Selasa, 03 Februari 2015

Buruh Migran Hong Kong Richa Susanti Pengusaha Warteg

Mantan TKI Hong Kong ini sudah jadi buah bibir di berbagai media digital. Utamanya ketika kemunculannya di acara Kick Andy. Siapakah dia Richa Susanti yang kini menjadi pengusaha kuliner di Malang Jawa Timur. Dia sudah aktif mengikuti berbagai pelatihan kewirausahaan. Total dia bekerja selama 8 tahun berturut- turut. Semua untuk memenuhi kebutuhan sehari- hari di Indonesia.

Bolak- balik dari Hong Kong- Indonesia hasil dari usahanya itu cukup lumayan dibawa pulang. Icha sendiri mengaku berat harus meninggalkan keluarganya. Berat memang terutama meninggalkan anaknya. Waktu itu ia menjelaskan anaknya masih berumur 2 tahun. Ketika di Hong Kong dia masih menyempatkan diri untuk berkomunikasi. Butuh proses ekstra apalagi anak- anak sekecil itu.

Richa menjelaskan dia dan sang anak akan bersama mengerjakan PR via telephon. Suatu hari ada kejadian mengejutkan ketika suaminya mendadak meninggal dunia. Dimana dia tak sempat melihatnya. Anaknya saat itu dititipkan orang tuanya untuk mengasuh. Namun, kesedihan semakin menjadi, kali ini ketika terjadi sesuatu kepada anaknya dia tak bisa disana. Dia cuma bisa mendengar dari jauh. Tak bisa mendampingi anaknya ketika ia sakit- atau pun bersekolah.

Tak jelas tumbuh kembangnya jelasnya disebuah wawancara oleh situs Ciputra Entrepreneurship.

"Sebagai orang tua satu- satunya bagi anak saya, saya merasa berdosa. Itulah mengapa saya pulang dan memutuskan berwirausaha saja," ungka Rischa.

TKI Hong Kong


Menjadi TKI di Hong Kong, dia tak bisa melihat sang suami meninggal dan tak bisa melihat perkembangan sang anak. Ini benar- benar jadi tekanan tersendiri baginya. Dia pun memutuskan untuk pulang membuka usaha sendiri. Sementara itu sebagai modal Richa aktif mengikuti pelatihan Mandiri Sahabatku. Satu program yang dicanangkan oleh Bank Mandiri. Usaha pertama dijalankan olehnya ialah berjualan aneka pakaian dari online shop.

Cara berbisnis online -nya cukup mudah jika dibayangkan. Ia membeli produk dari sana lalu dijualnya ketika pulang ke Indonesia. Sebaliknya dia bisa menjual barang dari Indonesia disana. Produknya meliputi baju, gamis hijab.dll. Untuk menambah pemasukan dia juga berjualan pulsa disana. Tak berhenti, ia sempatkan untuk membuka lapak, di Victoria Park dibukannya lapak menyasar sesama TKI. Enam bulan telah berlalu dari rencananya untuk berhenti jadi TKI.

Dimasa persiapan batin untuk pulang kembali ke Indonesia dan berhenti. Kisah pilu menimpanya lagi, ia pun bercerita sambil meneteskan air mata, sang ayah meninggal dunia sebelum dia benar berhenti total. Akibatnya Icha menjadi panik mendengar kabar itu -harus pulang bagaimanapun caranya. Pada saat itu kontrak satu tahun beru dijalankannya separuhnya. 

"Ayah saya meninggal padahal almarhum adalah orang yang menjadi sandaran dan pendengar aspirasi saya. Saya sempat tertekan karena saya merasa orang-orang yang saya sayangi dan menjadi sandaran sudah tidak ada. Sebagai anak sulung, kini ibu dan 2 adik mengandalkan saya pula. Saya merasa ragu dengan kemampuan saya menjadi sandaran bagi mereka. Tetapi kembali saya meyakinkan diri sendiri bahwa saya bisa dan lakukan yang terbaik."

Majikan di Hong Kong tak tinggal diam. Mereka sempat menawari gaji lebih 80%. Mereka juga menawari sistem pulang setiap setahun sekali. Dia tak goyah sama sekali. Namun, ketika mereka mendengar kabar tentang ayanya. Mau- tak mau akhirnya Rischa diperbolehkan untuk pulang. Ayahnya disebut Icha sebagai sosok sandaran selapas tak ada suami. Dia sumber inspirasinya dan ketika harus mendengar kepergian dia; Rischa benar- benar tertekan dan down.

Sebagai anak sulung, kini, ibu dan kedua adiknya mengandalkan dirinya. Beban hidupnya dirasa semakinlah berat. Tapi dari sini ia yakin kembali ke Indonesia. Dia yakin untuk membuka usaha sendiri di Indonesia. Untunglah selama bekerja di Hong Kong, ia meminta untuk uangnya dijadikan modal. Selama di perantauan ia sempat berpesan kepada orang tua untuk mulai membuka usaha. Sepulang dari Hong Kong usaha itu lantas dilanjutkan oleh Icha.

Perkembang bisnis kecil- kecilan itu baik. Meski diawal sempat terjadi penurunan tapi sekarang terus naik. Semua berkat pelatihan di Hong Kong. Dia fokus mengaplikasikan semua pengetahuan itu. Pernah laba itu turun 2 juta, tapi tak pantang menyerah, Icha berhasil menaikan untung hingga Rp.3,5 juta. Fokusnya ada di peningkatan pelayanan jelasnya. Usaha warung makan yang diberinya nama "Barokah".

"Warung Barokah saya terletak di sekitar kampus UMM, Malang. Di sana banyak mahasiswa sehingga kebanyakan pelanggan saya ini mahasiswa," jelas Icha.

Kepada Andy F. Noya ia menjelaskan, pertama kali membuka warteg bermodal kecil. Sebuah warteg yang diberinama "WABAH" atau "Warung Barokah". Menyasar para mahasiswa ia bermain- main dengan anek pelayanan menarik. Ia menerapkan konsep kartu ajaib. Yaitu kartu berlangganan Wabah, nama kamu akan dicatat, berapa kali kamu makan disana. Nah, melalui kartu ini kamu bisa mendapatkan diskon khusus. Ini konsep member card jelasnya kembali.

Tak berhenti dia juga menggunakan layanan "kejutan". Apa kejutannya yaitu kamu bisa mendapatkan satu es teh gratis. Intinya ada gimmick- gimmick agar usaha itu ramai dan berbeda. Membuat penasaran mahasiswa- mahasiswa pelanggan disana. Selain berbisnis warteg, dia melanjutkan bisnis lain, yaitu bisnis kuliner bakso bernama "Bakso Tersenyum". Dulu cuma mempekerjakan 4 orang kini ia bisa mempekerjakan 8 orang jadi karyawan.

"Bakso Tersenyum. Jadi dulu ini saya buat saat ada lomba wirausaha dan saya memilih kategori ide bisnis. Lalu saya wujudkan sekarang menjadi bisnis nyata dan mendatangkan untung," ungkapnya.

Insting bisnis tumbuh di Hong Kong. Dia mampu melihat faktor lingkungan tepat. Berbisnis dengan tepat dimana dia menyasar sekitara kampus. Selain berbisnis kuliner dia sempat pula berpikir tentang membuka usaha kos- kosan. Tepatnya dia mau membuka kos- kosan diatas warung makan. Dia lantas memberikan kita wajangan tentang kewirausahaan untuk para pekerja migran. Dia menyebut jangan lantas tergiur dengan kenaikan gaji.

"Menurut saya, jangan takut untuk melangkah maju. Segala sesuatu akan mengambang saat belum dilakukan, tetapi kalau terus ragu pasti tidak akan bisa maju. Jadi saran saya, jangan pikirkan hasil atau akibatnya, pikirkan prosesnya. Fokus ke setiap langkahnya yang harus diambil. Kalau memikirkan hasilnya, bangkrut tidaknya, pasti akan ragu," tutup Icha.

Artikel Terbaru Kami