Minggu, 18 Januari 2015

Pengalaman Jadi Karyawan Sukses Seorang Teman


4 Rahasia Tung Desem Waringin


Meski beda peran, menjadi pengusaha atau karyawan sama saja. Harus punya nilai tambah. Setelah punya nilai ini barulah kamu bisa menuntut hak kamu. Ini kisah pengalaman seorang teman. Dia bekerja di sebuah Bank Swasta terbesar di Indonesia. Masuk tahun 1992, waktu itu, ia bercerita pertama masuk bekerja jadi Kader Pemimpin. Bukanlah perkara mudah ia menjelaskan.

Ada proses belajar selama 15 bulan. Setiap minggu teman saya ini menjelaskan setiap tiga bulan ada ujian. Layaknya ujian skripsi katanya. Fungsinya untuk menentukan kualitasnya dalam perusahaan. Hasilnya? Tak mengecewakan, bekerja keras, dia pun diangkat menjadi Wakil Pemimpin Cabang Utama di Cabang Kelas Wilayah kelas wilayah. Katanya sih butuh waktu 21 bulan tapi dia bisa dibilang cepat.

Sukses membangun nilai tambah lagi. Dia dipromosikan sebagai Kepala Cabang hanya dua tahun saja. Lalu gajinya pun naik 1200 persen atau dua belas kali lipat dalam waku 6,5 tahun berkarir. Sudah pua bekerja di perusahaan satu itu. Ia siap pindah ke perusahaan lain. Sukses membangun nilai tambah membuat "merek" nya layak ditempatkan di tempat khusus: Wakil Direktur!

Percaya atau tidak tak masalah. Yang terpenting ilmunya kami menyebut. Dia lantas membagi rahasianya:

1. Bisa dipercaya

Yap, kejujuran mahal itu bukan omong kosong. Tidak bisa dipercaya tidak ada karir. Menjadi dipercaya atau tidak garisnya tipis. Ia pun lantas bercerita: Ketika ia menjadi wakil pemimpin. Saat itu ia tak tau kalaunya telephon pribadi di kantor diawasi. Untunglah kala itu ia selalu minta print penggunaan telephon dengan kode passwordnya tiap bulan. Ya, teman kami itu lantas membayar semua tagihan itu sendiri baik lokal maupun interlokal. Disisi lain ada wakil pemimpin lain yang marah- marah karena diminta tagihan.

Juga kamu tak akan pernah tau jika tengah dites atasa atau tidak, jelasnya. Teman kami itu lantas bercerita lagi. Ketika itu dia sudah jadi Wakil Presiden Direktur, kisahnya ketika itu, ia tengah berkunjung ke sebuah perusahaan rekanan. Oleh pemilik perusahaan itu ia diberi amplop ucapan terima kasih dan tentunya hal itu terlarang di kantornya; ia pun menolaknya. Eh sorenya ia mendapatkan telephon dari Wapresdir yang juga merangkap sebagai Kepala Divisi HRD (sekaligus anak pemilik perusahaan!).

Seperti yang kamu akan kira. Dia diberikan ucapan selamat. Dan, semua itu bagian dari test perusahaan, lalu si Wapresdir siap mempromosikannya jadi pemimpin cabang. Langsung! Bisa terbayang jika ia menerima amplop tersebut. Tidak ada promosi. Tidak ada karir lagi. Masuk daftar black list. Mungkin tidak dipecat, namun mau sampai kapan jadi karyawan biasa?

2. Punya nila tambah

Diakui atau tidak, sadar maupun tidak, jika kita berkarir pastilah dibanding- bandingkan. Usahakan kita bisa punya nilai tambah itu pesanya. Caranya: ambil tanggung jawab lebih, kerja ekstra. Jadilah yang terbaik di bidang yang dimonitor atasan atau kita buat atasan mengetahui bidang terbaik kita. Membuat atasan melihat kemampuan kamu.

Cara yang terbaik menurutnya:

a. sadar bahwa kita mau yang terbaik dalam pekerjaan
b. alasan untuk menjadi yang terbaik juga bisa berasal dari orang- orang yang kita cintai
c. belajar dari teman yang terbaik

Ketika berkarir teman kami itu bercerita sukses memiliki serangkaian prestasi, yaitu Hasil Audit Terbaik di Indonesia, Pertumbuhan Kartu ATM Terbesar, Pertumbuhan Kartu Kredit Terbesar, Tingkat Mati ATM Terendah Seluruh Indonesia.dll. Semuanya karena point a- c diatas.

3. Pribadi menyenangkan

Meski menjadi terbaik di karir jangan lupa teman. Tetaplah low profile. Berbudayalah sopan santun, inisiatif jika ada masalah, semangat, antusias, positif dan paham 3T (Timing, Teknik, dan Tempatnya).

4. Dikenal orang tepat dan jumlahnya banyak

Layaknya teori pergaulan umum. Carilah orang yang tepat mendukung karir kamu. Kita harus dikenal dari cuma office boy sampai atasan kamu. Pastikan dekat dengan yang memiliki kompetensi atas gaji kamu. Ia juga menyebut pilihlah teman yang mempromosikan kebaikan kamu. Tidak cuma dari perusahaan yang sama, bisa juga dari perusahaan lain, atau atasan perusahaan lain. Jangan batasi.

Ikutilah organisasi, perkumpulan, asosiasi, dan beranilah tampil jadi pemimpin. Ia melanjutkan bahwasanya dia pernah aktif di kegiatan Asosiasi Management Indonesia,  bahkan teman kami itu sempat menjadi Ketua Umum hampir satu periode di kota Malang dan satu periode di kota Jakarta.

Artikel Terbaru Kami