Senin, 26 Januari 2015

Amilia Agustin Kecil Kecil Peduli Lingkungan

Dia memulainya sekitar beberapa tahun lalu. Amilia Agustin, sosok gadis 14 tahun, siswi kelas IX kala itu yang baru menyadari pentingnya kebersihan. Tak hanya tersadar tapi menemukan solusi tepat. Bangunan di Sekolah Menengah Pertama 11 kota Bandung itu tampak indah. Bersih, dimana setiap rungannya berisi tong sampah hijau dan biru. Kini tak ada lagi sampah berkatnya.

Ia bersama teman, guru, bersama membangun sekolah berbasis "Go to Zero Waste School". Rasa jijiknya pas pertama kali masuk SMP sudah diatasinya. Semua bermula berkat workshop pengelolaan sampah dari Yayasan Pengembangan Bioscience dan Bioteknologi. Ami mencoba mengaplikasikan apa yang didapatnya dari pelatihan. Awalnya dia berkampanye tentang jangan pakai plastik serta kampanye agar teman sekolah jangan buang sampah sembarangan.

Tak puas Ami lantas membangun bank sampah. Uniknya bahkan ia bersama teman- temannya mengerjakan bank sampah.

Pagi cerah


Saat berolah raga ia lari berkeliling taman kota di dekat SMP -nya di Bandung. Tak seperti biasanya Ami mendadak memutuskan sesuatu. Disinilah awalnya dia mau bertindak setelah sekian lama, seperti dikutip di Kompasiana. Ia melewati sebuah tempat pembuangan sampah. Disana tertulis "mulailah memilah sampah dari diri masing- masing". Dia lantas memulainya dari diri sendiri lalu mulai ke lingkungan sekolah.

Dia mengajak teman- teman seide dengannya. Ada 10 orang teman sepakat dengan pemikirannya. Mereka bersama mulai memisahkan sampah- sampah bungkus plastik jajanan. Sejalan waktu kegiatan mereka lalu terus meluas hingga lingkungan sekitar. Sepulang sekolah bukannya bermain dia bersama teman- temanya sibuk mengumpulkan sampah.

Mereka tengah asik memilah- milah sampah organik dan non- organik. Yang plastik seperti bungkus kopi, mie intan, dan lain- lain, akan dikumpulkan dan didaur ulang. Sedangkan untuk organik dijadikan akan pupuk olehnya. Ejekan datang dari teman- teman yang lain. Untungnya ada seorang guru bernama Bu Ani, seorang guru biologi yang ikut mendukung kegiatan mereka. Jadilah mereka satu tim diberi nama "Go to Zero Waste School".

Kegiatan tersebut diatas pun terus berlanjut. Pengumpulan sampah plastik akan diberikan ke ibu- ibu untuk dijadikan tas. Disisi lain mereka sendiri akan memproses daur ulang pupuknya.

 "Awalnya kampanye agar jangan pakai plastik dan buang sampah sembarangan," katanya kepada Kompas. Pertama kalinya mereka, teman- temannya, tak peduli dengan ocehan Ami. "Malah saya dibilang cerewet," pungkasnya lebih lanjut.

Bank sampah


Ami dan teman- temannya memulai bank sampah sendiri. Dibantu oleh Bank Mitra Syariah, mereka lantas menabung sampah- sampah organik yang lantas dijadikan rupiah. Beberapa bulan berlalu dan kegiatan diatas tetap berlanjut. Ami kemudian berinsiatif untuk mengajak teman- temannya membuat karya ilmiah. Mereka mengirimnya ke Young Change Makers dan Ashoka Indonesia. Mereka adalah wadah global bagi mereka para wirausahawan sosial.

Alhasil kelompok ABG ini disuport dana Rp.2,5 juta. Usaha sosial yang awalnya bermodal patungan, serta didukung penjualan pupuk dan lain- lain. Ami kini semakin banyak teman mendukung dirinya. Sampah- sampah kertas itu bisa dibuat buku, komik, berbagai kerajinan, dan lain- lain. Mereka juga didukung oleh organisasi Greeneration Indonesia di program Kebunku, yaitu Kertas Bekasku Hijaukan Bangsaku.

Anak tertua pasangan Agus Kuswara dan Elly Maryana Dewi sangat aktif mensosialisasi program- program pengelolaan sampah di sekolahnya bahkan masyarakat sekitar. Ketika kelas VIII, Ami pun sukses dipercaya menjadi duta pelatihan pengelolaan sampah kepada sekolah lainnya. Sedikitnya sudah ada sepuluh sekolah menjadi binaan Ami, di antaranya SMP Alfacentaury Bandung, SMPN 48 Bandung, SMPN 40 Bandung, dan SMPN 50 Bandung.

Tak berhenti disana ia mulai mengajak ibu- ibu rumah tangga membuat kerajinan daur ulang. Dia bermodal satu mesin jahit. Hasil penjualan produknya akan dibagi hasil. Tak berhenti ia mendapatkan apresiasi yaitu dari Tempo Institute dan mendapatkan penghargaan Indonesia Award. Grupnya diberikan dana dukungan untuk mengembangkan usaha Rp.40 juta. Uangnya lantas dibelikan 5 buah mesin jahit untuk ibu- ibu para pendaur ulang.

Sisinya digunakan olehnya untuk perpustakaan keliling di Tegal Lega. Sisanya bersama aset lain dari konsep yang didirikannya bersama Go to Zero Waste School lantas diserah terimakan. Dia menyerahkan semuanya ke adik- adik kelasnya. Ami sangatlah berharap agar mereka bisa melanjutkan ini. Ami sendiri kemudian melanjutkan masa depannya. Ia dibekali beasiswa ke berbagai negara seperti Australia, Singapuran dan juga Amerika. Dia mendapatkan dukungan dari PT. Astra Internasional.

Artikel Terbaru Kami