Jumat, 06 Februari 2015

Peternak Telur Puyuh Slamet Wuryadi Menginspirasi

 
Mungkin kamu belum pernah mendengar namanya. Seorang miliarder Indonesia kaya berkat puyuh. Itulah yang menarik ketika kamu berpikir miliarder itu batu bara atau migas, ini berkat telur puyuh. Siapa namanya, namanya Slamet Wuryadi, pertama kali beternak puyuh ia mengaku selalu untung. Apa pasalnya usut- punya usut Indonesia masih kekurangan puyuh sampai 7,5 juta sampai 8 juta. Dia sendiri adalah ketua Asosiasi Peternak Puyuh.

Dalam catatannya kebutuhan benar tak seimbang. Bayangkan kawan dalam industri puyuh itu dibutuhkan 11 juta telur/ pekan. Sementara itu para peternak cuma bisa memenuhi angka 3,5 juta/ pekan. Sisa sangat banyak bagi kita memulai beternak puyuh. Kembali ke Pak Slamet, dari 25 tahun lalu, ia tak pernah menjual telur puyuh dibawah standar. Beda dengan harga dari produk lain yang naik turun. "Itu berarti saya untung terus," ujarnya.

Dia pun menjelaskan empat alasan kenapa beternak puyuh itu untung: Pertama, penawaran- permintaan tak seimbang. Diamana peternak cuma mampu mengisi 15 persen. Inilah kenapa harganya selalu stabil. Kedua ialah meski stok kekurangan tidak ada impor. Semua karena korporasi belum menyentuhnya ujar Slamet. Ia sendiri kekeh menolak kerja sama dengan perusahaan asal Malaysia. Dia fokus pada penjualan cash and carry, dimana, uang akan langsung kembali.

Beda dengan korporasi yang suka membayar belakangan. Dimana untung dulu baru membayar peternak biasanya. Faktor keempat, usaha ini serba usaha, atau kamu bisa menjual kesemuanya. Dari telur, menjual puyuh hidup, daging puyuh, bahkan kotorannya. Selain menjadi peternak sendiri Slamet juga ikut berbisnis sendiri. Usahanya meliputi bakso puyuh, telur asin puyuh, ataupun olahan daging puyuh. Dia menjelaskan sebungkus telur puyuh asin dijualnya Rp.15.000.

Tak ada kata terlambat




Kotoran puyuh ternyata juga bisa dijadikan pupu, utamanya untuk tanaman strowberi dan tomat. Selain itu ada pula kajian dirinya untuk program kotoran puyuh jadi biogas. Sosoknya memang nyatanya bukan orang sembarangan. Dia punya visi dan "ambisi". Bukan perkara jelek, dia telah aktif untuk memperkenalkan puyuh berkeliling tanah air. Bahkan dia telah dipanggil hingga ke Malaysia dan Brunei.

"Dari hulu sampai hilir dan pascapanen terurus. Sehari ada delapan ton kotoran puyuh," ujar dia.

Dia juga pernah ke Korea Selatan memberikan pelajaran tentang puyuh. Lalu dia juga pernah ke Kenya, Afrika, lagi- lagi mempromosikan puyuh. Dalam negeri kamu bisa mendapatkan 3 buku karangannya tentang beternak puyuh. Yap, visinya memang tentang puyuh, dia pun mendapatkan gelar sarjana dari puyuh. Pria ini meraih gelar S1 dan S2 dari IPB dari hasil beternak puyuh.

 "Saya hanya bermodal baju empat, celana empat, serta uang Rp 175 ribu," ujar pria yang ternyata memulai usaha ternak puyuh pada 1992 itu.

Selain itu dia juga dikenal sebagai satu- satunya Profesor Puyuh. Dia menjadi orang pertama yang dikenal menyadang gelar profesor puyuh. Semua berkat penawaran sebuah Universitas di Belanda, dan dibiayai oleh mereka, semua berkat passion -nya bertenak puyuh. Namun, ketika menerima tawaran ini Slamet sempat pikir- pikir dulu karena jika ke Belanda, maka dia tidak bisa mengurus usahanya.

Disisi lain, pengusaha pemilik CV. Slamet Quail Farm dan juga ketua Asosiasi Puyuh Indonesia, ini jadi satu kebanggaan ketika dirinya mencapi itu. Disisi lain dia juga menginginkannya untuk mengakat nama puyuh lebih lagi. "Saya ingin menjadi profesor puyuh," ujarnya. Berternak puyuh, jelasnya, bisa balik tujuh bulan sejak memulai usaha. Misalnya jika kamu punya modal Rp.15,3 juta, kamu bisa beternak 1.000 ekor puyuh diatas lahan 2x10 meter.

Itu sudah termasuk lima kandang dan pakan untuk sebulan. Asumsi produktifitas 75- 80 persen dimana itu bisa menghasilkan keuntungan Rp.99.000 per- hari. Atau kamu bisa mendapatkan Rp.3 juta per- bulan. Untuk penyakit pada hewan dikatakannya puyuh relatif mudah. Penyakit biasanya ada tetelo dan pilek. Fokus pada puyuh kamu bisa memberi makan- minum, mengumpulkan telur, dan membersihkan kotoran, cuma butuh waktu 45 menit.

"Apalagi kalau kita bisa mengusahakan populasi 6.000 ekor," ujar Slamet menjelaskan. Intinya beternak puyuh itu mudah jelasnya dan untung. Dia sendiri telah beternak puyuh sejak 2002. Semua sekali lagi karena kebutuhan pasar telur puyuh dalam negeri yang besar. Ketua umum Asosiasi Peternak Puyuh Indonesia ini menyebut untuk wilayah di Jabodetabek, Cianjur, Bandung, Bangka Belitung, dan Palembang, dibutuhkan pasokan 8 juta butir telur puyuh per minggu.

Sedangkan mereka baru sanggup memenuhi pasar sebesar 2,1 juta per- minggunya. Jadi pasar masih saja masih kekurangan sekitar 5,9 juta butir per minggu. Permintaan pasar besar dan tidak pernah turun dari harga BEP (Break Event Point) dimana harga berkisar Rp.180 per- butir. Slamet menghitung harga pasaran untuk saat ini Rp.215- 225. Lalu jika kamu mengolahnya bisa mencapai 4 kali lipat. Disisi lain jika orang membeli puyuh selalu tunia.

Slamet mengaku kini usahanya telah memiliki aset 4 miliar. Dengan membudidaya 1.000 ekor puyuh. Ia lalu menyebut angka Rp.14 juta- 15 juta. Angka yang cukup besar tapi tak lebih besar dari menjadi pewaralaba produk tertentu. Angak itu untuk membuat kandang, membeli peralatan, puyuh anakan dan grower yang digunakan 2 minggu pertama. Minggu kemudian ketika puyuh beranjak dewasa tidak lagi diberi makan si grower ini. Untuk fase memberi makan diperkirakannya Rp.100.000 per-hari.

Pemberian pakan anakan itu dua kali sehari yaitu pagi dan siang. Sedangkan jika sudah remaja atau dewasa kamu bisa memberi makan 1 kali sehari di pagi hari. Pakan grower dan lanjutan bisa mudah didapatkan di pasaran. Memang jika ditanya tantangan beternak puyuh, Slamet mengaku, dengan tegas ada dibagian pemberian pakan. Nilanya bisa 90% dari proses produksi. Oleh karena itu membuat pakan sendiri bisa jadi altenatif. Slamet pun membidika pasar ini; dia menjual pakannya sendiri.

Berapa banyak puyuh dimilikinya dari artikel yang kami himpun. Dia punya 320.000 dimana setiap 30- 40 hari, puyuh akan mulai betelur, hitungan kasarnya 75% menghasilkan telur. Atau ia bisa menghasilkan 750 telur per- hari. Puyuh akan terus bertelur sampai maksimal usia 18 bulan. Selepas itu masih bertelur tapi tidak seproduktif sebelumnya. Untuk itulah sebelum umur 18 bulan kamu harus mempersiapkan anakan baru.

Puyuh 18 bulan biasanya sudah dijual oleh pemiliknya. Itu akan dijadikan untuk dipotong dan diolah, benar- benar tak sia- sia. Permintaan daging puyuh juga tinggi ujarnya. Meski dipercaya punya kolesterol tinggi. Ternyata menurut Slamet, telur puyuh cuma punya 500mg/100gr bukan 844mg/100 kg seperi pemberitaan sebelumnya. Kandungan kolesterolnya terbagi atas HDL (Kkolesterol baik) dan LDL (kolesterol jahat). Pada daging puyuh mengandung protein tinggi yaitu sebesar 22,3%.

Kotoran puyuh juga mengandung protein tinggi, sehingga bisa menjadi pakan alternatif bagi pembudidaya ikan.

Artikel Terbaru Kami