Jumat, 27 Februari 2015

Pegawai ITB Berbisnis Sambilan Cireng MLM


Tidak cuma para mahasiswa ITB yang aktif berwirausaha. Itulah kiranya tajuk utama untuk artikel kali ini. 

Faktanya di kalangan pegawai pun ada mereka yang sukses 'nyambi' jadi pengusaha sukses. Ia bergelut dengan jajanan khas Bandung yaitu cireng. Sukses berbisnis cireng, meski hanya sambilan, telah membawa Didin Jaenudin menjadi jutawan. Dia bahkan dijuluki Bram Cireng. Berkat bisnis sampingan kecil- kecilan itu; Bram telah menghasilkan 15 ribu cireng per- hari.

Semuanya dikerjakan bersama sang istri. Awalnya sih, cuma bermodal 500 ribu, itupun hasil berhutang di kantornya. Dimulai di tahun 2006 disaat bisnis cemilan mulai menjamur di Kota Kembang. Yang menarik meski cuma makanan sepele, Bram serius melakukan aneka inovasi rasa dan itu termasuk dengan inovasi cara berjualaannya.

Disebutkan bahwasanya ia menggunakan marketing mirip MLM. Tak perlu repot memasarkan produknya ia pun bisa fokus pada pengembangan rasa. Tercatat dari bisnis cirengnya sudah tercipta 20 varian rasa, diantaranya rasa bakso, ayam, kornet, keju, abon sapi, oncum, blue berry, dll. Dia mampu mempekerjakan 30 orang dalam satu pabriknya. Cabangnya sudah dimana- mana di penjuru Jawa Barat.

Cabanya ada di Ciawi, Depok, Serang, Tangerang, BSD, Jakarta, Lampung, Medan dan Palembang. Ia juga punya tiga cabang khusus di Bantarjati, Kedung Badak, dan Ciawi. Bermodal cuma 500 ribu, uang segitu dikisahkannya digunakan untuk membuat gerobak sendiri. Ketika itu bulan Ramadhan, Bram cuma ikut orang tuanya yang memang sudah berjualan cireng. Diolahnya itu sedemikian rupa dengan segala ilmu tentang marketing.

"Saya berjualan cireng karena berawal dari faktor ekonomi. Hal inilah yang mendorong saya untuk tetap hidup. Kalau orang tua saya hanya menjual saja, tapi saya menjual dengn kreativitas dan konsep MLM," ujar pria kelahiran Bandung, 30 Januari 1978 ini.

Modal segitu juga punya kisahnya sendiri. Disebutkan bahwasanya ide bisnis itu tak didukung oleh dana. Ia pun mencoba meminjam teman dan kesana- kemari. Hingga kantor lah yang meminjamkan uang tersebut kepadanya. Lantas gerobak itu didorongnya ke Taman Kencana. Disanalah ia berjualan bersama sang istri mencoba bertaruh nasib.

"Saya mulai membuat gerobak dengan tangan saya sendiri di Taman Kencana. Cat dan kaca gerobak  saya mencoba pinjam dari teman, modal uang pun pinjaman dari kantor," ujarnya.

Nasib baik belum datang hingga lima bulan sudah usahanya dijalankan. Belum ada pemasukan sejak ia mulai bisnisnya tersebut. Suatu hari terbersit ide gila yaitu membuat 1.000 buah cireng. Ia lantas membagikan itu ke orang- orang secara gratis. Meski Bram sadar itu adalah pertaruhan besar karena modal untuk besok sudah tak ada.

"Saya mencari teman dan orang di jalan, kemudian cireng itu saya bagikan gratis. Alhamdulillah sejak peristiwa itu banyak orang berdatangan, mulai dari ingin bekerjasama hingga ingin menjadi pelanggan setia," ungkap Bram.

Bram lalu menerapkan sistem MLM dalam bisnis cirengnya. Tak berapa lama bisnisn cirengnnya pun berlari kencang sejak saat itu. Berawal produksi 300 buah kini sudah mencapai 15 ribu cireng perhari. Mulai dari satu orang  karyawan menjadi 130 karyawan yang berada di cabang-cabangnya.

Artikel Terbaru Kami