Minggu, 11 Januari 2015

Modal Obeng Bisa Jadi Pengusaha Komputer


Siapa bilang jadi pengusaha butuh modal besar. Itulah kiranya pelajaran yang bisa dipetik da pengalamannya. Dia bernama Rawi Wahyudino. Suksesnya menjadi pengusaha penyedia layanan komputer melalui bendera PT. Pradana Komputer (Prakom). Perusahaan yang menangani perawatan perangkat server dan komputer dari kantor, bank, perusahaan manufaktur, dan lembaga pendidikan. Meski sukses, pria kelahiran 1971 ini, ternyata tidak lah berlatar belakang wirausaha.

Orang tuanya bekerja sebagai pegawai negeri. Dia bekerja di perusahaan BUMN asal Surabaya. Sang ayah sempat memilik usaha bengkel sepatu. Ketika masih SMA, Rawi sering membantu ayahnya membeli lem sepatu di Pasar Turi. Karena minim pengalaman sebagai pengusaha, lambat laun usaha ayahnya semakin merugi. Dan, lambat laun menjadi bangkrut. Setelah itu ayahnya tak mau lagi berusaha sendiri. Sebaliknya ia justru menikmati waktu itu.

Lantaran sering ke Pasar Turi, Rawi akrab dengan transaksi jual- beli yang menghasilkan uang. Mungkin di pikirannya "jika mau uang maka berusahalah" begitulah. Ia baru menyeriusi bisnis ketika duduk di bangku kuliah di STIKOM Surabaya. Ketika itu sang ayah sudah pensiun dan dia butuh banyak uang untuk kuliah. Satu- satunya jalan, ya, berusaha sendiri.

Hal pertama yang dilakukannya ialah berjualan rokok. Caranya yaitu ia membeli satu bok rokok dengan uang tabungannya, lalu menitipkannya ke kantin kampus. Tergiur untung besar, bisnis rokok ini dihentikan. Dia banting stir berbisnis kaos sablon. Bermodal seadanya dari usaha rokok, ia mulai menerima pesanan sablon. Uang yang terkumpul disimpannya kembali. Selain hasilnya itu digunakan untuk membiayai sekolah, Rawi juga menggunakan uang itu untuk membiayai hobinya mendaki gunung.

"Saya kemana- mana dengan uang hasil jualan kaos sablon," ujarnya, bangga.

Sibuk berbisnis membuat kuliahnya keteteran. Ketika itu bisnisnya sudah melebar. Dimana ia sudah mampu membuka lapak sendiri, berjualan baju, celana, dan sepatu murah dari pasar. Modalnya cuma kepercayaan dimana Rawi berjanji mampu menjualkan barang milik seorang pedagang pasar. Selepas berbisnis sandang, dia menyasar bisnis komputer, bidang yang selama ini ia pelajari.

Hanya bermodal brosur, ia lantas menawarkan jasa pemasangan dan jual beli komputer pada orang- orang di pasar. Usaha kali ini lebih sukses. Berjalannya waktu Rawi jadi paham mengenai proses perakitan dan juga cara menjual komputer yang menguntungkan. Kala itu, ia mendapatkan bonus dari pemilik komputer yang ia sukses jual lewat brosur. Bisnis sambilan ini dilakukan kurang lebih hingga lima tahun. Selepas kuliah ia memutuskan merantau ke Jakarta.

Bisnis komputer sendiri


Selama enam tahun ia setidaknya sudah bekerja di tiga perusahaan berbeda. Ketiganya perusahaan dibidang komputer. Melalui pengalaman menjadi pegawai disana, ia belajar bagaimana cara berbisnis komputer. Dia bahkan mendapatkan database klien- kline potensial ketika bekerja di ketiga perusahaan swasta tersebut. Baru di tahun 2003, Rawi dengan beberapa orang kawannya, mulai membangun bisnis jual- beli komputer.

Waktu itu nama perusahaannya Tritunggal Jaya. Namun, setelah lima tahun berjalan, usahanya makin seret. Dia menyebut semua karena laporan keuangan yang tidak rapih. Akibatnya, arus kas milik perusahaan tidak lancar. Alhasil usaha berkaryawan 15 orang itu bangkrut. Padahal, dia menyebut, perusahaan komputernya itu menghasilkan 100 juta per- bulan. Rawi pun sempat luntang- lantung menjadi pengangguran. Dia cuma bisa menggantungkan hidupnya dari jualan barang rongsokan.

Pernah dalam sebulan, dia menyabut, cuma mengantongi Rp.500.000. "Terpaksa, saya dan keluarga hidup pas- pasan," kenangnya.

Rawi mencoba segala hal untuk bangkit dari keterpurukan ini. Salah satunya, cuma bermodal obeng dan juga telephon, ia mulai menghubungi klien lamanya. Dia lantas menawarkan jasa perbaikan serta pemasangan komputer. Ia lantas memberi nama usahanya Pradana Komputer (Prakom). Bermodal kepercayaan kuat ia mampu mendapatkan banyak pelanggan.

Melihat potensi pasar, ia secara spesifik menggarap bisnis penyediaan jasa perbaikan serta pemeliharaan komputer dan printer perbankan. Alasannya, kala itu, memang masih belum banyak pemain yang masuk ke bisnis tersebut. Kerja kerasnya berbuah hasil. Klien pun berdatangan, dari Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Perkreditan Rakyat (BPR), rumah sakit umum, dan beberapa universitas. Dari satu toko Prakom di Bekasi, ia menyebut, mampu mengantongi omzet 200 juta per- bulan.

Selepas itu ia mulai memperbanyak cabangnya. Selain berbisnis komputer, Rawi aktif berinvestasi di bidang properti, memiliki toko sembako bernama Cimart di daerah Cikarang, lalu beberapa usaha seperti bakso dan cireng, serta mendirikan satu butik Ning di Surabaya. Prinspi bisnisnya tak lain "beranis selalu membuat perubahan agar lebih baik" jelasnya.

Artikel Terbaru Kami