Jumat, 24 April 2015

Idealisme Berbisnis Olahan Susu Segar


Profil Pemilik Usaha Yogurt Cimory


Menjadi pengusaha terlalu idealis bisa jadi kegagalan. Tapi bisa juga menjadi susuatu jika pada kadarnya. Inilah kisah Bambang Sutantio yang memperkenalkan manisnya yogurt. Bayangkan saja ia berbisnis produk mudah kadaluarsa. Memiliki proses produksi tidak mudah. Apalagi kalau bukan lah satu idealisme kuat namanya. Sudah selama tiga tahun ia terus menggeluti produk asing tersebut. Meski harus pergi keluar negeri 'membeli' teknologi disana.

Kisah Bambang terus berlanjut, sekarang, dia adalah Presiden Direktur PT. Cisarua Mountain Dairy, yang lantas menjelma menjadi Macro Group. Sebuah perusahaan yang membawahi lima perusahaan dibawahnya. Kisah bisnisnya sudah dimulai sejak bertandang ke Wonosobo, Jawa Tengah.

Teknologi asing


Bambang melihat banyak buah nanas hasil panen masyarakat cuma dibuang. Mereka tak mampu mengolah mereka menjadi produk baru. Mengolahnya menjadi produk yang memiliki nilai jual lebih tinggi. Kejadian di Wonosobo itu begitu membekas dalam benaknya. Hingga ia pun terbang ke Jerman untuk belajar bagaimana pengolahan pangan berbasis teknologi di Universitas Berlin.

Sekembalinya ke Indonesia, dia berharap ilmunya bisa digunakan di Indonesia. Ilmu disebut ingin ditularkan ke masyarakat agar lebih makmur. Memutuskan untuk menjadi pengusaha merupaka satu jalan dipilihnya. Ia bermodal 150 juta dari kredit usaha kecil- menangah. Lantas membuka usaha yakni bisnis bumbu dan juga peralatan industri. Dalam perjalannanya usahanya berubah jadi bisnis yogurt. Usahanya menjadi identik yakni sebagai perusahaan pengolahan susu.

Untuk mendapatkan kredit UMKM dikorbankannya sebuah ruko. Ia menjaminkan ruko yang mana itu hasil menggadaikan rumah milik orang tuanya. Memulai bisnis bermodal pengetahuan selama di Berlin, sejak tahun 1989, usaha bernama Cisarua Mountain Dairy itu cukup maju. Bambang sendiri lahir dari keluarga berkarir atau profesional. Jadilah usaha dijalankannya cumalah mencoba- coba. Ia tak punya modal kewirausahaan. Cuma diajarkan sedikit wirausaha dari ibunya.

Modalnya adalah idealismen dan kegigihan untuk tetap pada tujuannya. Bisnis PT. Cisarua Mountain Dairy atau Cimory lantas tumbuh semakin baik. Pelan tapi pasti pria asal Semarang tersebut membangun usahanya. Usaha Cimory bermasalah ketika menghadapi krisis ekonomi di tahun 1989. Untunglah usahanya itu meski tidak umum tapi memiliki kekuatan sendiri. Untunglah dirinya sigap merubah arah usahanya ke arah bisnis aneka olahan susu.

Produk yogurt pertama dilabeli Cimory. Anak usaha Macro Group yang lima tahun ini sanggup berkembang mencolok. Tak terpikir sebelumnya bahwa dia akan fokus pada bisnis tersebut. Di atas lahan 3.000 meter sebuah pabrik yogurt didirikan dibantu oleh masyarakat lokal. "Kami membeli susu segar dari peternak di Jawa Barat seminggu itu 200 ton. Kemudian dibuat yogurt 250 ton," ungkapnya kepada Depoknews.

Usaha bapak tiga anak tersebut lebih menggelinding dari usaha lainnya. Apa yang membuatnya berbeda di penjelasannya itu adalah bakteri sehat milik mereka masih hidup. Dibanding produk sejenisnya, Cimory ini terbuat dari 90 persen susu segar, dan bakterinya itu diimpor hidup- hidup. Jadilah olahan perusahaan itu bisa jadi lebih baik. PT. Cisarua yang bermula dari usaha kecil ini fokus pada konsumsi susu segar. Dibandingkan perusahaan lain yang fokus pada susu bubuk.

Fakta bawah konsumsi susu di Indonesia masih rendah; jadi hambatan sekaligus kesempatan. Fokus pada olahan susu segar membuatnya beda dibanding perusahaan susu lain. Sayangnya, orang Indonesia masih ada rasa enggan untuk mengkonsumsi produk turunan susu tersebut. Di Eropa, kebanyakan olahan susu dibuat dari bahan segar langsung minum. Oleh karena itu pula usaha Bambang moncer ke luar negeri. Meskipun begitu idealismenya tetap ada pada pasaran lokal.

Produk bergizi


Ia juga punya cita- cita atau idealisme lain selain diatas. Selain bagaimana mengajarkan mengolah makanan lebih baik. Cita- citanya yakni agar masyarakat bisa mengkonsumsi produk bergizi. Bagaiman cara untuk meningkatkan asupan gizi masyarakat. Ia sendiri mengaku menjadi pengusaha idealis membuatnya lebih banyak berkorban. Tapi bukankah keberhasilan seorang pengusaha ada pada dedikasinya. Selama dirinya masih bisa berusaha maka akan dijalankannya.

Berbicara tentang konsumsi susu. Di Amerika adanya dorongan pemerintah lewat iklan masyarakat Got Milk memberi perusbahan besar. Sementara itu di Thailand tak cuma mendorong minum susu. Di negara tersebut menurut Bambang mendorong konsumsi susu segara sebagai hal utama. Menurutnya susu ternak lokal juga baik ketika mampu mengolahnya. Cimory mampu mengolah melalui sistem bernama pasteurisasi. Beda di luar negeri berbisnis di Indonesia membuat usaha merugi terus.

"Awalnya kami rugi terus," pengakuan pria Semarang ini.

Dari pada menghujat dan mengeluh karena hal tersebut. Bambang memilih menanggapinya dengan light the candle. Atau, dirinya nekat untuk mengajarkan pentingnya minum susu segar. Bahkan perusahaanya itu rela mengadakan program edukasi bernama Dairy Educational Tour. Perusahaannya mengundang anak- anak sekolah dasar untuk diperkenalkan kepada farming. Apa saja yang diajarkan antara lain yaitu bagaimana cara memarah susu, sampai menonton film dokumenter.

Sejauh pengamatannya hasilnya cukup memuaskan. Tour itu diadakah setiap hari dimana banyak sekolah- sekolah dan ibu- ibu ikut mendaftar. Harapannya ini bisa menajadi langkah awal memperkenalkan susu segar. Melalui marketing word of mouth setidaknya bisa merubah sedikti pola pikir.

Jika dibanding produk olahan susu lain. Yogurt Chimory memang kesannya mahal. Tapi kenyataanya, itu bukan dari perusahaannya yang mahal. "Yang membuat harga susu kami mahal adalah supermarket," ujarnya. Perihal pernyataanya tersebut ia lantas menjelaskan. Dia mengeluh bahwa pihak ritel tidak fair dalam kelola produk titipannya. Khususnya di Indonesia dimana menurutnya, Cimory tidak bisa diatur di lemari es dengan suhu diatas 4 derajat celcius. Itu membuat produknya cepat rusak dan harus diretur.

"Itu semua harus kamu perhitungkan cost- nya," ujarnya.

Bukan pengusaha sukses namanya jika tidak bisa 'mengakali'. Pria berlatar belakang pendidikan teknologi pangan Universitas Berlin tersebut memilih door- to- door. Yah, Chimory sekarang menafaatkan sistem baru yaitu delivery order -layaknya loper koran saja. Ada call canter buat kamu untuk memesan produk apa yang ada di perusahaanya. Sistemnya ada berlangganan atau sekali order. Meski begitu marketing cara ini belum dioptimalkan sekali.

Nantinya, ia menjelaskan ada brosur dan iklan- iklan layanan pengiriman. Dengan cara tersebut Bambang bisa menjual seharga pabrikan. Selain sistem menaruhnya di supermarket atau layanan pesan antar, adapula Cimory Shop. Sebuah toko khusus menjual susu segar, adapula yogurt, sosis dan makanan lain. Cimory Shop sendiri direncanakan selain di Cisarua tapi juga Jakarta. Kawasan Cisarua sendiri dijadikannya pilot proyek agar bisa menyerap 100% susu lokal.

Tidak berhenti disitu saja cara Bambang memasarkan produknya. Dia juga mengadakan program minum susu. Meski terkendala modal dimana jika pasang iklan diatas akan mahal; Bambang tak putus asa, caranya yakni memasang iklan dibawah misalnya melalui acara talk show radio.

Artikel Terbaru Kami