Selasa, 10 Maret 2015

Berbisnis Properti Tak Perlu Takut Pengembang Senior

 
Menjadi pengusaha properti kecil awalnya tak mambuat sosok Christian Soetio minder. Justru, kini, dia telah sukses menjadi salah satu bos besar dibidang properti. Dikelilingi oleh orang- orang kepercayaan yang rendah hati membuatnya tetap pada akarnya. Dia mengaku bermodal insting selain uang tentunya. Jika ia runut kebelakang semuanya karena pola pikirnya.

Saat itu ketika ia melihat sebidang tanah, berpikir mau dibikin apa, lalu jadilah sebuah ide untuk berbisnis di bidang tanah. Membangun terlebih dahulu konsepnya dari 2005 sampai 2011. Memang lama, karena untuk menjadi pengusaha tidaklah mudah. Tahun- tahun tersebut diakuinya sebagai tahun- tahun kebangkrutannya. Disaat itu ia masih menekuni bisnis kontraktor bukan pengembang seperti sekarang.

Bermodal awal Rp.63 juta mulailah membuka sebuah CV kecil di bidang konstruksi. Melalui aneka jenis marketing mampu menghasilkan 30 buah pesanan sejak 2005- 2011. Namun dari tahun- tahun tersebut orang yang menyewa jasanya justru telat bayar. Dari tiga puluh orang tersebut cuma satu orang yang bayarnya lancar dan sisanya, ia harus bersusah payah memintanya. Menjaga komitmen menjadi pendorong agar tetap menjalankan meski susah ditagihnya.

Karakter pengembang


Karakter utama yang dimilikanya adalah etiket. Bahwasanya pengolahan tanah mestilah baik, pembayar pun harus baik, dan kalau pun ada masalah jangan dihindari. Christian yakin pada kemampuanya untuk berbicara baik- baik. Seorang negosiator itulah yang kami tangkap dari pembicaraan tersebut.

"Kita harus percaya bahwa tanah yang dibeli dengan baik, pasti hasilnya baik. Etiket ini akan melahirkan modal besar, yakni kepercayaan," ujarnya.

Dijelaskan jika kamu menjual tanah fokuslah pada berpikir positif dan berprilaku positif. Sang ayah telah mengajarkan jika berbisnis Christian harus mandiri. Itu berarti menyimpan sertifikat ditangan, setelah ada pembayaran selesai, barulah sertifikat itu diserahkan langsung. Tanpa orang ketiga jelasnya. Disisi lain, jika bekerja sama, kamu tetap harus punya kepercayaan. BOS Land bukanlah perusahaan mapan kala itu, tapi kelebihannya adalah paham akan kebutuhan warga Balikpapan dan Samarinda.

Ketika membangun dia mau bekerja sama dengan perusahaan lain, seperti BSA Land. Selain mendapatkan pengetahuan juga koneksi di proyek- proyek berikutnya. Total ada tiga proyek dikerjakan bersama. Disisi lain, dengan nama yang semakin dipercaya, juga menangai 11 proyek lainnya. Dengan bank tanah (mungkin simpanan tanah.red) senilai 60 hektar yang ada di tengah kota. Sedangkan 85 hektar sudah digunakan untuk membangun properti.

Keuntungan sebagai anak lokal dan memang di luar Jawa, bisnis properti masih akan terus tumbuh. Pantaslah jika BOS Land bisa sampai sekarang. Disamping kerja keras, pandai memperhitungkan lingkungan, ia sendiri mengaku adanya keberuntungan menjadi hal lain. Menyasar pasar pembangunan roko, rumah tapak dan juga apartemen murah. Untuk rumah secara percaya diri, ia menyebut menyasar pasar menengah, yang harganya 330 juta sampai Rp.800 juta.

"Fokus saya ke segmen menengah. Sebab, pasar segmen menengah-atas di Kalimantan Timur tidak terlalu gemuk," jelasnya kepada portal Berita Satu.

Nampaknya sosok pengusaha Christian mencoba seperti halnya Ciputra dan Agung Podomoro. Dimana ia juga fokus pada kebutuhan akan pasar atau market. Buktinya mereka juga membangun satu toko bahan bangunan membuktikan diri sebagai pengembang properti sekaligus kontraktor. Perusahaanya juga tak segan untuk bekerja sama dengan perusahaan lain seperti Ciputra dan Agung Podomoro. Intinya sebagai seorang agen properti yaitu memanfaatkan sebidang tanah sebaik mungkin.

"Berbeda dengan pengembang luar yang kurang mengerti kebutuhan masyarakat lokal. Saya ambil contoh salah satu pengembang yang membangun lima menara apartemen. Yang terjual hanya satu menara. Itu pun separuhnya. Ada juga yang membangun kawasan bisnis, serapan pasarnya tidak bagus juga," sebuah pesan buat kamu yang ingin berbisnis properti.

Artikel Terbaru Kami