Jumat, 27 Februari 2015

Batik Papua Port Numbay Kisah Jimmy Afaar Desainer Unik

 

Profil Jimmy Hendrick Afaar


Memang Indonesia dikenal dengan ragam coraknya yang kaya. Tidak cuma di ujung Sumatra tapi hingga ke ujung Papua; kita akan menemukan motif itu. Dari motif yang tak ada sangkut pautnya dengan batik lantas terjadi asimilasi budaya. Disanalah muncul aneka batik dengan aneka ragam unik. Kontras dengan batik khas Jawa, maka Batik Papua, memiliki ragam motif seperti tifa atau binatang- binatang khas Pulau Papua meliputi burung sendrawasih atau pun biawak.

Meski peminat batik Papua makin banyak tapi masih mahal. Tapi justru dari sinilah ada nilai eklusipan pada coraknya. Tak banyak orang bisa memakai batik Papua mungkin ini maksudnya.

Ada sosok Jimmy Afaar salah satu pelopor usaha bisnis batik Papua. Awalnya dari kesenangan akan aneka corak batik khas Jawa. Ia pun rajin belajar ke Jawa sendiri, yaitu Pekalongan, untuk belajar bagaimana agar batik Papua semakin beragam. Hasilnya tak cuma dia sukses dalam berbisnis. Namanya menjadi salah satu pentolan dalam pengolah batik Papua yang dikenal unik. Batik miliknya mampu terjual dari Papua ke Jakarta dan Surabaya.

Di luar negeri, nama Jimmy dan Batik Papua bisa terdengar hingga kawasan Eropa. Dia pernah melakukan satu pameran di Italia. Pria asli Papua ini bahkan sempat belajar langsung dari desainer kondang seperti Poppy Dharsono untuk belajar membatik.

Batik Papua Jimmy


Menurut pria yang telah memulai berusaha batik sejak 21 April 2007 ini. Ia berkata batik Port Numbay merupakan tradisi sekaligus masa depan. Jimmy mengaku telah mematenkan Port Numbay menjadi salah satu jenis batik asli Papua. Nama ini sendiri merupakan nama lain dari kota Jaya Pura. Yang di sana lah ada banyak perajin dan pengusaha batik, salah satunya adalah dirinya sendiri. Dia pun berharap Port Numbay akan menjadi sentra usaha batik Papua.

"Sebelum batik, dari tahun 1980 sampai 2006, saya bergabung dengan kelompok desainer," ungkap Jimmy, yang ternyata seorang desainer pakaian bukan cuma pembuat batik biasa.

Untuk menjaga kualitas ia bahkan rela mengundang guru ke Jaya Pura. Ini dimaksudkan agar bisa mengkaya ragam corak batik Papua sendiri. Kenapa harus enggan? Dengan hal ini Jimmy mengharapkan mereka yang dari Jawa ini, bisa membantu pekerjanya agar memahami kesenian batik. Meski batik miliknya masih dalam konsep batik tulis. Ini sekali lagi justru membuatnya menjadi eklusip meski jatuhnya jadi mahal.

Tumbuh usaha batik Papua Jimmy terhitung cukup pesat. Tercatat sudah memiliki 15 karyawan dan sudah memiliki anek motif, bahkan sudah bisa mengembangkan model batik cap. Untuk batik cap maka pekerja laki- laki yang bertugas. Sedangkan untuk batik tulis maka para perempuan lah yang bekerja dengan tangan trampil mereka. Harga batiknya ada dikisaran Rp. 200.000 sampai Rp. 2,25 juta per- potongnya. Pada awalnya Jimmy bercerita baru bisa membuat 16 potong kain per- bulan.

Kini, usaha batik Papua miliknya sudah bisa mengantongi Rp.20 juta per- bulan. Jimmy mengaku pernah ikut Poppy Darsono yang agaknya mempengaruhi bisnisnya. Selain cuma memproduksi kain, ia juga bisa loh untuk membuatkan pakaian pernikahan berbahan batik Papua. Untuk bahan ia memilih memakai kain yang berjenis katun bukan sutra. Dijelaskannya bahwa iklim Papua yang cenderung panas membuatnya agak sulit mengolah sutra.

Namun, dia mengaku tetap memproduksi kain sutra, meski untuk produksi yang terbatas atau cuma untuk pesanan khusus saja.

"Saya jarang buat sutra, lebih banyak katun," imbuhnya lagi, kemudian ia menjelaskan bahwasanya proses pengerjaan bahan sutra itu memakan waktu 3 bulan.

Ia sangat berharap agar melalui batiknya berarti memperkenalkan indahnya budaya Papua. Disini Jimmy ingin agar setiap orang memakai batiknya darimana pun asalnya. Dari batik buatannya maka orang setidaknya akan tau budaya Papua, atau setidaknya tau bahwasanya Papua itu Indah. Ia lantas menjelaskan aneka motif pada batiknya meliputi aneka daun- daunnan. Dalam maknanya daun merupakan sumber obat- obatan di tanahnya, Papua.

Artikel Terbaru Kami