbox. Sebuah kotak tanam dari kardus memiliki dua lubang dan tali dipinggirnya. Kemudian didalamnya diisi baglog dan ditambah sebuah tempat semprot spray. Awalnya sih, tidak ada satupun tempat untuk spray, maka sering tejadi kehilangan begitu jelasnya. Adanya alat tempat spray itu akan membuat konsep jadi ergonomis satu kesatuan.

Termasuk juga talinya agar bisa ditentang- tentang ke mana- mana. Semula talinya ditaruh di tengah, tapi karena tidak berfungsi baik, maka konsep tali ditengah tersebut dipindahkan. Lalu berkonsep dua lubang di sisi kana- kiri akan memberikan pengalaman bercocok tanam. Bisa ditaruh jika tidak lah perlu digantung- gantung lagi. Fungsi sisi lainnya ialah untuk bernafas si jamur sendiri atau mungkin bisa tumbuah dari sana.

Konsep awal Growbox itu sangat sederhana. Kotak cuma dirancang, disablon, dan dipotong mereka sendiri secara manual. Ada 20 buah sebagai tahap awal untuk kemudian dimasukan ke sebuah pameran. Sebuah pameran bernama World Architecture Festival digunakan sebagai media promosi. Unik, membuat benda itu diminat di acara tersebut. Ada yang senang karena lucu, adapula yang tertarik dengan medinya yang terbuat dari kardus. Adapula yang suka karena si jamurnya sendiri.

Mereka ada pula orang tua yang bepikir menjadikan ini sebagai tanaman rumahan. Ada pula kakek- nenek yang tengah mencari bagaiman berkebung yang simple. Berkat mengikuti banyak pameran sudah banyak penghargaan sekaligus uang modal mereka menangkan. Tapi yang paling penting adalah orang tua mereka yang mulai berpikir ulang. Pola pikir kolot mereka yang (mewajibkan) mereka berkarir sesuai bidangnya itu sudah ditinggalkan.

Belakangan, dalam perjalanan, mereka bahkan memenangkan sebuah lomba besar. Mereka menjadi salah satu dari 50 pengusaha yang mendapatkan hadiah puluhan juta. Hadiah yang dipersembahkan oleh Bank BNI ini, pada 31 Desember 2012, menjadi yang pertama mengakui konsep bisnis mereka. Bisnis IDEA pun semakin moncer dimana cuma dijalankan oleh 9 orang pemuda- pemudi dan juga para pekerja lepas. Yang mana mereka akan diperbantukan ketika ada pesanan khusus.

Bisnis anak muda


Aldi bertindak sebagai sang CEO dan bertugas mengembangkan usaha. Sementara Annisa dibagian admin, keuangan, dan marketing. Robby lantas mengerjakan operasional. Adi kemudian dibagian mengerjakan dan mengelola desain dari semua umpan balik yang mereka terima. Kebanyakan usahanya fokus pada penjualan online dan melalui aneka pameran. Annisa sendiri menjamin keberlangsungan usaha. Pada awal penjualan bahkan, mereka harus kerepotan sendiri dan menolak berbagai pesanan online.

Untuk pasar ekspor? Tak menampik gadis manis berkerudung ini melihat kemungkinan ke arah sana. Bahkan itu datang sendiri dalam bentuk penawaran ekspor. Namun, apa yang mereka kembangkan sekarang belum menjamin apakah mampu bertahan dalam perjalanan panjang. Belum lagi ada proses karantina Pabean yang cukup sulit di negara- negara tertentu. Meski begitu untuk penjualan perorangan ada pula. Dimana ada orang asing yang membeli dan dibawanya ke negara asal.

Sekalipun ada distributor lokal tetap disarankan untuk tak menyimpan terlalu banyak. Annisa mengaku lebih kepada direct- selling atau penjualan langsung ke konsumen. Mereka khawatir akan distributor yang nanti memilih menyimpan terlalu banyak stok dan akhirnya cuma terbuang. "Kalau pembelian langsung, mereka kan tidak membeli untuk menyimpan, melainkan untuk mengalami proses melihat pertumbuhan jamur itu sendiri setiap hari," jelasnya.

Melihat pertumbuhan jamur disela- sela aktifitas memang mengasikan. Apalagi dengan jamur yang punya aneka warna cantik itu.

Prinsip sabar dalam entrepreneurship dipengga mereka empat sekawan. Semua pengeluaran diperhatikan sangat terutama untuk keperluan gaji pegawai. "Tidak ada orang sukses dalam semalam," ujarnya kembali, kebebasan waktu dalam entrepreneurship dimaknai berbeda, mereka memaknai itu berarti bebas bekerja sampai malam dan jauh dari kata santai.

Annisa sendiri awam soal akuntansi. Karena kamu tau ia adalah mahasiswi Ekonomi Pembangunan. Semua ia pelajari sambil jalan bersama ketiga temannya. Semua belajar dari artikel dan belajar sendiri dari buku- buku akuntansi. Konsep bisnis impian mereka bukanlah seperti kebanyakan pengusaha. Sisitem bernama close- group system business, dimana tidak cuma berorientasi pada penjualan. Dalam perjalanannya mereka juga aktif mengadakan acara dan juga mengedukasi.

Disela- sela kesibukan sebagai seorang CEO, Aldi, masih bisa menikmati sela- sela harinya dengan asik menonton film. Sedangkan Robby lebih suka aktifitas pertukangan, membuat sesuatu untuk menghasilkan satu karya, dan Adi memilih membidik lingkungan sekitarnya. Ia lebih asik menikmati lingkungan dari mata kamera kemana- mana. Sebagai sosok anak muda yang telah memiliki usaha senidiri, apakah nanti tak ada masalah? Ada, tapi, mereka memilih untuk mendiskusikan semuanya.

Meski Aldi sebagai CEO punya kemampuan mengambil keputusan. Namun jika nanti tiga orang lainnya tak setuju dan punya pendapatan logis dan bisa dipertanggung jawabkan; Aldi tak sungkan, tak sungkan untuk sepakat dengan tiga kawan lainnya. Bagi Annisa berbisnis di usia muda merupakan mimpi yang telah jadi kenyataan. Kepada rakan- rekan sekalian yang seumuran, untuk kita, ia menyarankan agara tak jadi sekedar 'iya- man' akan tetapi 'analisa- man'.

Website: www.halogrowbox.com
Instagram: @growboxbdg
Twitter: @growboxbdg
Facebook: facebook.com/growboxbdg

Artikel Terbaru Kami