Jumat, 16 Januari 2015

Bayar di Alfamart Gratis Tanpa Ribet Dengan Kartuku

  
Meski sudah berjalan lama bisnis Kartuku nampaknya berubah jauh. Terutama setelah sosok Niki Luhur hadir. Tepatnya ia bergabung pada tahun 2006, fokus merombak serta merestrukturisasi isi perusahaan tersebut. Tujuannya ialah membangun konsep infrastruktur pembayaran. Makin berkembangnya tren untuk tak membawa uang tunai coba dimanfaatkan baik- baik.

Sebenarnya nama layanan Kartuku sudah ada sejak 2001. Awalnya mereka menawarkan produk EDC dan kartu untuk bank. Niki lulusan Tufts University, berpredikat macna- cumlaud, datang membawa arah baru bagi perusahaan. Hasilnya dalam catatan SWA, dia berhasil membawa 50 juta transaksi non- tunia tercatat pada tahun 2013. Kartuku sukses menghasilkan 50 juta transaksi dari total 350 juta yang ada di seluruh penjuru Indonesia.

Dari cuma memiliki 33 karyawan berhasil melompat 400 karyawan pada 2014 saja. Banyak sudah toko- toko bahkan mall besar, seperti Alfamart, McDonalds, Matahari, serta Okeshop telah menerima Kartuku jadi bagian pembayaran non- tunai. Ia pun menyebut semua karena fokusnya pada produk. Bukan soal proyek. Dan benar saja Kartuku pun tumbuh menjadi penguasa 31% dari total 800.000 EDC.

Kartu pembayaran


Menyasar jaringan toko waralaba Alfarmart membuktikan siapa target pasarnya. Yaitu pasar kelas menengah bawah yang kurang paham tentang pembayaran non- tunia. Juga bukan termasuk yang pilih- pilih tentang apa yang mereka gunakan. Pria 30 tahun bahkan menjelaskan Kartuku berani untuk menyasar toko kelontong di daerah Jakarta Selatan. Melalui outlate kecil mereka membangun jangkauan ke atas.

Kartuku juga menawarkan layanan data terproteksi. Selain itu juga layanan kartu tanpa batas menerima kartu dari bank manapun untuk sistem Unified Payment. Tercatat sukses menjangkau 109 lokasi di Indonesia. Fokus Niki awalnya ialah meningkatkan kualitas dari mesin Electronic Data Capture (EDC), jaringan koneksi, data center, switching, serta software.

Ia mencoba membangun satu ekosistem dimana tidak hanya ada pelayanan tapi juga suport bagi pelanggan ataupun mitra.

"Saya dan tim kemudian memutuskan untuk mengubah model bisnis kami, melakukan inovasi layanan dan transformasi terhadap posisi Kartuku, bukan hanya penyedia hardware, tetapi fokus berinvestasi pada jaringan sehingga akhirnya menjadi sebuah perusahaan teknologi keuangan yang fokus pada solusi pembayaran," jelasnya.

Ia mencermatai perbedaan antara bisnis menengah- atas dan menengah- bawah. Ada perbedaaan significant antara satu hal dan lain. Pertama, Niki menyadari proses transaksi secara umum masih bisa dipermudah, tapi secara kapasitas transaksi berbeda. Kedua, adanya akses berbeda kepada keuangan yang belum sama. Itu juga termasuk distribusi jasa dan konvesi yang belum sama. Ini sebuah peluang tandasnya lagi.

Memang layanan pembayara di Indonesia mulai menjamur. Seperti Doku, Dompetku Indosat, Ipaymu, tapi Kartuku merupakan pionir pembayaran non- tunai. Kartuku memberikan layanan data- cloud dimana kamu akan aman. Dengan sistem EDC kartu lebih dipahami oleh mereka yang dipasaran. Daripada mereka dengan layanan asing yang belum dipahami masyarakat.

Selain melayani pembayaran oleh marchant. Kartuku juga telah siap untuk menjadi solusi branchless banking atau penyedia layanan tanpa mengenal kartu debit kamu. Adapula sistem untuk dana jaminan pensiun oleh BTPN. Dengan hal ini Bank tinggal menunjuk mitra ritell Alfamart yang telah menjamur hingga pelosok. Dimana mereka, bank, tak perlu membuka cabang. Kamu tak perlu lagi menarik dana di cabang tertentu.

Artikel Terbaru Kami