Jumat, 09 Januari 2015

Biografi Waroeng Steak Jody Brotosuseno Selalu Mandiri


Entrepreneurship tak perlu ijasah kuliah


Menjadi pengusaha berarti berani membuat trobosan baru. Dibutuhkan ide- ide segar, tak cuma berpatok apa yang tersedia di bumi Indonesia. Menjadi pengusaha dibidang kuliner butuh keunikan. Perlunya identitas kuat untuk membedakan kamu dengan binsnis kuliner lain. Jika menjadi pengusaha bakso sudah umum ada disekitar, maka bagaimana jika jadi pengusaha steak. Tak perlu memanggil chef asing cukup kamu belajar keras untuk membuat menu itu menjadi nyata.

Kisah kali ini datang dari pasangan Jody Brotosuseno dan Siti Hariyani. Kisah jatuh bangun membangun berbagai usaha sudah dilakoninya. Peluang aneka kuliner sudah mereka coba, dari roti bakar, berjualan susu, sampai bisnis kaos partai, yang cuma musiman. Semua usaha mereka jalani tapi tak bertahan lama. Belum ketemu chemistry -nya kalo kata orang. Nah, karena memang sudah mendarah daging, keduanya lantas memulai bisnis lagi.

Mengawali kesuksesan bisnisnya di tahun 2000, Jody dan Anik cuma membuka usaha warungan. Bukan lah juga warung biasa keduanya membuka warung steak. Ya, makan ala barat itu mampu diolahnya jadi usaha di warung makan. Hasilnya, mengejutkan, usaha yang mengawali semuanya di teras rumah. Keduanya sepakat membuka usaha warung steak pertama di Jalan Cendrawasih 30 Demangan Yogyakarta.

Mereka mencoba sesuatu cuma bermodal jiwa entrepreneurship. Waroeng Steak n Shake, atau terkenalnya bernama WS, hanya dibangun di pekarangan rumahnya. Idenya jika steak makanan barat itu cuma untuk orang tertentu, WS mencoba menghadirkannya. Tak kan lagi jadi makanan mahal khas hotel karena WS mencoba membuat sedemikian mungkin. Jody dan Anik, keduanya telah membuat satu gebarakan baru.

Mereka mencoba menawarkan steak dan shake di warung pinggir jalan. Tak ada kesan mewak ketika kita menyambangi pusat atau cabangnya. Semua cuma bermodal 5 hotplate, 5 buah meja makan, dan sebuah ruang berdaya tampung 20 orang, kini usahanya tumbuh pesat. Usut- punya usut ternyata sosok Jodi sendiri bukanlah orang susah seperti kita akan bayangkan. Ayah Jodi, Sugondo dikenal pemilik jaringan restoran Obonk Steak dan Ribs.

Waroeng Steak


Berlatar belakang pengusaha sukses, kaya, tak membuatnya jadi anak orang kaya manja. Justru dia sangat pekerja keras. Dia pernah berkuliah Arsitektur, Universitas Atma Jaya Yogyakarta, tapi berhenti ditengah jalan. Jadilah ia hanya berijasah SMA saja. Karena tak melanjutkan pendidikan Jodi harus putar otak untuk bekerja. Sayangnya, tak mudah bekerja dengan ijasah SMA saja. Mau- tak mau dia akhirnya memilih untuk bekerja di restoran ayahnya.

Ketika itu ia cuma bekerja menjadi pegawai biasa. Gajinya tak sanggup memenuhi kebutuhan, apalagi setelah ia memutuskan untuk menikah dengan Siti Hariani atau Aniek pada 1998. Gajinya itu dirasa tak lagi cukup. Jodi pun tak merengek meminta jabatan. Justru ia makin getol berusaha sendiri. Pertama kali usaha, ia mulai dengan berjualan aneka makanan sambil bekerja di Obonk. Awalnya ia berjualan susu segar, roti bakar, dan jus buah.

Namun semua usahanya itu sia- sia ketika perlatannya banyak dicuri orang. Jodi lantas berjualan kaos partai, dimana saat itu partai membengkak dari tiga jadi 48 partai. Alhasil menjual kaos partai jadi prospek bisnis yang menguntungkan saat itu. Hasil penjualannya, akhirnya, ia bisa mengontrak rumah sendiri di kawasan Demangan, Yogyakarta. Selepas pemilu, Jodi dan Anik memutar otak kembali, apalagi dengan kehadiran putra pertama mereka, Yuda Adiaksa.

Akhirnya pasangan pengusaha ini memilih berbisnis steak. Tapi tak mau mencontoh bisnis milik ayahnya. Jodi memilih usaha steak warungan. Usaha pertamanya dibuka di teras rumah karena tak punya modal menyewa tempat. Jodi memilih kata "waroeng" agar menegaskan apa yang dijualnya tidak mahal. Namun usaha baru itu terbentur modal dimana Jodi dan Aniek cuma punya 100.000 dikantong. Akhirnya ia menjual motor satu- satunya untuk modal.

Membuka warung steak


Pertama- tama Jodi mengerjakan dapur dan melayani pembeli, sang istri bekerja sebagai kasir. Warungnya itu tak langsung sukses. Pernah dalam sehari mereka cuma menjual 30.000. Pembeli masih sepi karena memang konsep bisnisnya sangatlah baru. Siapa yang berpikir bahwa steak itu murah waktu itu. Beberapa pembeli pun ikut memberi saran agar warungnya lebih ramai. Sarannya, ia lantas membuat spanduk besar berwarna mencolok di depan warung steak -nya.

Di spanduk itu dituliskan harga steak yang murah itu. Ia juga mempromosikan melalui selebaran. Dari semua usaha promosi itulah, warung milik Jodi mulai ramai, utamanya mereka dari kalangan mahasiswa dan pelajar. "Malah kami mulai kewalahan," ungkapnya. Meski sudah ramai, nyatanya, Jodi cuma punya 10 hotplate di meja. Jadilah orang- orang sampai harus mengantri untuk dilayani di mejanya. Untuk mengatasi hal itu Jodi pun mengambil hotplate dari meja.

Prinsipnya habis pakai, cuci, langsung digunakan lagi untuk pelanggan lain. Pelan tapi pasti Waroeng Steak mulai menambah peralatan. Ia juga merekrut pegawai untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Setahun ia telah berbisnis di Demangan, ia lantas membuka cabang. Gerai kedua tak begitu sulit. Kerabatnya mau untuk ikut menanamkan modal. Dengan konsep bagi hasil jalanlah gerai keduanya.

Pola yang sama digunakan hingga ke 8 gerai tercatat dibuka. Selanjutnya Jodi bisa mendanai sendiri gerai ke 9 dan seterusnya.

"Asal bisa menyesuaikan inovasi dengan kebutuhan pasar, bisa berkembang terus. Masukan pelanggan selalu kami perhatikan," tuturnya.

Masukan menjadi ciri khas WS untuk berkembang hingga sekarang. Jodi selalu bertanya apa keinginan dari mereka para pelanggan. Menu- menu baru pun disuguhkan menyesuaikan permintaan. Meski warungnya itu mengusung menu steak dan shake, Jodi masih menyediakan menu nasi. Jika biasanya kamu ketemu steak dan kentang tidak khusus untuk Waroeng Steak. Saat usahanya makin berkembang ia pun yakin memilih untuk konsentrasi dibisnisnya.

Sejak 2002, ia terus fokus menambah jumlah gerai di seluruh penjuru Indonesia. Total ada 50 gerai telah ia buka di sejumlah kota. Jodi pun membuka gerai aneka makanan berbendera Festival Kuliner. Konsep ini ia sebut sebagai konsep dimana tidak hanya ada WS, ada pula Waroeng Penyetan dan Bebaqaran serta ada delapan gerai waralaba lain. Untuk ekspansi lain, diluar bisnis kuliner, Jodi memilih membuka arena futsal. Sukses Waroeng Steak menariknya tak menerapkan konsep waralaba.

Ya, tak ada waralaba Waroeng Steak, namun untuk pangsa luar negeri, Jodi memilih mewaralabakan produk miliknya. Wajarlah jika ia sanggup membangun bisnisnya sendiri. Untuk satu gerai, di wilayah Yogyakarta contohnya, ia mampu mengantongi 500 juta. Jumlah cabangnya mencapai 30 gerai yang tersebar di Jakarta, Medan, Bogor, Bandung, Semarang, Malang, Solo, Palembang, Yogya, Bali dan terakhir ada di Pekanbaru. Omzetnya ya, bisa kita bayangkan, bisa mencapai miliaran rupiah.

Melalui mottonya "bukan steak biasa" berfokus pada menempatkan makanan mahal jadi milik siapa saja. Di konsep ini kamu bisa membuat kuliner eklusip jadi umum. Contoh lain yaitu gerai makanan susi yang juga mulai diwaralabakan. Tak semua bisnis harus diwaralabakan juga bisa kita ambil hikmahnya dari kisah ini. Tapi menggunakan konsep waralaba kamu bisa lebih cepat. Dia hanya memanfaatkan konsep warlaba dari bisnis barunya Waroeng Penyetan dan Bebaqaran.

Ini konsep bisnis bagus jika kami rasa.

Artikel Terbaru Kami