Minggu, 01 Februari 2015

Mantan TKI Punya Pabrik Roti KickAndy

Seperti pemuda lainnya mereka selalu bertanya "mau kerja apa?". Utamanya selepas mereka lulus kuliah, begitu juga Mistar, seorang pemuda asli Langkat, Sumatra Utara. Pemuda kelahiran 25 Agustus 1977 ini awalnya mau jadi pengusaha. Itulah kiranya yang mendasari ia masuk ke jurusan Tata Niaga. Dan, seperti juga pemuda lainnya, selepas kuliah ia justru terbentur kenyataan. Ia merasa bimbang setelah menyelesaikan kuliah D3 -nya di Akademi Maritim Belawan, Sumatra Utara.

Mau kerja apa?

Sekarang itulah yang ada dibenaknya. Dia kebingungan mencari kerja. Terlebih saat itu sudah bertahun- tahun Indonesia dilanda krisis ekonomi. Boro- boro bermimp jadi seorang pengusaha. Yang ada ayahnya, Muhammad Sari, dan pakciknya, Suryadi, menjadi salah satu korban PHK besar- besaran saat itu. Untung akhirnya dia bisa bekerja di sebuah pabrik roti di Tanjungpura. Sayang, nasib buruk menimpanya, toko roti kecil- kecilan itu tutup.

Sang pemilik toko roti yang kebetulan etnis TiongHoa takut jadi korban. Disaat bekerja disana menjadi satu pengalaman tak terlupakan bahi Mistar. Dia mengaku dari sanalah keinginan jadi pengusaha timbul lagi. Disisi lain sang ayah membuka toko kelontong sendiri di rumah. Sebuah toko kelontong kecilan di rumah mereka yang berbatas kebun kelapa sawit PTPN II Tanjung Bringin. Sementara itu paciknya bekerja serabutan.

Menjadi pengangguran berbulan- bulan membuat Mistar galau. Dia mengaku sempat bekerja di satu pabrik elektronik di Tanjung Morawa. "Tapi tidak lulus tes kesehatan," ungkap Mistar. Kecewa hati ia kembali ke rumah dan menjadi pengangguran. Menyandang status pengangguran kira- kira selama hampir setahun. Dia pun memutuskan menerima kesempatan menjadi TKI.

Pada tahun1999 ia resmi mendaftarkan diri menjadi TKI. Sejak awal dia meyakinkan diri berngkat menjadi TKI untuk mengumpulkan modal. Ada satu usaha yang ingin dijalankannya di kampung halaman. Sejak lama ia memang mendambakan membuka usaha sendiri. Keinginan menjadi pengusaha semakin menguat dalam diri Mistar.

Menjadi TKI


"Banyak anggota keluarga kami yang tidak punya pekerjaan. Saya tidak pernah berpikir untuk menjadi pegawai negeri sipil atau tentara, memiliki usaha sendiri adalah harapan saya," kata Mistar menjelaskan.

Seperti yang dikutip dari acara Kick Andy. Mistar telah bekerja di sebuah pabrik tekstil di Negeri Sembilan, Malaysia. Dia menjelaskan bahwa gajinya (gaji pokok) 430 ringgit per- bulan. Tak berpuas diri dengan gaji yang diterimanya. Mistar memilih bekerja keras dengan kerja lembur. Melalui cara itulah ia mampu mendapat sekitar 1000 ringgit per- bulan. Beda teman- temannya, ia tak terpikir untuk membeli tanah atau membangun rumah.

Menurut dirinya banyak teman- temannya sesama TKI memilih menggunakan uang mereka membeli tanah atau membangun rumah. Namun, selepas habis masa kontrak mereka, mereka justru pulang ke Indonesia tanpa pekerjaan. Alhasil mereka akan kembali ke Malaysia lagi mencari pekerjaan. Beda Mistar yang ingin punya usaha sendiri. Ia semakin termotifasi untuk jadi pengusaha.

Rencana awal cuma mau bekerja dua tahun di Malaysia. Tetapi uang modalnya tidak cukup. Jadinya Mistar tercatat tiga tahun bekerja di Malaysia. Ia mengenang sekitar delapan bulan sebelum pulang kampung Dia tercatat mengirim uang 20 juta kepada sang bapak. Uang itu bersama pakcik digunakannya untuk membuka usaha roti bernama Family. Pilihan untuk membuat pabrik roti lantaran pakcinya pernah bekerja bersama dengannya di toko roti.

Tercatat sejak 1970 -an, pakciknya telah bekerja dengan pengusaha pembuat roti keturunan TiongHoa. Dulu ia dan pakciknya memang pernah bekerja di toko roti. Dijelaskan pengalaman membeli bahan baku roti di toko bahan pokok Tanjung Pura yang bisa dihutang menjadi alasan lain. "Minggu ini kami membeli bahan untuk roti, satu minggu kemudian baru dibayar," jelasnya kepada Majalah TIM.

Nama Family sendiri dipilih bukan tanpa alasan. Karena memang yang bekerja disana rata- rata masih satu keluarga besarnya. Mulai dari pakcik, bapak, serta tiga adiknya kerja bahu- membahu. Ide bisnisnya yaitu membuat roti seharga Rp.500 per- buah untuk masyarakat kelas menengah- kebawah. Dia bercerita jika tabungan tiga tahun kebanyakan habis untuk pabrik rotinya.

Mulai dari membeli peralatan dapur, membangun pabrik berdinding anyaman bambu beralas semen, yang mana terletak di belakang rumah orang tuanya. Ah, juga untuk membeli alat pembuat adonan, yang mana itu dipesan dari bengkel las kenalannya. Ongkos pembuatan alat ini saja menghabiskan sekitar Rp. 2,5 juta. Jika membeli di toko langsung jadi bisa seharga Rp.6 juta jelasnya. Mistar juga membangun ruang penguapan kue. Ruang seluas 2x2 meter itu beratap rendah dan ditutupi korden.

Uapnya itu berasal dari dua kompor yang terus mendidihkan panci berisi air. Dijelaskannya bahwa uap inilah yang membuat ruangan itu menjadi hangat. Pelan- tapi pasti usaha Family bakery mulai berkembang. Bahkan tak segan mereka mulai pinjam modal dari Bank. Dia menjelaskan meminjam Rp.50 juta dari Bank Sumut Syariah. Dia juga mendapatkan pinjaman 10 juta dari Lembaga Peningkatan dan Pengembangan Kesejahteraan Masyarakat (LP2KM).

Ketika di tahun 2002, produksi dari Family membutuhkan 5- 6 karung terigu tiap harinya. Jumlah karyawan miliknya kala itu cuma 10 orang. Sekarang jika membuat roti bisa membutuhkan hingga 15 karung serta jumlah karyawan meningkat 70 orang. Totalnya ada 25 orang dibidang produksi dan 25 orang lain di bagian pemasaran. Bagian pemasaran membawa roti- rotinya ke ke sejumlah warung di Langkat, Binjai, Deli Serdang, hingga sampai ke Aceh Timur.

Sisanya 20 orang akan bekerja lepas membungkus roti. Perlu kamu tau selain memproduksis sendiri. Family juga menerima pemasaran tiga produsen roti kering di desanya. Salah satu usaha itu dijalankan sesama mantan TKI bernama Tina Melinda (32) yang telah memiliki 26 keryawan. Agar kualitas terjaga, setiap tiga bulan sekali ada petugas kesehatan mengecek kualitas pangan.

Dia menjelaskan sangat terbantu adanya Badan Pelayanan Penempatan dan Perlindungan TKI (BP3TKI). Ia menjelaskan sering mendapatkan dorongan dan pelatihan. Hasilnya ia tak berpikir cuma bekerja di negeri orang tapi berpikir membuka usaha disini. Dia menjelaskan badan itu selalu rutin mengajak pertemuan. Ia pun tercatat sebagai salah satu mantan TKI terbaik. Pada 2006, Mistar resmi menyandang gelar itu melalui sebuah penghargaan.

Penghargaan yang langsu diberikan Erman Suparno, Menteri Tenaga Kerja saat itu. Ia mantap untuk berkata sangatlah senang bekerja keras di kampung sendiri. Dia berkata diacara KickAndy bahwasanya bekerja di negeri orang berarti ketinggalan di negeri sendiri. Sebuah pernyataan bahwasanya seorang TKI jangan melulu soal mencari uang. Mereka juga bisa membantu orang lain dan tumbuh dengan usahanya sendiri di negeri sendiri.

Artikel Terbaru Kami