Senin, 12 Januari 2015

Lika- Liku Bisnis Petani Buncis Prancis

 
Jika kamu petani atau pengusaha dibidang agro. Kamu mesti tau komoditi satu ini, namanya buncis, tepatnya bunci prancis. Ya, sayuran jeni kacang- kacangan asal Prancis ini mulai digemari. Satu hal yang membuatnya spesial yaitu ukurannya, bukan panjangnya, tapi ukuran isinya yang bulat. Buncis Prancis bukanlah buncis asal negara Prancis loh. Nyatanya, buncis satu ini berasal dari Amerika Tengah atau Amerika Latin. 

Lain hal dengan buncis lokal atau buncis TW yang tak ribet penanamannya, buncis Prancis pendek meski lebih berisi. Dan yang pasti kamu perlu tau ada syarat- syarat tertentu dalam penanamannya.

Yuri Prasetyo, pemilik Surya Makmur Agrobisnis asal Prubalingga, menyebut buncis Prancis lebih bergizi ya karena ukurannya. Selain itu rasanya yang manis pastilah sedap dimasak. Meski begitu kebutuhan lokal masihlah sedikit. Ini berbanding terbalik dengan permintaan luar negeri. Dimana ia kemudian mencontohkan, Singapura sebagai negara terdekat, setiap harinya bisa membutuhkan minimal lima ton. Dalam satu bulan, usahanya bisa mengirim 20 ton buncis perhari.

Yuri menjual buncisnya Rp.8.000 per- kilogram. Omzetnya mancapai 160 juta per- bulan dimana marginnya bisa mencapai 15%- 20%. Lagi- lagi kebutuhan dalam negeri yang sedikit cukup merepotkan bagi mereka yang tak paham bisnis ekspor. Meski begitu masih ada kesempatan bagi kamu untuk menjualnya. Kamu bisa saja menjualnya melalui restoran- restoran lokal atau olah sendiri sebagai bisnis kuliner. Rasanya yang manis ditambah kesadaran akan gizi yang mulai membaik.

Fakta buncis


Yang jadi persoalan lain selain belum dikenal. Faktanya harga buncis Prancis lebih mahal. Tapi menurut kami ini tidak menyurutkan potensinya. Disisi lain, Sony Mulyadi, petani lokal Bandung menyebut bahwa pasar lokal yang sedikit dibarengi dengan produksinya yang kecil. Beda Yuri, beda Sony, ia menjual buncisnya dari satu supermarket lokal ke supermarket lain. Dia hanya memproduksi 50 kilogram. Harga jualnya Rp.3.500 per- kemasan 250 gram.

Sony sendiri bukanlah petani sukses mengekspor. Dia hanyalah petani lokal berjualan lokal. Ia sendiri lantas menjelaskan ada syarat tertentu untuk bisa mengekspor. Dari segi budidaya tidaklah sulit, cuma butuh syarat tertentu yaitu soal ketinggian. Yaitu kamu harus menanam di ketinggian 1.000 sampai 1.500 meter di atas permukaan laut. Sedangkan untuk waktu tanamnya sangat singkat 45 hari, dibanding buncis lokal yang bisa dipanen 60 hari.

Sony, petani organik ini, kemudian menyebut bunci Prancis lebih tahan hama. Ia pun membagi rahasianya pada kita. Dia menyebut kamu juga butuh plastik mulsa. Plastik yang membantu penyerapan sinar matahari. Platsik ini juga berfungsi sebagai penahan saat terjadi hujan. Fungsinya agar terlindungi dan tak rontok oleh air hujannya. Sony lantas mengingatkan untuk menghindari bahan kimia.

Sedangkan Yuri punya saran, berdasarkan pengalaman untuk ekspor, ia membagi dua lahan berbeda. Satu ditanami bibit. Lahan pertama ini seluas dua hektar, dia tanami bibit dulu Lahan kedua juga dua hektar yang diisi bibit. Jarak keduanya ada 20 hari sehingga panennya akan berbeda waktu. Ketika lahan telah siap, ia bisa sukses memanen 30 ton. Setelah 30 hari lahan itu tidak akan produktif lagi.

Untuk memenuhi pasar sisanya ada lahan satunya lagi yang bisa dipanen.

Artikel Terbaru Kami