Kamis, 26 Februari 2015

Rahasia Oseng- Oseng Mercon Bu Narti Ialah Keikhlasan

 
Sukses membangun resep suksesnya sendiri. Inilah kisah seorang ibu 52 tahun asal Kota Gudeg, namanya Ibu Narti. Ia sukses membuat oseng- oseng jadi sama pamornya denga gudeg. Usaha bernama oseng- oseng mercon membuat kamu meledak di mulut. Siapakah dia, empat atau enam tahun yang lalu, dia sudah memulai membuka usaha warungan sendiri. Menu racikannya kala itu sudah sama sedapnya terjaga hingga sekarang. 

Apalagi pamornya yang sekarang sudah sama melegendannya dengan gudeg.

Awalnya, harapan seorang Narti cumalah membuka usaha untuk mencukupi keluarganya. Dia cuma ingin untuk mensekolahkan anak- anaknya ketika sang suami telah tiada. Siapa sangka justru menu resepnya bisa begitu terkenal hingga sekarang. Warung lesehan oseng- oseng mercon Bu Narti terletak di Jalan KH. Ahmad Dahlan, Yogyakarta. Tempatnya buka didepan sebuah toko yang tutup di sore hari. Warung itu akan buka dari sorenya sampai di malam hari.

Di antara mereka yang juga berjualan masakan sama disana. Oseng- oseng milik Narti jadi yang paling ramai karena memang dia lah pelopornya. Meski sudah ada pengikutnya ia tetap berjualan disana, pantang mundur, dia yakin dengan resep suksesnya sendiri.

Oseng- oseng mercon

Makanan ini sudah ada sejak 1997. Seolah menjadi satu penyeimbang dengan makanan Jawa Tengah yang kadang dibilang terlalu manis. Rahasia suksesnya ternyata ialah adanya rasio 10 banding dua. Jika dijelaskan lebih lanjut maknanya jika 10kg daging sapi, maka, ada 20 kg cabe rawit buat bumbunya. Cukup saja kita membayangkannya sudah sangat berliur. Meski sudah banya diduplikasi tetap saja brand Bu Narti terlalu tangguh.

Sudah berjualan sejak awal membuatnya menang mutlak. Bahkan dia mengaku sampai membuat hingga 20 kg daging disetiap harinya. Menakjubkan bukan? Katanya perempuan paruh baya ini memulai semuanya dari menjadi pedagang di kantin sekolah. Tak jauh beda dengan produk lainnya di Yogyakarta yang ini juga melibatkan bawang, rempah- rempah, dan gula; tapi lebih dominan cabainya. Agar kamu tak kepedasan maka Bu Narti selalu sedia minuman teh panas.

Ditambah panasnya teh membuat kamu semakin berkeringat derah dengan pedasnya. Satu yang unik kamu musti segera menghabiskan oseng- osengnya. Karena katanya kandungan lemak yang besar membuatnya bisa menjadi putih menyelimuti daging jika sudah dingin. Agar tidak terjadi mending kamu memakannya jadi sepiring berdua dengan kekasih kamu.

"Cabai lima kilogram untuk daging 50 kilogram, enggak akan saya kurangi walaupun harga cabai lagi mahal," tuturnya ketika ditemui di tempatnya.

Menjadi yang pertama membuatnya tak khawatir. Dibanding dulu sekarang usahanya sangatalah maju. Dia berkisah dulu membeli daging dua kilogram bermodal cuma 150 ribu. Yang dijadikan oseng- oseng lalu jadi tumbuh hingga mencapai 100 kilo tiap harinya. Mungkin agak berkurang tapi tidak signifikan karena Narti sudah mensyukuri apa yang sudah didapatnya kini. Demi menjaga kualitas dia mengerjakan sendiri semua.

Dia bercerita cuma dibantu empat pekerja kepercayaannya. Jika ditanya siapa yang mewarisi cara membuat oseng- oseng mercon dia menyebut anak keduanya yang bernama Dewi. Untung dari tiga orang anaknya ada satu yang mau ikut berjualan dengannya. Melalui mulut ke mulut tanpa spesifik mengiklankan produknya, ia sudah menanggung untung. Diceritakan para pelancong tidak cuma datang dari Yogya. Mereka datang cuma dari kabar dari tukang becak, dan ketika mereka mecoba.

"Enggak seenak di sini. Saya sendiri sudah sering makan di sini dari ketika warung ini masih kecil. Biasanya saya juga beli untuk dibawa pulang," kata seorang pengunjung yang ditempatnya juga ada oseng- oseng yag sejenis.

Artikel Terbaru Kami