Jumat, 23 Januari 2015

Untung Jutaan Bambu Melalui Pengawetan Bambu


Budidaya bambu itu mudah loh. Itulah kiranya yang ditegaskan Prof. Ir. Morisco, Ph.D, seorang Guru Besar di Fakultas Teknik UGM. Dia menyebut bambu bisa ditanam baik di lahan kering atau basah. Masa tumbuh rumpun akar serta batang dibutuhkan lima tahun. Setelah itu, dalam tiga tahun, kita sudah bisa memanennya dalam 3 tahun. Nah, setelah itu, ia menambahkan bahwa kita bisa memanen tiap tahunnya.

Bambu merupakan propsek bisnis. Dan masa tanamnya yang mudah, seharunya, kita bisa memanfaatkan ini sebagai sumber pendapatan. Bicara tentang bambu kita harus mendengar kisah Indra Setia Darma. Sosok ada dibalik usaha Sahabat Bambu. Pendirian Sahabat Bambu sendiri tidaklah lepas dari kejadian gempa bumi di Yogyakarta pada Mei 2006. Pasca gempa baik masyarakat internasional dan nasional mulai melirik ke arah bambu sebagai bahan bangunan.

Justru Sahabat Bambu hadir untuk mengatasi ini. Kala itu selepas gempa, orang mulai berlomba- lomba menggunakan produk bambu baik rumah, sekolah, balai pertemuan dan lain- lain. Selepas terjadinya gempa bahan bambu digunakan besar- besaran untuk rumah korban gempa. Saat itu Sahabat Bambu melihat bambu tidak diperlakukan semestinya. Karena bambu- bambu itu cuma dijadikan produk tanpa mereka mengerti pemrosesannya. Jadilah bambu itu rusak dimakan kumbang bubuk.

Selain mubazir juga eksploitasi berlebihan pada bambu merusak kelestarian bambu.

Pengawetan bambu


Melihat penggunaan bambu secara sembarangan Indra tertarik mengikuti. Ia miris melihat kenyataan bahwa bambu itu mubazir. Selain mencoba membantu Sahabat Bambu juga memiliki peran mengedukasi, selain menguntungkan. Indra menyebut usahanya ini yaitu pengawetan dan konstruksi bambu agar jadi bersifat permanen. Ia yang melihat dimana bambu digunakan pasca gempa untuk smalter. Saat itu cuma bisa bertahan selama 3-6 bulan.

Untuk mengawetkan Bambu, dikutip dari Bisnis UKM, bahwa ia menggunakan Borates untuk menjaga agar batang bambu tidak dimakan kumbang bubuk. Ada sekitar tiga jenis bambu yang dijual Sahabat Bambu yaitu bambu apus, wulung, dan bambu tutul. Usaha yang menjelma menjadi CV. Sahabat Bambu, juga fokus pada konstruksi, mulai dari segi desain, pelatihan, serta tempat budidaya. 

Tercatat sejak kejadi gempa itu ada tak kurang dari 12.000 batang bambu masuk gudang. Dijadikan bahan bangunan dan dimakan kumbang. Indra menyebut usahanya melayani pembuatan gazebo, lantai bambu, dan juga sebagainya. Dalam perjalanannya usaha yang dirintis 2006 ini telah merambah ke luar negeri; mulai dari Filipina, Malaysia, dan Thailand, lalu meluas ke Australia dan Maladewa.

Indra sendiri bukanlah sosok sembarangan. Selain pengusaha muda, dia dikenal sebagai anggota LSM di Yogya, dan perusahaan itulah awalnya LSM -nya sendiri. Sayangnya ketika ditelisik Sahabat Bambu bukan pembudidaya. Selama ini Indar menyebut bambu milinya didatangkan dari Kecamatan Cangkringan, lalu dari Wonosobo, Purworejo, Tasikmalaya, dan lain- lain. Dari mereka bisa menghasilkan 3.000 bambu tiap bulan.

Harga Indra menyebut Rp.24.000 per- batang jenis apus, Rp.27.000 jenis wulung, dan untuk jenis bambu petung seharga Rp.100.000- 120.000. Memanfaatkan strategi pemasaran 90% media online dan 10% dari jaringan yang ia miliki. Untuk omzet dijelaskan bisa mencapai puluhan juta rupiah. Meski usaha bambu ini terbilang menggiurkan, perlunya kebijakan, jika kamu mau berbisnis ini hendaklah juga menjadi pembudidaya agar kelestarian tetap terjaga.

"Ketika kayu banyak dijarah, dan hutan makin gundul, maka hari depan itu ya bambu," ujar Morisco.

Website: sahabatbambu.com

Artikel Terbaru Kami