Rabu, 21 Januari 2015

Kopi Rafflesia Kopi Luwak Liar Harga Mahal


Bagaimana cara memasarkan kopi luwak kamu. Mungkin kamu bisa meniru kisah satu ini. Seorang pria bernama Umul Khairi, pengusaha lokal mutu internasional, warga Jorong Batang Palupuh, Kabupaten Agam merintis usaha kopinya secara unik. Dia memanfaatkan tempat pariwisata di kawasannya. Dia menjual kopi luwak organik yang dijualnya kepada wisatawan asing.

Umul menjelaskan ia memanfaatkan wisatawan asing yang berkunjung. Mereka yang tengah berkunjung ke kawasan wisata bunga Raflesia,ditawarinya kopi. Melalui sistem marketing dari mulut ke mulut nyatanya ia bisa menjual kopinya dari sekitar Asia, Eropa, Amerika, dan Austaralia. Untuk mensuport produk kopinya itu, ia menafaatkan nama Raflesia, yaitu kopi organik Rafflesia Luwak Coffee.

Dia menjelaskan kopinya diolah dari luwak liar. Tidak dikandangkan seperti biasanya. Fokus produksi Umul yaitu kopi jenis Arabika yang cocok dengan musim di Indonesia. Kopi itu berasal dari para petani kopi yang mencarinya langsung ke pohon- pohon. Untuk menjaga keaslian ia pun cuma memilih kopi dari para petani yang dipercayanya saja.

Menurutnya kopi luwak ini lebih baik karena luwak memakan buahnya di pohonnya langsung. Disatu sisi ia menjalaskan tak mengandangkan luwak agar tak merusak ekosistem. Paling banyak ia cuma mengolah 40kg biji luwak. Setelah diolah dan digiling cuma menghasilkan sekitar 10- 1 kg per- bulan. Karena sulit itulah ia akhirnya menjual kopinya seharga 200 ribu.

Umul memanfaatkan pengolahan tradisional. Dia menyebut itu sudah diturunkan dari kakeknya. 

"Saya mencuci biji kopi lima kali dengan air dan kemudian menempatkan mereka di bawah sinar matahari sampai kering selama enam hari," terangnya kepada Jakarta Globe. "Saya kemudian mengurutkan kacang dan panggang dalam pot tanah liat selama tiga jam di dapur tradisional."

Dia pun menjelaskan kopinya dimasak medium. Fungsinya agar tak merusak rasa kompleknya. Kopi luwak itu terasa agak pahit. Akan tetapi rasanya kaya semacam coklat hitam mungkin. Itu semua bisa hilang jika ia memanggang bijinya terlalu lama. Dia menjelaskan butuh 7 derajat Celsius selama 3 hari. Kemudain setelah itu ia memanggangnya lagi untuk 25 derajak kedepan selama dua jam.

Untuk mengakali lama kopi bisa bertahan. Wanita ini menjelaskan adanya kayu cinamon, akan membantu agar kopi awet. Dan untuk menjaga kualitas dan agar diterima oleh negara di luar, dia telah sedia dengan sertifikat dari Sucofindo International Certification Service. Meski begitu, ia mejelaskan, tak mudah untuk masuk ke beberapa negara. Umul pun menyebut, ketika mengekspor ke Australia, dia telah siap akan segala regulasi.

"Saya baru- baru ini diterapkan pada departemen pertanian di Australia untuk lisensi mengekspor kopi luwak dalam jumlah yang lebih besar," katanya.

Website: rafflesialuwakcoffee.org

Artikel Terbaru Kami