Rabu, 08 April 2015

Pencipta Tas Ramah Lingkungan bagGoes Bijaksana

 
Contoh menjadi pengusaha muda sosial ada dalam diri Mohamad Bijaksana Junerosano.

Meski mungkin terlihat sepele tapi ada yang dilakukannya bisa menjadi perubahan. Pemuda 32 tahun yang aktif menjadi sang CEO perusahaan dibidang daur ulang. Perusahaan bernama PT. Greenation Indonesia, Sano, begitu ia biasa dipanggil membuat produk bernama baGoes, sebuah merek tas ramah lingkungan. Selain itu, juga termasuk menjalankan sebuah komunitas bisnis berbasis daur ulang bernama Waste4Change.

Fokusnya pada mengolah bahan- bahan daur ulang. Juga termasuk mengedukasi masyarakat melalui sebuah organisasi sosial bernama sama Greenation Indonesia (GI). Lulusan Institut Teknologi Bandung yang sangat meyakini bahwa campur tangan langsung itu penting. Contoh nyatanya ya melalui aneka kegiatan sosial juga memberi contoh tentang bisnis ramah lingkungan.

"Menjadi seorang aktivis tidak berarti Anda harus menjalani hidup hemat. Dengan nilai-nilai kewirausahaan dalam gerakan kami, kami secara finansial didukung melalui aktivisme kami dalam isu-isu sosial dan lingkungan, " kata Sano kepada The Jakarta Post.

Dalam penjelasannya tak perlu bergantung pada donasi untuk mengerjakan sosial. Idenya adalah mensuport aneka produk berbasis ramah lingkungan atau eco- friendly. Sebuah ide yang datang sejak 2008 -an ketika Sano meneliti masalah lingkungan. Kemudian dikonseplah sebuah organisasi sosial mendukung semua apa yang disebutnya sebagai gaya hidup.

Menjalankan perusahaan sosial juga berarti menyelesaikan masalah sosial di masyarakat. Cuma dari sekedar membuat produk tas ramah lingkungan. Bayangkanlah dunia tanpa plastik pembungkus, yang berarti juga tidak ada sampah tak bisa didaur, bisa juga berarti mengurangi kemungkinan banjir. Memang terlihat sangat sepele tetapi lebih baik dari sekedar mengadakan kegiatan sosial semata. "GI didirikan sekitar 2006, tapi dasarnya masih terlalu biasa," tambahnya.

Di tahun pertamanya, Sano cuma aktif menyampaikan tentang pentingnya menjaga lingkungan. Justru setelah dirinya menikah keinginan level berbeda timbul. Tahun 2008 dirinya ingin membuat organisasi ini semakin independen termasuk soal keuangan. Itulah pula ide dibalik produksi tas eco- friendly bernama bagGoes. Ia menyebutkan ini merupakan bagian dari sebuah gerakan. Sebuah jawaban atas gerakan DietKresek, gerakan yang juga dipelopori GI.

Mandiri sosial


Sayangnya, ide bagGoes ternyata membutuhkan modal, dibutuhkan cukup uang untuk memproduksi masal. Untuk itulah ia meminjam ke bank sebesar Rp.4 juta dan memasan dua perusahaan untuk mengerjakan tas tersebut. Ada sekitar 80 buah tas diproduksi oleh kedua perusahaan tersebut. Tidak lama kemudian, Sano mulai menjual tasnya di sebuah pameran di Universitas Indonesia. Semuanya dilakukan spontan tanpa ada pemikiran bagaiman marketingnya.

Tapi tak disangka usaha spontannya itu membuahkan hasil. Dia bersama beberapa kawan akhirnya berhasil menjuala habis tasnya. Dalam perjalanan waktu produk tasnya mulai lebih inovatif. Ini termasuk agar tas itu benar- benar ramah lingkungan jelasnya.

Berapa hasilnya dari berjualan sosial? baGoes menghasilkan Rp.280 juta pada 2009 saja, Rp.550 juta pada tahun 2010, Rp.1,1 miliar di 2011, Rp.1,8 miliar di 2012, dan akhirnya menyentuh angka Rp.2,4 miliar di tahun 2013.

Disisi lain, ketika bisnis mereka ini sukses, berkuranglah kebiasaan penggunaan tas plastik. Ini merupakan satu trobosan baik. Selanjutnya adalah Sano bersama kawan mengerjakan masalah lain. Masalah lingkungan yang perlu juga mendapatkan perhatian. Jadilah sebuah perusahaan bernama Waste4Change, sebuah bisnis fokus pada pengolahan sampah daur ulang. Tidak cuma itu dalam perjalanannya juag termasuk konsultasi, penelitian dan manajerial sampah.

GI harus menjadi agen perubahan gaya hidup masyarakat. Termasuk bagaimana mengolah sampah menjadi barang daur ulang. Ini akan membentuk pola pikir masyarakat Indonesia tentang lingkungan. Termasuk ikut membantu para agen lingkungan dengan bisnisnya. Termasuk mereka para pemulung dan pengepul barang- barang bekas. Sano menjelaskan semua pengalaman didapatnya dari tinggal di berbagai kawasan di Jawa Tengah.

Diantara umur tiga sampai lima tahun dirinya sudah berpindah- pindah. Khususnya di daerah Banyuwangi yang mana dirinya akan terus berpindah. Semua karena ayahnya yang bekerja sebagai pegawai negeri sipil. Dimana pekerjaanya sesuai dengan penempatannya. Dia pernah merasakan hidup di sekitar masyarakat kampung, juga masyarakat perkotaan. Dengan begitu pula, dirinya bisa berkomunikasi dengan banyak orang dari berbagai golongan.

Berbicara mengenai bisnis pada umumnya. Sano sudah terbiasa berbisnis sejak dibangku kuliah di Bandung. Aneka bisnis sudah dijalankannya berbekal kuliah di jurusan teknik sipil dan lingkungan.

"Awalnya saya belajar bagaimana cara berbisnis dengan menjual T-shirt kustom di universitas, dan beberapa bisnis jasa kecil lainnya," ujar Sano, yang ternyata kakeknya juga seorang pengusaha sukses. "Saya berpikir saya mendapatkan insting bisnis saya dari dia."

Semua idealisme itu datang ketika dirinya masuk ke ITB. Semua berkat sebuah acara televisi dimana dirinya melihat bagaimana isu lingkungan. Itu merupakan panggilannya. Satu tahun kemudian, sejak masuk ke ITB, ia mulai memikirkan bagaiman caranya.

Website: bagoes.co.id

Artikel Terbaru Kami