Senin, 12 Januari 2015

Kisah Juragan Batik Pekalongan Menggapai Sukses


Siapa nama juragan batik asal Pekalongan

Dia lah Rusdi Ahmad Baamir. Ternyata keputusannya untuk menggeluti batik tak sia- sia. Sejak UNESCO mengakui batik, bisnis batiknya makin bersinar, siapa dia dan apa yang bisa kita pelajari darinya. Perlu kamu tau, ia adalah pememiliki 11 toko batik di pusat tekstil Tanah Abang. Dia pula jadi pemasok batik di 38 gerai Ramayana Department Store. Totalnya kesemuanya diproduksi oleh dua pabriknya asal Pekalongan, Jawa Tengah.

Sejak kapan Rusdi berbisnis. Jelasnya pria kelahiran Surabaya, 13 Juli 1974 ini, sudahlah berbisnis sejak kecil. Bisnis pertamanya hanya berjualan tali rafi dan plastik bekas di Pasar Ampel, Surabaya. Kesemua dilakukannya lantaran ketika ia masih 10 tahun, ayahnya meninggal dunia. Dia lah penyokong utama ekonomi keluarga. Setiap hari berjualan seperti itu, Rusdi kecil hanya cukup menghasilkan 50 ribu, jelasnya.

Di umur 12 tahun, bisnisnya berjualan parfum dan cendramata asal Arab Saudi. Kebetulan sekali ketika itu ada kerabatnya menawari. Tak terlepas dari bisnis parfum, dari 1993 hingga 1995, selepas SMA, barulah ia mau jadi karyawan. Coba- coba lah dia bekerja di sebuah pabrik sepatu di Surabaya. Meski jika dihitung gajinya kecil, hanya cukup untuk makan tak membuatnya berhenti. Dia tak berkecil hati karena baginya apa yang dilakukannya adalah pengalaman.

"Yang penting dapat pengalaman sebanyak mungkin," jelasnya.

Ketika itu, pertama kali ia hanya bekerja di bagian gudang. Tapi, karena tertarik marketing, ia mencoba- coba cari peluang disana. Ditemuinya seorang kawan yang bekerja dibagian itu. Rusdi membujuk si pegawai di bagian sales marketing itu. Bukannya menjadi sales marketing, ia cuma diajak berkeliling menjual barang. Namun dalam perjalanannya justru Rusdi lah yang banyak menjual. Dia bahkan mampu membuat teman salesman -nya itu jadi peringkat atas dalam penjualan.

Hal tersebut tidak lah berlangsung lama. Dimana ia akhirnya memutuskan untuk keluar dari menjadi "patner" salesman tersebut. Alasannya, Rusdi khawatir ketahuan atasannya tapi semuanya sia- sial. Ketika penjualan temannya merosot, justru perusahaan mencium curiga. Perusahaan lantas menemukan bahwa selama ini Rusdi lah jagoannya. Sadar akan potensi besarnya, bukannya dipecat, perusahaan justru menangkat dia jadi sales marketing.

Pada tahun 1998, perusahaan dihantam krisis ekonomi dan tak mampu lagi membayar gaji karyawan. Dia pun mengundurkan diri.

Usaha batik


Selepas mengundurkan diri secara otomatis kini Rusdi jadi pengangguran. Ia lantas mencoba- coba membuat sepatu sendiri. Dengan bermodal 2 juta rupiah ia mencoba berbisnis sendiri, namun karena kehabisan modal, ia pun gulung tikar. Tak sukses berbisnis sepatu Rusdi bekerja di perusahaan garmen. Kenapa gagal? Dalam analisanya waktu itu memang daya beli masyarakat belum pulih.

Lagi- lagi perusahaan tempatnya bekerja bangkrut. Dia lalu berjualan batik di Pasar Turi, Surabaya. Caranya dia mengambil stok baju batik yang menumpuk di gudang pakaian beberapa perusahaan di Surabaya. Ia baru menjualnya setelah mencucinya terlebih dahulu. Sayang, usahanya gagal, lantaran ia harus bersaing keras dengan pengusaha mapan.

Hingga di tahun 2000, ia mengantarkan saudaranya ke Solo, disana ia secara tak sengaja menemukan pabrik kain yang telah tutup. Di dalamnya ada stok kain lama sejak dua tahun sebelumnya. Ia lantas membeli kain- kain itu seharga Rp.4000 per- yard, kemudian dijualnya Rp.5.000 per- yard ke Pekalongan. Dalam satu hari ia berkisah mampu mengantongi hingga 400 juta dalam sehari saja. Angka yang fantastis dari bisnis penuh kejutan itu. Tapi sayang, lagi- lagi, pada 2002 usahanya bangrut karena kalah bersaing lagi.

Untungnya waktu itu ia sudah membeli rumah seharga Rp.400 juta. Ia banyak belajar dari kegagalan- kegagalan tersebut. Meski lawannya adalah pemilik modal besar, Rusdhi tak gentar mengulang bisnis kain. Tapi kali itu, ia punya cara tersendiri untuk memenangkan kompetisi. Idenya ialah mengolah limbah kain jadi kain batik. Rusdi cuma belajar batik secara otodidak. Dia memulai dengan mengunjungi perjin dan penjahit asli ke kotanya Pekalongan.

Memulai dari nol dia akhirnya menguasai bisnis batik baik hulu hingga hilir. Dia menjual batik- batiknya ke kota asalnya Surabaya. "Ternyata diterima pasar," tuturnya. Setelah memasuki tahun ketiga, tepatnya di tahun 2005 -an, Rusdi mulai memproduksi batik besar- besaran. Waktu itu ia mulai membangun pabriknya dari alat pencetakan, pewarnaan, hingga menghasilkan batik siap jual. Di tahun 2006, ia berhasil membuat satu pabrik baru di Pekalongan.

Tahun 2007, ia baru masuk ke Jakarta, kala itu, Rusdi sudah punya ruko di kawasan Tanah Abang. Sebuah gerai batik bernama Salsa, dimana namanya berasal dari nama putrinya, Salsabila. Kala itu, Rusdi telah bisa menghasilkan 100 juta per- bulan cuma dari satu gerai. Jumlah karyawannya bertambah jadi 300 orang. Di tahun 2009, ia bisa masuk ke Ramayana Department Store.

Artikel Terbaru Kami