Sabtu, 28 Februari 2015

Entrepreneur Printer 3D Bret Pettis

 
Siapa sangka printer 3D telah memasuki ranah non- plastik. Jika kita bertahan pada konsep printer ini cuma buat bikin model dari plastik. It's damn wrong. Ini dibuktikan oleh seorang Bret Pettis, entrepreneur geek asal New York, Amerika, yang sukses menggabungkan bakat seni dan bisnis. Tak tanggung- tanggung dia lah penemu Makerbot sekaligus CEO perusahaan printer 3D. Perusahaan yang tak hanya membuat produk dari plastik, dengan mesinnya, Bret memampu membuat bahkan batu kapur.

Dikenal sebagai video blogger dan mutli- artist, jika kamu ingin terinspirasi ikutilah videonya di majalah MAKE. Dia fokus pada aneka DIY untuk video blognya ini. 

Pria 42 tahun kelahiran Ithaca, New York. Di umur 13 tahun dia pindah ke Seattle dan lulus dari Bellevue High School. Pettis lulus 1995 dari The Evergreen State Collage, kamu tau apa jurusannya. Dia mengambil banyak jurusan dari psikologi, mitologi, dan seni pertunjukan. Setelah lulus kuliah ia 'cuma' bekerja menjadi kameramen. Disinilah mungkin hasratnya tentang seni utamanya seni grafis video -audio muncul.

Startup printer 3D


Dua pekerjaan 'aneh' digelutinya sebelum akhirnya kuliah lagi di Pacific Oaks Collage. Dia pernah bekerja sebagai pekerja lapangan sekaligu asisten kamera disebuah film di Praha. Dia lantas bekerja sebagai asisten di Jim Henson's Creature Shop. Apa itu? Perusahaan dibidang animas, visual efek, dan aneka pembuatan boneka untuk pertunjukan. Jangan salah, perusahaan ini berdomisili di Hollywood, Pettis termasuk beruntung soal ini.

Tumbuh jiwa seninya tepat didalam kerjanya. Dia lantas bekerja sama dengan beberap orang membangun satu startup bisnis tentang printer 3D. Di jamannya ketika itu printer 3D dan olahannya cumalah satu hal yang aneh dan terlalu ajaib untuk dimiliki semua orang. Dorongan ingin agar printer spesial bisa menjadi milik setiap orang lah mendorongnya.

"Tujuan kami adalah untuk membuat manufaktur yang mungkin bagi semuanya, untuk desktop milik semua masyarakat, " katanya.

Makerbot lantas hadir dan sukses mengembangkan perangkat keras 3D. Salah satu produknya yaitu printer seukuran oven. Namanya Replicator 2, seharga $2.200, mungkin kala itu jadi terlihat sangat mahal. Tapi ini sejalan dengan tren dan harganya kini telah turun dari segitu. Printer 3D disebutnya sebuah revolusi yang akan membuat segalanya menjadi mungkin. MakerBot terbukti menghasilkan aneka perhiasan, mainan, dan lebih dari itu.

Salah satu yang menjadi idola, karyanya sendiri, yaitu sebuah tangan buatan dari printer miliknya. Dimana ia tunjukan ketika menjadi panelis sebuah acara bertajuk Clinton Global Initiative. Sebuah tangan buatan yang dibuat oleh MakerBot yang diperuntukan untuk seorang tukang kayu asal Afrika. Mengharukan kisahnya, tukang kayu ini kehilangan empat jarinya ketika bekerja. Pettis terinsipirasi untuk membantunya lewat usaha sendiri MakerBot.

Setelah tau bahwa harga tangan buatan seharga $10.000 untuk setiap jari. Ia pun memilih membuatkannya sendiri, dibantu beberapa desainer asal Seattle. Bermodal koneksi internet dihubunginya mereka untuk ikut dalam proyek kemanusiaannya. Kala itu proyek ini bertujuan membuat tangan robotik mekanik, yang lantas diberi nama Robohand, yang kemudian bisa orang download konsepnya dari Thingverse. Kala itu MakerBot mengumpulkan 160.000 desain lebih.

Cuma bermodal $5 untuk materialnya dimana MakeBot sudah punya alatnya. Sebuah kesempatan bagi si tukang kayu tersebut. Sukses MakerBot terus berlanjut bahkan tumbuh menjadi 260 pegawai dan punya markas sendiri. Lahirlah sebuah perusahaan sendiri yang bahkan sudah punya retailer sendiri. Ya, pada bulan November sudah ada 25.00 printer terjual dan sebuah toko retailer sendiri di Manhattan. Setelah itu dua toko lain menyusul masing- masing di Greenwich, Conn dan Boston.

Di Juni, MakerBot melakukan marger dengan perusahaan sejenis, Stratasys, perusahaan asal Minneapolis. Mengumumkan marger senilai $405 juta, dimana manaruh perusahaan MakerBot menjadi subsider, yang fokus pada pengembangan printer 3D lebih mainstream.

Pettis mempunyai passion untuk membuat sesuatu dengan kreatifitasnya. Blog -nya bernama 'I Make Things' berisi segala pengalaman dirinya. Dia dikenal sebagai seorang pemikir sejak kecil. Ketika kecil dia sudah berpikir membuat sepedanya sendiri dan memperbaikinya ketika rusak. Ini sebuah keahlian yang sangatlah mendukung hidupnya. Namun yang membuatnya berbeda ialah fakta bahwa dia ingin membuat orang lain bisa seperti dirinya.

Tak lama, presentasinya di aneka media termasuk blog pribadinya menarik perhatian orang- orang di majalah MAKE. Pada tahun 2006, ia mulai memproduksi dan mengunggah 'Project Weekend', yaitu majalah video podcast, di mana ia mengajar jutaan pemirsa untuk membuat segala macam kreasi dari pita, dompet dan kamera layang- layang. Ia juga menciptakan proyek-proyek media baru untuk Etsy, tempat para pengrajin online.

Pettis tinggal di Brooklyn bersama pasangannya Kio Stark dan putri 2 tahun mereka, Nika, yang tidak jauh dari kantornya di Makerbot. Dia suka memainkan banjo untuk bersantai. Pada tahun 2009, ia dan Stark menjabarkan manifastasinya, yang mempunya 13 aturan untuk mencapai kreatitifitas. "Kami menulis dalam 20 menit," lapornya, "karena kami hanya memiliki 20 menit untuk menyelesaikannya." Ini termaktub dalam aneka tutorial mereka di dunia internet.

"Saya tidak tahu saya tidak bisa melakukannya," ujar Pettis, "jadi saya melakukannya."

Artikel Terbaru Kami