Sabtu, 18 April 2015

Kisah Pembuat Sandal yang Bisa Melar Sendiri

  
Menjadi penemu sekaligus pengusaha sosial itulah kisah Kenton Lee. Usahanya bisa dibilang sederhana yaitu membuat sandal untuk anak- anak. Apa yang membuatnya spesial adalah sandal tersebut bisa tumbuh. Loh kok bisa? Memang inilah teknologi yang katanya bernama ergo- mates. Sebuah teknologi yang ada pada bahan karetnya yang dikompres sedemikian rupa.

Semuanya bisa tumbuh bersama pemakainya. Yang mana fokusnya adalah anak kecil yang memang dalam masa pertumbuhan. Teknologi ini dipercaya mampu tumbuh dari ukuran semula selama 5 tahun. Siapakah sosok Lee, seorang lulusan Northwest Nazarene di 2007, merupakan seorang penemu yang suka berkeliling dunia. Utamanya bertraveler ke wilayah Kenya, Afrika Selatan, yang mana disana 5 tahun sudah dirinya hidup menetap.

Kisah tentang sebuah panti asuhan di Nairobi menyentuhnya. Tidak kurang ada 140 orang anak yang mana kedua orang tuanya kebanyakan mati kerena AIDS. Dia melihat bagaimana beberapa anak memakai alas kaki yang begitu buruk. Mereka yang sudah tumbuh dewasa mengenakan sandal yang dipotong ujungnya. Semua agar jempol- jempol mereka bebas keluar dari sandal yang terlalu sempit.

Bahkan kebanyakan dari mereka tidak punya sandal.

Untuk itulah ada keinginan untuk mencari- cari cara. Agak putus asa mencari solusi akan hidup mereka yang miris. Sebuah ide tertanam dalam dirinya lalu menghubungi organisasi bernama Because International, yaitu sbeuah organisasi non- profit. Di 2009, setelah tujuh tahun penelitian, akhirnya terciptalah dua sandal -satu sandal besar dan satu kecil. Yang kecil diciptakan bagi anak- anak di pra- sekolah sampai kelas 5.

Sedangkan yang besar untuk mereka untuk kelas lima hingga sembilan. Sepasang sepatu yang bisa tumbuh bersama pemakainya, yang miskin, yang kekurangan, yang mana sekarang sudah bisa mengalasi kakinya dari lingkungan dan melindungi mereka dari parasit dan penyakit.

"Saya bukanlah 'pria sepatu'. Saya tidak tahu apa yang saya akan lakukan. Jadi, akhirnya kami menemukan sebuah organisasi di Portland, bertemu beberapa orang tua ( mantan karyawan) Adidas yang sudah memulai perusahaan mereka sendiri, dan mereka membantu kami mengembangkan ide untuk prototipe sepatu, " kata Lee.

DI tahun 2013, Lee lantas kembali ke Kenya membawa sebuah brand bernama The Shoe That Grows atau sepatu yang bisa tumbuh.

Dicobanya kepada 100 orang anak secara cuma- cuma. Mereka menyukainya, mereka suka akhirnya punya sepatu sandal sendiri, untuk Lee sendiri adala sebuah penghargaan bagaiman mereka memakai karyanya. Ia sangat besemangat ketika melihat senyum mereka. Dan melegakan, ketika Lee berpikir akhirnya mereka tak perlu berpikir untuk sepasang sepatu baru atau mereka tidak akan punya sepatu lagi.

Ini murni adalah sebuah bisnis sosial. Dalam laman situsnya TheShoeThatGrows.org, bahwa setiap pasang itu dibandrol $10 dimana merupakan buatan China. Di halaman situs tersebut orang bisa membeli dengan jenis- jenis paket tertentu. Dimana nantinya apa yang kamu beli akan disalurkan oleh aneka organisasi sosial. Ini mencangkup seluruh penjuru dunia.

Cukup sampai 50 pasang terpenuhi (dari pembelian pengunjung) maka akan ada organisasi kemanusian yang akan mengirimnya langsung.

Artikel Terbaru Kami