Sabtu, 03 Januari 2015

Awal Mula Batik Kukus Nazwa Pastry Mak Nyus


Nazwa Pastry menampilkan apa yang berbeda dari toko pastry biasa. Menawarkan berbagai konsep kue unik. Cara marketing usaha yang terletak di bilangan PLN Ciatuel Bandung itu patut kita tiru. Pagi sudah datang, dan pengunjung sudah memadati outlet miliknya. Beberapa orang terlihat memesan dua- tiga kotak pastry. Pelanggan tempat ini tidak hanya warga Bandung, adapula turis- turis asal Malaysia, Singapura, serta negara tetangga lain

Kebanyakan mereka para turis mendengar kisahnya dari mulut- ke mulut. Adapula yang tau dari media cetak atapun dari media televisi nasional. Kunjungan akan membludak ketika hari besar seperti Idul Fitri. Biasanya jika kamu mau memesan disaat hari spesial ini. Kamu harus memesan terlebih dahulu. Jika tidak, kamu harus rela mengantri.

Siapa pemilik toko pastry Nazwa Pastry, tersebutlah nama Yusman Gunara (37) dan Weni Suci Wulansari (34), pasangan suami istri yang menawarkan menu pastry ramah kantung. Mereka berani menawarkan anek pastry berharga terjangkau. Meski terjangkau rasanya nikmat, unik, dan cocok dibawa pulang untuk acara- acara terntu. Harganya rata- rata masih belasan ribu. Ditambah dengan nama unik, sebut saja ada menu Salju Bakar yang dijual seharga Rp.15.500 dan Batik Kukus Rp.18.500.

Menu diatas dikenal enaknya. Merupakan produk pastry andalan Nazwa Pastry yang ikonik sekali. Mereka biasanya akan memproduksi 400x bok dari 23 jenis kue. Kesemuanya merupakan hasil tangan sendiri Weni Suci Wulansari. Jumlah produksi bisa meningkat berkali lipat ketika musim liburan tiba.

Nama unik



Weni menceritakan awal usahanya. Kisahnya, mereka memulai dengan modal peralatan pinjaman orang tua. Mereka cuma mengeluarkan uang 150.000. Awal usaha cuma mengolah si batik. Kue ikonik dimana kamu akan melihat bagaimana kue dimotif batik. Berlanjut kue Batik Kukus itu terbuat dari kue rol yang berbahan dasar putih telur dan didalamnya diisi selain.

Ia lantas bercerita bagaimana susahnya membuat si Batik Kukus. Adanya bahan putih telur diawal justru jadi tantangan tersendiri. Kala itu Batik Kukus langsung laris manis, banyak yang memesan, dan Weni justru jadi bingung karena tidak mampu menyediakan putih telur. Alhasil dia menciptakan produk lain, entah disengaja atau tidak, jadilah produk bernama Salju Bakar. Tanpa putih telur!

Salju itu sale keju, maksudnya kue yang didalamnya ada sale pisang yang hitam itu (sale pisang, bukan selai pisang), kemudian diatasnya ditaburi keju. Ketika Batik kehabisan stok, barulah si Salju muncul sebagai satu penyelamat. Malahan, Weni mengaku, produk olahanya satu ini justru lebih laku.

Usaha yang dirintis sejak 2007 itu terbukti jadi primadona di Bandung. Pertama kali berjualan, Yusman sang suami bahkan berjualan hingga di depan tempat wisata kuliner di Bandung, seperti di Tahu Tauhid di daerah Lembang, kemudian berjualan di sepanjang Jalan Riau. Awal menjual seperti biasanya Yusman mengaku itu tidak terlalu laku.

"Saya ngampar di Lembang memanfaatkan toko yang tutup setiap Sabtu. Saya juga menyimpan kue di beberapa pedagang kaki lima daerah Cihampelas, tapi yang laku cuma satu. Saya sabar pasti ada jalan keluarnya," kata Yusman.

Alhasil ia hanya kembali ke outlet miliknya. Di rumahnya sendiri, dimana garasinya disulapnya jadi toko kecil. Dia lantas memasang papan bertuliskan bolu gulung didapen komplek. Hasilnya, lagi- lagi tak sukses untuk merenggut sedikit perhatian masyarakat. Tak lekas menyerah ia pun rela merogoh kocek dalam- dalam. Dia memilih menggunakan iklan di berbagai media cetak ternama.

Hasilnya lagi- lagi gagal ditemui. Suatu hari ada saran dari orang tuanya agar mengganti nama jualannya. Pertama kali namanya dijual dengan bolu gulung jadi bolu guling. Hasilnya masih sama saja. Tak berhenti ia mencari nama lain. Jadilah nama Salju Bakar dan Batik Kukus seperti cerita diatas. Kedua namanya lantas dipasang dijadikan ikon Nazwa Pastry. Akhirnya, orang yang lewat di depan komplek menjadi penasaran. Mereka pun mulai berdatangan satu- per- satu mencicipi lezatnya kue buatan istrinya itu.

Mereka datang ke tempatnya, disusul beberapa orang bersama mereka, begitu seterusnya. Sukses dari nama pasangan suami istri ini membuat Nazwa kembali berkreasi. Tersebut nama unik, seperti halnya: Brondong (brownies dong), Nangkub (nangka keju bakar), Nangkarak (nangka rasa coklat), Paku (pisang keju bakar), Salak (sale rasa coklat), PKS (peyeum keju spesial) dan masih banyak lagi hingga sampai 23 jenis kue loh.

Nazwa pun selalu berkreasi dimana minimal dalam 3 bulan akan selalu ada produk baru.

"Istri saya sering baca buku kuliner dan dia fokus sekali. Jadi ada aja saja yang baru dan rasanya enak," kata Yusman.

Berapa omzet Nazwa Pastry? Weni mengaku omzet dari bisnisnya ini telah, bisa mencapai kisaran Rp.3 juta hingga Rp.8 juta per- hari. Menurutnya yang paling besar ketika hari lebaran, atapun adanya long weekend. Sehari bisa mencapai 300 kotak terjual, itu kalau di luar pesanan. Kalau adapun pesanan bisa sampai 1000 kotak terjual. Saat ini Nazwa Pastry telah memiliki 14 karyawan dari yang membuat kue dan juga menjaga toko.

Uniknya mereka tak lupa diri. Selain membuka outlet baru, mereka juga membuka satu rumah untuk anak yatim piatu. Semua konsep marketing diatas memang tampak mudah. Tapi, semua itu kerena mereka selalu mendekatkan diri kepada Allah. Melalui marketing dari mulut ke mulut, kini, Nazwa Pastry cukup melayani para pelanggan yang makin banyak. Dan kesemuanya datang dari media- media besar tanpa perlu mereka mengeluarkan iklan sepeserpun.

Artikel Terbaru Kami