Rabu, 28 Januari 2015

Biografi Ayu Yunus Pengusaha Kerupuk Kemplang

 
Momok bahwa usaha butuh modal besar sekali lagi dipatahkan. Kini kisahnya Eva Yunus pengusaha wanitas asal Palembang. Cuma pengusaha kemplang biasa, ya, pengusaha jajanan remeh- temeh itu. Tapi apakah kamu tau berapa ia menghasilkan. Kini bisnis kemplangnya bisa menghasilkan omzet Rp.35 juta rupiah per- bulannya. Kalo setahunnya bisa menghasilkan cuma Rp.420 juta atau hampir bisa setengah miliar dalam satu tahun.

Apakah rahasianya berbisnis dengan modal kecil. Berapa modalnya ketika ditelusuri tenyata ia cuma punya modal Rp.200.000 kala itu. Semua dijalaninya dari pertama hingga sekarang sukses. Apakah rahasianya ya tentu soal inovasinya. Eva dikenal sebagai pengusaha wanita inovatif soal kemplangnya. Salah satu jajanan hasil karyanya yaitu kemplang dari wortel. Kemplang itu manis, sedap, dan gurih dalam satu waktu.

Ia pun tak segan memanfaatkan teknologi modern. Disentuh teknologi dibisnisnya membuat sosoknya jadi semakin bersinar dalam bisnis ini. Bisnis rumahan tapi menguntungkan.

Kepepet jadi pengusaha



Perlu diketahui Eva menjadi pengusaha karena desakan ekonomi. Mudahnya dia kepepet jadi pengusaha dan itu nyatanya berhasil. Suaminya hanyalah guru, bergaji pas- pasan, hanya mampu menghidupi kebutuhan keluarga sehari- hari. "Dari situ, saya menguatkan tekat menambah penghasilan," pungkas wanita yang sudah mengerjakan bisnisnya sejak 1998.

Piliha bisnisnya jatuh pada usaha kerupuk. Alasanya usaha apa yang tak bermodal besar, ya, usaha kerupuk inilah hitungan kasar Eva. Tentu hasilnya besar jika benar ia mengerjakannya. Nyatanya ia punya modal yaitu dari ilmu kerupuk dari orang tuanya. Ia mengaku kedua orang tuanya sudah berbisnis kemplang sejak dulu. Untungnya bisa 20% dari omzet setelah dipotong bahan baku dan lain- lain.

Selepas menentukan mau usaha apa. Eva lantas mencari- cari peralatan milik orang tuanya. Kebetulan juga peralatan itu sudah tak pernah digunakan lagi. Dia lantas membeli bahan- bahan baku pembuatan kerupuk seperti tepung, ikan, dan bumbu. Modalnya cuma minim ia tak punya uang lebih. Upaya meminta tambahan modal dari kerabat nampaknya sia- sia. Karena mereka sendiri hanya cukup untuk rumah tangganya masing- masing.

Makanya ia lantas meminta sang suami meminjam koperasi. Guna melunasi hutangnya ini suami harus rela uang bulanan kena potong. Eva pun berkata tak mengapa asal usaha jelasnya.

Sayang, menjadi pengusaha itu susah tak segampang ia bayangkan. Dia harus melalui masa- masa sulit di awalnya. Semua karena di Palembang sendiri banyak pengusaha kemplang. Tapi Eva tampak tak mau untuk menyerah. Alasannya karena kemplang punya pasar banyak dicari oleh masyarakat sekitar dan juga para pelancong. "Mencocol kerupuk ke sambal sambil nonton TV," pungkasnya.

Sasaran pertama "uji coba" kerupuk kemplang buatannya ialah mereka para tetangga dan sanak sudara. Ia lantas menggelar lapak di emperan rumahnya. Agar bisa laris manis sagala upaya dilakukannya. Eits, bukan upaya mencurangi isinya ya. Eva paham betul konsekuensinya. Ia pun memilih menambah takaran untuk ikan gabus dan tengiri agar lebih dominan diadonannya. Jika biasanya orang memilih lebih banyak tepung, ia lantas menjual 1kg ikan hanya menghasilkan 4 kerupuk mentah.

"Dengen begitu rasa ikannya akan lebih terasa," ungkapnya. Selain pada kualitas ikan ditingkatkan, andalan usahanya ialah ia menggunakan bumbu khusus. Untuk yang satu ini Eva enggan mengungkapnya kepada kita. Tak puas cuma dikonsumsi orang terdekatnya, berjalan waktu, ia menjual produknya ke halayak luas. Satu kendala lagi yaitu modal untuk promosikan produk olahannya.

Upaya akhirnya ialah ia menawarkan produk itu di acara- acara arisan, sunatan, hingga perkawinan. Dia pun tak lupa menawarkan daganganya ke toko- toko. Dari sanalah ia mendapatkan pesanan- pesanan datang hingga sekarang. Eva, kini. menjajakan produknya di JL. K.H. A. Azhari Lr. Anten- Anten No.557 RT 165, Ulu Laut, Palembang. Rumah sekaligus tempatnya berjualan dan juga pabriknya itu berada tepat di pinggir jalan besar.

Ia mengaku usahanya ini tak fokus pada untung sebesar- besarnya. Dia malah lebih senang karena kurupuk miliknya Kerupuk Yunus jadi terkenal. Eva lebih fokus pada branding produknya ini. Dengan nama kerupuk miliknya semakin besar maka pembeli akan datang sendirinya.

Modal asing


Semakin terkenalnya Kerupuk Yunus mengantar Eva ke keberuntungan lain. Konsistensinya membangun dari nol brand miliknya. Membuat usahanya kini didatangi banyak orang, bahkan, kamu akan melihat rentengan mobil- mobil berjejer di depan rumahnya. Melihat itu PT. Pupuk Sriwijaya mengajak bermitra dengan Eva. Gayung bersambut kesempatan itu dimanfaatkan. Pada tahun 2003, ia resmi mengajukan proposal pinjaman ke Pusri.

Dia mengajukan modal cuma 9 juta. Pinjaman berbunga 6% ini digunakannya nanti untuk menambah jumlah karyawannya. Belum sampai jatuh tempo ia sudah bisa melunasinya. Karena itulah Pusri mau memberikan modal kedua untuk Eva. Untuk kali ini Eva berani mengambil modal 40 juta, kali ini digunakannya sebagai modal mengembangkan pabriknya. Namun kali ini pengusaha berkerudung ini diberikan syarat tambahan yaitu membimbing petani plasma.

Eva harus membina para nelayan plasma. Mereka adalah para nelayan pemasok ikan gambus dan tengiri. Ini bukanlah persoalan baginya. Justru dengan adanya hal ini ia bisa mendapatkan koneksi. Mereka itulah para nelayan yang membantu memasok usahanya kini. Cuma ia tak mau asal borong meski ada embel- embel harus membantu mereka. Eva membantu mereka untuk memenuhi kreteria yang ditetapkannya.

"Saya tak segan menolak jika ikan dari nelayan ternyata berkualitas jelek," tandas Eva.

Mendapat sentuhan teknologi Eva mampu berinovasi lebih. Kerupuk kemplang miliknya ini bisa jadi aneka rasa. Dia mendapatkan dorongan bimbingan Badan Litbang dan Inovasi Daerah Sumatra Selatan. Produk kerupuk kemplangnya bisa jadi aneka rasa. Sebelmunya cuma satu rasa kini ia memiliki 14 model rasa. Ada 4 rasa dengan 18 model bentuk jelasnya; ada digoreng dan dipanggang.

Penjualannya bisa mencapai Rp.5 juta- 10 juta, kerupuknya ini telah melalang buana ke Jakarta, Bandung, hingga Batam. Eva juga tengah menjajaki penggunaan oven khusus. Ia menjelaskan ketika hujan nanti tetap bisa berproduksi tanpa dikeringkan dengan matahari. Meski sudah aneka rasa, Eva Yunus, pengusaha wanita ini menjelaskan produk rasa originalnya tetap paling diminati.

Artikel Terbaru Kami