Sabtu, 14 Maret 2015

Perusahaan Listrik Milik Swasta Ala Entrepreneur Muda

 
Meski cuma bermodal cuma 5 juta rupiah. Nilai kerja keras mereka menjadi modal utama yang tak terhitung sudah mereka glontorkan. Sang penggagas, Nurana Indah Paramita, mengawali semuanya sebagai solusi energi alternatif. Dari sekedar kerja kuliah, menjadi bisnis, dan akhirnya mendapatkan kontrak resmi dari Perusahaan Listrik Negera (PLN). Mereka adalah sekumpulan mahasiswa ITB. Tergabung dengan satu kelompok bernama T-Files yang kini menjadi PT. T-Files Indonesia.

Mimpi seorang Mita begitu biasanya cewek chubby ini dipanggil. Semenjak masuk ke Jurusan Oceanografi ITB, sudah lama, dirinya menginginkan sebuah energi alternatif untuk Indonesia. Nurana Indah Paramita atau Mita memang sedikit dari entrepreneur muda yang menyasar industri listrik. Awalnya ide menggarap turbin listrik energi arus laut dimulai ketika mengerjakan tugas akhir (TA) kuliah. Mereka lalu bersama- sama menggarap proyek itu di tahun 2005.

"Ide awalnya, kami ingin membuat karya teknologi yang bisa dimanfaatkan sebagai sumber energi bagi rakyat," ucap Mita.

Mereka tergerak untuk mengambil pasar yang tak terjamah sebelumnya. Mengingat Indonesia merupakan salah satu negara kelautan (Maritim) yang belum memanfaatkan potensinya. Mereka sempat memikirkan model energi lain, yaitu energi panas bumi dan juga energi solar cell. Adapun yang menjadi kendala ialah tak semua Indonesia punya gunung berapi aktif dan sinar matahari yang tak selalu ada. Alasan lain ya karena sang pentolan Mita punya basis keilmuan di bidang kelautan.

Mulailah sekumpulan mahasiswa ini mengerjakan tugasnya sewaktu Mita masih Semester 3. Bermodal cuma 5 juta, mereka mengerjakan sendiri proyeknya. Mereka rela patungan dengan uang jajan mereka sendiri. Jika kamu bertanya sebagai mahasiswa kenapa tak mengajukan proposal saja. Mita mengaku mereka sudah melakukan hal tersebut, sudah beberapa kali mereka mengajukan proposal. Sayangnya proposal mereka itu selalu mentah.

Selalu gagal


Mita dan teman- temannya hampir berputus asa karena selalu gagal. Proposal pun tak diterima mungkin juga karena memang resiko gagalnya tinggi. Tak berputus asa bermodalkan uang sendiri; mereka masih yakin teknologi ini dibutuhkan Indonesia. Ia terus mancari- cari cara bagaimana bisa memanfaatkan lautan luas Indonesia. Bayangkan dua pertiga tanah kita adalah lautan. Mita lantas berpikir ulang agar apa yang mereka lakukan tidak cuma berhenti sebagai tugas akhir.

"Saya berpikir tugas akhir ini seharusnya memang bukan hanya sebagai kewajiban tetapi mampu menciptakan manfaat sebesar-besarnya pasca penelitian," ulasnya.

Ia bersama tim berjumlah 23 orang terus mengerjakan konsepnya. Mereka terus mencoba tak berputus asa hingga menemukan sebuah alat pembangkit tenaga listrik. Ketika proyek itu jadi, mereka menemukan satu kendala kembali. Lagi- lagi soal modal untuk mengaplikasikan alat mereka ke dunia nyata. Tak ada investor dalam negeri yang mau menaruh modalnya. Hingga ada satu investor asal Jepang yang berminat untuk jadi investor mereka.

Namun, lantara mereka paham bahwa alat tersebut sangat dibutuhkan negarnya; mereka menolak. Akhirnya mereka malah memodali usahanya sendiri. Bermodal nasionalisme dalam diri mereka jadilah T-Files menjadi perusahaan swasta. Fokus mereka adalah industri energi listrik mandiri. Sejumlah perusahaan lantas mereka rintis untuk memproduksi aneka produk lain: current turbin, mining engineer, information technology, design and art, bahkan event organizer.

Mita menuturkan apa yang mereka buat adalah turbin laut. Fungsinya adalah untuk memutar generator dari bawah dari dasar laut. Melalui arus laut kuat maka akan menciptakan putaran pada kumparan mesin utama. Ia lantas menjelaskan bahwasanya arus laut tak akan pernah mati. Berbeda dengan energi alternatif seperti panas matahari. Tentu ada kelemahan untuk energi tak pernah habis ini. Ada dua hal yang ia soroti yaitu ada pada pasang- surut dan ombak.

Pemecah ombak dipasang diantara turbin buatan mereka. Maksudnya agar turbin tidak terhatam gelombang keras. Lain hal ketika pasang- surut terjadi energi dari arus bisa berubah- ubah. Untuk itulah ia dan teman- teman menciptakan alat jangkar untuk memindahkan turbin. Dari segi ukuran, Mita menyebut bahwa alat itu kecil tak besar seperti apa yang kamu bayangkan. Pengaplikasian energi ini sudah dilakukan pertama kali di Nusa Peninda, Bali.

Proyek yang memakan nilai investasi Rp.160 juta ini menghasilkan 10 ribu watt.

Young entrepreneur


Sosok Mita sebagai penggagas dan CEO memang tak bisa lepas. Dia merupakan penyatu dari tim yang kini cuma tersisa 11 orang. Mereka adalah para mahasiswa ITB yang punya ego sendiri jelasnya. Tekat mereka untuk memajukan Indonesia menjadi utama selain berbisnis. Jadilah pola pikir sebagai ilmuan tetap mereka harus punyai selain bagaimana mengembangkan bisnis. Masalah lain mengahantui adalah bagaimana mereka menghadapi birokrasi dan adat.

"Kami sering tersandung birokrasi lokal. Di era otonomi daerah (otoda) saat ini, setiap daerah berhak membuat keputusan sendiri," paparnya.

Seiring waktu pemerintah pun mulai melihat ke arah mereka. Cita- cita membangun energi elternatif pengganti energi fosil mulai gencar di 2001. Menurut sebuah artikel di situs listrikindonesia.com, katanya sih, bahwa perusahaan ini telah menjadi anak satu usaha perusahaan BUMN. Perusahaan PT. INTI bersama Menteri BUMN Dahlan Iskan secara resmi menyambangi mereka T- Files. Mereka dipertemukan dalam satu acara bertajuk Kontes Wirausaha Mandiri dan mengerjakan kerja sama bersama.

Gadis 29 tahun ini tercatat memenangkan aneka perlombaan kewirausahaan. Selain sibuk menjadi CEO dari PT. T-Files Indonesia, ia juga tercatat pernah menjadi ketua BPC HIPMI Bandung. Salah satu gebrakannya di HIPMI ialah terbitnya majalah HIPMI. Perempuan kelahiran 4 April 1985, selalu menjadi yang terdepan di T- Files, salah satunya menjadi salah satu pengusaha pemenang Mandiri Young Techopreneur. Yang baru- baru ini adalah ia menjadi satu dari tiga pengusaha muda pilihan Jokowi.

Artikel Terbaru Kami