Sabtu, 03 Januari 2015

Kisah Korban Tsunami Bangkit Beromzet 25 Juta

Pengusaha Aceh Bangkit Pasca Tsunami

 
Nelly menjadi salah satu pengusaha kecil tangguh. Kisahnya menghadapi terjangan Tsunami Aceh patut kita apresiasi. Dia tak punya modal apapun. Pengusaha butuh modal besar katanya. Tapi, Nelly Nurila mampu bangkit hanya bermodal satu mixer. Dia dan mixer itu punya kisah. Kisah pengusaha kecil asal Aceh yang sukses melalui bantuan LSM.

Sepuluh tahun silam, Nelly nyaris menjual satu- satunya mixer besi miliknya selepas tsunami menerjang. Mixer berharga itu menjadi teman, keluarga, dan penolong sekaligus. Namun, dia membataklan niatnya untuk menjual mixer itu. Sang suami meyakinkan Nelly mixer kecil itu bisa berarti kelak. Mixer itu akan digunakan sebagai bukti untuk mendapatkan bantuan dari sejumlah lembaga swadaya masyarakat.

Ucapan sang suamia terbukti benar. Waktu itu ada tim dari Bogasari, yang kemudian membantu usaha roti dan kuenya bangkit. Nelly menunjukan mixer itu dan jadilah ia salah satu yang menerima program bantuan. Kisah pun berlanjut, dia mendapatkan bantua dari sejumlah LSM lain pasca tsunami, seperti dari Terres Des Hommes dan CARE. Melalui mereka Nelly mengumpulkan modal membeli alat lain, yaitu oven dan loyang.

Tahun 2007, akhirnya, Nelly berhasil mengumpulkan uang untuk membeli tanah 400 meter. Dan, dibangunlah satu pabrik kecil disana. Awalnya cuma 6 karyawan kala itu kenangnya. Enam pegawai kemudian berubah jadi 70 orang dan menghasilkan 60.000 roti per- hari. Usaha yang kemudian dikenal dengan nama pabrik roti Nusa Indah. Memiliki pabrik 1.000 meter- persegi setelah sepuluh tahun tsunami.

Memulai bisnis lagi

 
Roti Nusa Indah, sebuah pabrik roti yang berproduksi di wilayah Gampong Nusa, Kecamatan Lhoknga, Aceh Besar, Aceh. Dan, pemiliknya Nelly Nurila, perempuan kelahiran 39 tahun silam suka bangkit pasca tsunami memporak-porandakan Aceh, 26 Desember 2004 silam. Dia berkisah, sejak tahun 2001, ia dan suaminya memang memang sudah membuka usaha roti, hingga tahun 2003, total ada empat orang karyawan. Rotinya kemudian pasarkan di sekitar kawasan Aceh Besar dan Banda Aceh.

Namun nasib berkata lain. Kala itu, ketika terjadi tsunami, semua hartanya hilang cuma ada satu mixer itu. Untunglah dia, sang suami dan anaknya selamat. Mereka pun harus tinggal di tenda untuk waktu yang cukup lama. Setelah lima bulan tsunami dia dan suaminya, Muchlis Ismail (43), mencoba bangkit dengan berjualan nasi Lhoknga Aceh. Ia menjual nasi untuk dijadikan modal membuka usaha roti.

Uang bantuan dari LSM ditambah uang berjualan nasi dikumpulkan. Pada Oktober 2005, Nelly sudah mulai membuat roti sendiri. Saat itu, ia berkisah hanya membuat 2 kilogram tepung. Segalanya serba terbatas tak terbatas pada perlatan tapi juga bahan. Adanya Bogasari membantunya dengan kebutuhan akan bahan baku roti. Nelly sendiri mengaku tak begitu handal membuat kue, meski bisa.

Dia berkisah di 2001, belajar dari program memasak TVRI. Semuanya dilakukan secara otodidak. Awal- awal tentu ia membuat rotinya tak berbentuk tapi akhirnya bisa. Dan pristiwa tsunami itu datang ketika ia tengah berusaha mandiri. Awalnya dibagikan gratis ke tetangga, ketika respon positif, ia barulah menjual roti miliknya. Meski baru belajar membuat roti barat, dia sudah dikenal pandai membuat roti basah sekitar 14 tahun sudah.

Tapi kisah indah tersebut tak berlaku pada pengusaha lain.

Sebut saja kisah Bakhtiar, seorang penjahit, tidak mendapatkan bantuan apapun! Dia dulu dikenal pernah membuka usaha jahit dimana pendapatannya 70.000 per- hari. Bantuan rehabilitasi yang berupa uang tunai diyakini tidak begitu membantu. Khususnya untuk Bakhtiar dan beberapa orang lain. Dalam jangka pendek mungkin baik, namun tak akan membantu untuk jangka panjang. Menjadi pengusaha itu berarti akan selalu  fokus pada usahanya dengan segala kreatifitas.

Artikel Terbaru Kami