Senin, 09 Maret 2015

Memulai Bisnis Tour and Travel Suami Istri

Profil Pengusaha Andika Surachman dan Anniesa Hasibuan



Pernah dengan menjadi pengusaha bermodal nekat. Tak perlu selalu bermodal ijasah sarjana dan uang. Meski begitu penulis yakin seberapa susahnya memulai. Kamu tetap butuh modal uang untuk berbisnis apapun.  Kembali ke kisah pengusaha selanjutnya. Kisah berikut tentang suami istri pengusaha yang sukses jadi miliarder. Cuma dari bisnis tour and travel keduanya kini menjadi pemilik perusahaan PT. First Anugrah Karya Wisata.

Mereka adalah pasangan Andika Surachman (29 tahun) dan juga Anniesa Hasibuan (28 tahun). Usaha tersebut bisa jadi merupakan refleksi kegemaran mereka bertraveling sejak jaman pacaran. Mereka berdua katanya memang sudah hobi bepergian ketika masih kuliah. Andika mengaku meski hobi berjalan- jalan, cita- cita keliling dunia baru terlaksana di 2010, ketika akhirnya mereka sukses. Meski baru setengah dunia mereka kitari namun perjalanan itu sangat berkesan.

Bisnis perjalanan


Menjadi pengusaha sendiri diakui Andika sebagai 'keterpaksaan'. Dia pernah bekerja sebagai pegawai di sebuah minimarket di 2004. Selepas itu dirinya cuma bekerja menjadi pegawai magang di Bank Bukopin. Kala itu, ia cuma dibayar Rp.50 ribu per- hari. Sang istri sendiri tidaklah bekerja dan cuma menjaga anak- anaknya di rumah. Suatu ketika terjadi satu pristiwa yang memaksa mereka menjadi pengusaha. Ketika itu ayah mertua Andika meninggal dunia pada Juli 2008.

Memang sejak menikah, keduanya tinggal bersama mereka. Selepas meninggalnya mertua Andika harus pula mengurusi adik iparnya. Jadilah mereka tidak punya cukup uang untuk bertahan hidup. Keduanya lantas memutuskan menjadi pengusaha. Pasalnya gaji Andika dirasa tak akan cukup untuk keluarga besar mereka. Bermodal Rp.2 juta mereka mulai berbisnis apapun. Mereka membuka sebuah kios pulsa, lalu berjualan hamburger, hingga berjualan sprei. Modal 2 juta tersebut ternyata tak bertahan lama.

Diceritakan sendiri oleh Anniesa ada masalah ketika itu katanya karena ada yang iri. Mereka adalah pesaing mereka di bisnis yang sama. Akhirnya mereka kehabisan modal tapi bisnisnya sendiri tak tau arahnya mau kemana. Dengan sangat terpaksa Andika memutuskan menjual rumah milik mertuanya. Dia mendapatkan modal Rp.50 juta dari berjualan rumah. Mereka memulai usaha baru, tapi, lagi- lagi usaha itu mengalami kegagalan. Ujungnya bisa dipastikan yaitu rumahnya harus disita oleh bank.

Untung masih ada kelebihan uang sekita Rp.10 juta dari pristiwa tersebut. Kembali uang itu digunakannya untuk memulai usaha kembali. Kali ini, mengikuti impian sang istri, mereka mendirikan bisnis biro perjalanan lokal. Mereka lalu mendirikan perusahaan bernama CV. First Karya Utama pada 2009. Tidak lah mudah, untuk ijin usaha tersebut baru keluar pada 1 Juli 2009. Biayanya juga sangatlah mahal perlu kamu ketahui. Mereka cuma berbisnis travel wisata domestik yang kemudian merambah ke internasional.

Buta bisnis


Uniknya meski serius membuka bisnis perjalanan serta didorong kecintaan. Kanyataanya mereka tak tau sama sekali tentang bisnis tersebut. Semuanya dilakukan secara otodidak. Ketika pertama kali mereka mulai modal mereka cuma Yellow Pages. Jika kamu tak tau itu adalah buku kuning berisi nomor kontak yang bisa dihubungi kala itu. Mereka nekat menghubungi semua kontak menawarkan bisnis mereka.

Anniesa menjadi marketing membantu Andika mencarikan klien. Janganlah salah, kali ini tidak seperti yang kamu bayangkan mereka belum sukses. Diakui mereka sering mendapatkan halangan ketika berbisnis tour and travel tersebut. Ada saja yang tidak suka kepada mereka berbisnis perjalanan ini; tidak suka mereka sukses. Mereka sempat ditipu bahkan oleh karyawan mereka sendiri. Bangkrut dan mulai kembali, mereka berpindah dari satu kontrakan ke kontrakan lain.

Mereka itu harus bersusah payah berbisnis sejak 2009- 2011. Saat itu Andika masih berusia 22 tahun, halangan bertubi- tubi sempat menghancurkan mental mereka. Ia mengaku sempat berpikir bunuh diri. Bagaiman rasanya ditipu oleh mereka orang- orang terdekat sendiri. Dia dan seluruh keluarganya sempat mau bunuh diri. Dia bersama istrinya sempat memajukan mobil sedikit dan jatuh dari lantai atas mall. Tepatnya mereka sudah berada dilantai paling atas sebuah mall.

"Tapi, kami akhirnya sadar, bagaimana dengan nasib anak dan keluarga kami. Kami juga sadar itu dosa. Akhirnya, niat itu kami batalkan," kata Andika.

Bangkit dari keterpurukan keduanya memulai berbisnis kembali. Bergerilia ke sana- ke mari, akhirnya, ia mendapatkan pesanan dari Bank Indonesia. Mereka memberangkatkan 100 orang pegawai untuk umroh mereka meski saat itu tak paham. Mereka tak pernah berangkat umroh sebelumnya. Untunglah kali ini mereka menemukan patner bisnis yang jujur. Setelah Bank Indonesia, mereka mendapatkan pesanan dari  PT. Pertamina Persero pada tahun 2012.

Akhirnya, nama usaha mereka itu bisa semakin dikenal dari mulut ke mulut. Ia bercerita bahwa ketika itu: ia sempat hampir gagal mendapatkan pesanan. Ketika akan mempresentasikan diri ke Pertamina, ia sempat datang terlambat, tapi entah kenapa Andika masih bisa mempresentasikan dirinya. Meski sudah ada lima biro lain yang terlebih dahulu datang, akhirnya, biro CV. First Karya Utama malah menang dan ditunjuk oleh Pertamina.

Akhirnya CV. First Karya Utama berevolusi menjadi PT. First Travel. Fokus bisnisnya yang asik menyasar perjalanan umroh sukses besar. Pada tahun 2012, perusahaan tersebut berhasil memberangkatkan 800- 900 orang dan pada tahun berikutnya menjadi 3.600 orang. Di 2014, First Travel mampu memberangkatkan ada 12.700 orang. Mereka sempat meraih rekor MURI yaitu Manasik Akbar Umrah Terbesar di Indonesia. Mereka menghadirkan 35.000 orang di Gelora Bung Karno Senayan.

Ambisi terbesar perusahaan biro perjalanan terbesar di Indonesia ini adalah membukan 50 cabang di seluruh penjuru Indonesia. Perusahaan yang penghargaan Business & Company Winner Award 2014 untuk kategori The Most Trusted Tour & Travel ini masih akan terus menjadi yang terbaik. Andika berkeyakinan dengan brand kuat serta animo para jemaah yang akan selalu besar. Initnya satu kota harus ada satu cabang idealnya jelas pengusaha otodidak tersebut.

Bahkan katanya, di sebuah berita, Andika telah membuka cabang di London yang direpresentasikan untuk membangun jamaah di Inggris.

Artikel Terbaru Kami