Sabtu, 31 Januari 2015

Gunawan Mantan Preman Sekarang Jadi Raja Kopi

 
Predikat preman hanyalah masa lalu bagi sosok pengusaha yang satu ini. Dulu Gunawan Supriadi (41 tahun) memang pernah memiliki reputasi buruk. Dikenal sebagai preman dia menguasai sejumlah lahan di kawasan perparkiran di Liwa, Lampung Barat. Hanya saja semenjak mengenal binatang luwak. Dia tak lagi jadi satu orang yang ditakuti oleh masyarakat. Namanya dikenal sebagai salah satu pengusaha asal daerah itu.

Dia merupakan salah satu produsen kopi luwak. Di Way Mengaku, Liwa, Lampung Barat, namanya akan dikaitkan dengan produk Raja Luwak. Gunawan memelihara luwak di pekarangan rumahnya. Melalui sosok mereka lah dia bertransformasi menjadi sosok lain. Dengan merek dagang Raja Luwak, produknya bisa ada merambah kafe- kafe mewah di Jakarta dan sejumlah kota besar di Indonesia.

Bahkan kampungnya menjadi terkenal atas komoditas produk satu ini. Kopi luwak asli bekerja sama dengan beberapa eksportir, kopi ini bisa sampai ke nagara- negara lain, seperti ke Korea, Jepang, Hongkong, dan juga Kanada. Khusus kopi asal Liwa memiliki kualitas termasyur sebagai representasi Indonesia. Harganya bisa mencapai Rp.5 juta sampai 8 juta per- kilogram.

Harganya jauh daripada produk kopi Hacienda dari Panama misalnya. Juga beda dari kopi St Helena asal Afrika, yang katanya masuk dalam jajaran kopi termahal di dunia. Harga masing- masing terjual Rp.1,5 juta dan Rp.1 juta per- kg. Jika dibanding kopi luwak Gunawan, cuma 600.000 rupiah, ini lebih murah berkali- kali lipat dari yang kamu bisa dapatkan. Selain dikenal sebagai pengusaha sukses, ia juga mampu memberi nilai tambah.

Yaitu sosoknya bisa menjadi pemimpin membawa kesejahteraan bagi para petani kopi. Pada jalannya itulah mereka sebagai petani terangkat biji kopinya. Usaha macam ini membuat mereka lebih untung daripada hari- hari biasanya.

Usaha bersama


"Usaha macam ini kan bisa menyejahterakan masyarakat yang penghidupannya rata-rata masih morat-marit. Petani (kopi) pun jadi punya uang tambahan di musim belum panen. Mereka tidak kesulitan harus menjemur dulu kopi di musim (ekstrem) ini," ujar Gunawan.

Dia lah ketua para perajin kopi luwak, yang mana membina dan mengkordinasi 10 produsen kopi. Sebagian mereka merupakan pemula dalam bisnis kopi tersebut. Ia menampung kopi dari mereka. Lantas membantu menjualkannya, utamanya jika Gunawan mendapatkan pesanan besar. Setiap para perajin diharuskan untuk storan 5kg kopi luwak. Kopi luwak itu masih berupa kotoran atau brenjelan.

Mereka juga dikordinasi dalam bentuk iuran- iuran. Fungsinya untuk bantuan pinjaman modal, termasuk juga untuk membeli kandang luwak baru. Gunawan justru ingin membuka peluang bagi petani lain. Konsep dari monopoli bisnis kopi luwak jauh dari cara pikirnya. Preman ini sudah insaf, ia jugalah jadi sosok pecinta binatang, dia mengatakan kopi Liwa merupakan kopi budidaya.

Dia paham betul keterancaman si luwak sendiri. Ia ingin menyelamatkan populasi luwak dari diburu dan juga dibunuh. Dulu di daerah ini luwak merupakan hama karena memakan biji kopi disini. Disini di kebun- kebun kopi, merek diburu pakai racun babi (Timex) jelasnya miris. Sejarahnya kopi luwak Raja berasal dari kira- kira tiga tahun lalu. Gunawan mengaku hobi memelihara hewan- hewan liar, salah satunya ya si luwak.

Dua luwak pertamanya ia bercerita diberinya nama Inul dan Adam. Mengambil nama dari pasangan penyanyi dangdut tersebut. Waktu itu ia mejelaskan luwaknya cuma dipelihara. Eh, suatu hari, ada teman yang datang meminjam luwaknya. Lama ke lamaan menjadi sebuah kebiasaan dan terus menerus. Merasa penasaran, ia mencari tau. Temannya itu meminta ijin merawatkan dan memberi makan kopi. Dia melihat kok kotoran dari peliharaanya itu dijual.

"Penasaran, saya lalu minta kenalan saya mengeceknya ke internet, apakah kotoran luwak bisa dijual?" ungkapnya. Itulah awal mula cerita pengalamannya merintis usaha kopi luwak. Menulusuri internet ia lalu menemukan fakta di China, 0,5kg bubuk kopi luwak asli bisa dijual Rp.3,5 juta. Dia melihat satu peluang usaha menjanjikan. Ketika itu Gunawan masih bekerja serabutan.

Kadang jadi petugas satpam, kadang ia mengumpulkan uang parkiran dari pasar- pasar. Kenangnya ia saat itu punya 16 anak buah. Ia lantas meminta bantuan anak buahnya untuk mencari- cari luwak. Sebanyak- banyaknya luwak itu dipeliharanya sendiri. Namun, awalnya, ia diganjal masalah pemasaran utamanya untuk menjual dari pintu kafe lalu ke hotel- hotel. Dengan lugunya ia membawa luwaknya langsung untuk bukti.

"Saya membawa langsung kopinya. Luwak yang masih kecil dan jinak pun saya bawa. Itu agar mereka percaya kopi ini asli. Bukan sekadar bicara (menawarkan) di internet," ujarnya.

Pelahan tapi pasti usahanya berkembang. Tercatat dia kala itu memiliki 60 ekor luwak peliharaan. Tapi, saat ini, ia cuma memelihara 26 ekor karena sisany diserahkan ke petani binaannya. Ada pula yang sudah dilepas ke alam liar. Rata- rata usahanya bisa mencapai 20 kg kopi bubuk dan 2 kuintal berbentuk brenjelan. Kini ketika usahanya telah mapan, Gunawan tak lagi menjadi kordinator parkir di pasar. Usahanya sekarang jadi lebih menjanjikan.

Dia ternyata pernah ditahan di penjara loh. Karena perselisihan parkir inilah ia masuk ke penjara. Dia tak mau lagi menyusahkan keluarga, dan karena usaha barunya ini, keluarganya lebih terlindungi. Hasil dari usaha miliknya ialah sebuah kendaraan dan kafe kopi luwak di rumahnya di Way Mengaku. Usaha kopi ini sukses menjadi kemendarian bagi masyarakat. Mulai dari produksi, pengemasan, hingga pemasaran, semuanya itu dilakukan mereka mandiri.

"Dulu pernah ada pengusaha kaya dari Korea mau ikut usaha, memberikan bantuan modal. Saya sempat ditawari menjadi manajer, tetapi kami sepakat menolak. Kami khawatir nanti justru "ditendang". Meskipun kadang sulit, setidaknya ini usaha sendiri. Daripada kita "dijajah" asing lagi," tutupnya.

Artikel Terbaru Kami