Rabu, 14 Januari 2015

Biografi Triyono Bikin Kamu Minder Jadi Pegawai Malas

 
Mimpi empat triliun bukanlah milik aku, kamu, atau mereka yang berdiri di atas. Mereka para pengusaha itu memang telah memiliki triliunan rupiah. Tapi satu- satunya yang tak mereka miliki: hati seperti Triyono. Ya, ini kisah pengusaha sukses bukan karena uang, tapi hatinya. Siapa Triyono, pria kelahiran 21 Juni 1981, asli dari Sukoharjo, Jawa Timur. Apakah latar belakangnya hingga berani bermimpi empat triliun. 

Dia bukanlah siapa- siapa. Bahkan dia hanyalah penyandang disabilitas. Penyakit polio yang dideritanya telah menjadikannya sosok minder. Namun, semangatnya kuat, semua karena ayahnya dan ibunya membaurkan dia bersama anak- anak lain. Pasang Priyono dan Marinah selalu menyediakan mainan dan anak- anak se- kampung selalu datang. Lambat laun ia pun tumbuh sebagai anak- anak kebanyakan.

Dukungan orang tua serta kakak- adiknya membuatnya penuh percaya diri. Meski sempat minder, ia yakin selalu berpikir positif dan pantang menyerah. Ia pun aktif bermasyarakah dan berorganisasi. Tri terus lah aktif bahkan sampai ke jenjang kuliah. Ya, meski dia kesusahan berjalan harus menggunakan alat penompang di kedua tanganya. Apakah dia pernah merasa gagal? Dia pernah ketika apapun yang dilakukanya itu dipandang sebelah mata oleh orang lain.

Namun, dengan prinsip sebaik- sebaiknya manusia adalah yang bermanfaat. Apapun yang terjadi. Selama dia berusaha untuk kebaikan orang lain, tak apa. Dia tetap woles bahkan saat mengerjakan bisnis agro -nya. Meski keluarga sempat meragukan apa akan berhasil.

Bisnis tak ada batasan


Ketika kecil ketika teman- teman bermain bola. Dia akan menjadi kiper atau asisten pelatih. Bahkan dia lah paling giat mencari sponsor agar mereka bisa bermain. Tri mau jadi apa untuk bisa tetap bermain. Di masa kuliah, sosoknya tumbuh akrab banyak teman. Bahkan dia bersama teman- temanya pada semester 3 Jurusan Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, bersama- sama mereka mencoba berbisnis bersama.

Sosoknya yang pinta di sekolah dan kampus menjadikan dirinya dikagumi. Kala itu, mereka berama tengah membuka usaha jasa cetak undangan, kalender, hingga kaus. Ada temannya yang bertugas sebagai seorang marketing, sementara itu, Tri bekerja mencari modal, negosiasi harga, dan tentu mencari percetakan. Usahanya itu berjalan setahun dan ia pun tetap aktif berorganisasi disela- selanya.

Ia bahkan menjabat sebagai Sekertaris Jendral Mahasiswa dan Menteri Luar Negeri Badan Eksekutif Mahasiswa UNS. Bisnis desainnya kemudian dilanjutkan oleh teman- temannya. Setahun  menjadi seorang aktivis kampus, Tri lantas bergabung Yayasan Penyandang Cacat Pelangi Hati dan sempat menjadi Ketua II. Itu hanya bertahan empat bulan. Dia mengundurkan diri karena idealismenya tak sama realitas.

Lain cerita di kampus dan di rumah, ketika ia telah sukses lulus dengan IPK baik, niatnya untuk tak mau jadi pegawai ditentang. Secara serius ia mengaku ingin jadi pengusaha katanya. Dia lantas berniat berbisnis di bidang agribisnis sesuai jurusannya. "Mereka saat itu selalu melihat ketidaksempurnaan fisik saya, mereka ragu akan kemampuan saya bekerja. Saat itulah saya merasa tidak berguna," kenang Tri.

Tak bergeming dia tetap berbisnis.

Hidup untuk bisnis


Kenapa harus jadi pengusaha. Itu karena dia menyukainya, disisi lain, Tri telah merasakan adanya satu lagi kenyataan pahit. Meski IPK -nya sangat bagus dengan keadaan fisiknya, dia selalu ditolak bekerja. Oleh karena itu menjadi pengusaha adalah solusi dimana dia bisa jadi berguna. Tri sebenarnya sudah merintih usaha ini sejak kuliah. Tepatnya di tahun 2006 -an, usahanya di bidang agribisnis, yaitu dia berbisnis bebek potong.

Modalnya 5 juta dari bisnis sebelumnya. Dia membeli 500 bebek untuk dibesarkan. Ia total menerapkan ilmu pertanian miliknya. Hasilnya sangat sukses. Kualitas bebeknya lebih bagus daripada peternak bebek biasa. Bahkan sangatlah sehat, berat proposional, yang banyak menjadi pesanan. Dari bebek, uang hasilnya lantas dikumpulkan lagi, dia kemudain menyasar bisnis sapi. Modalnya digunakan untuk jual- beli sapi di hari raya Idul Adha.

Di awal 2007 tepatnya dia memberanikan diri fokus pada bisnis satunya ini. Dia pun mengenang dimulainya bisnis kurban justru di hari- hari terberat baginya. Kala itu, ia mengaku, tengah mempersiapkan ujian skripsi sedangkan bisnisnya barulah dirintis. Hasilnya, dia berkutat dengan pelajaran di pagi hari, lalu kemudian, selanjutnya di sisa waktunya, ia mengerjalan bisnis agronya. Dia memebeli- menjual produk kurban untuk pasokan hari raya.

Dia seorang diri memasok hewan- hewan tersebut ke beberapa daerah di sekitar Sukoharjo. Keluar masuk pasar sudah jadi kebiasaanya setiap hari. Tri harus bejalan jalan jauh menggunakan truk, lalu mencari lalu ia membeli sapi berkualitas. Kemudian ia sendirilah yang mengantarkan sapi- sapi pesanan itu. Sendirian. Dia pantangnya menyarah meski beberapa orang yang diajaknya bekerja, justru mereka menganggap dirinya itu main- main.

Dia serius pada bisnisnya ini.

Tumbuh besar


Tri sadar dia tetap membutuhkan patner dalam bisnisnya. Dia tak berputus asa meski ditolak. Dia kemudian menggandeng beberapa peternak sapi. Saat itu, ia sukses menyediakan 66 sapi yang dibawa dengan media truk sebanyak 11 buah. Dia secara pribadi menawarkan sapinya kepada takmir masjid di Solo. Kemudian ia menjual sapi- sapinya, dimana setiap sapinya, Tri mengantungi Rp.200.000- Rp.300.000. Uang tersebut ia bagi bersama dua orang patnernya.

Ia lantas menggandeng Joko seorang pegawai tata usaha di kampusnya. Joko sendiri memang punya lahan di desanya. Nah, melalui tanahnya di kampung, Kecamatan Bendosari, Kabupaten Sukoharjo, dimana ia bisa menyimpan hingga 70 ekor sapi di sana. Awalnya dia dan Joko cuma membangun satu kandang bambu- sederhana, dimana kala itu, ia cuma punya 3 ekor sapi. Jumlah sapinya pun bisa bertambah jadi 17 sapi.

Tri pun tak berhenti berkuliah. Dia lantas mengajukan proposal program Sarjana Membangun Desa kepada Kementrian Pertanian. Dari proposal itu Tri sukses mendapatkan dana 320 juta. Uang tersebut digunakannya untuk membeli 40 sapi dan membangun kandang permanen. Melalui dana tersebut juga dibuatnya menjadi instalasi pengolahan limbah kotoran sapi jadi pupuk padat dan cair. Kemudian pupuk ini dijual ke petani.

Sapinya itu berinya makan dari campuran konsentrat berformula agar kotoran tak berbau. Dan, berjalannya waktu, jumlah sapi berkembang menjadi 90 ekor. Waktu itu sebagian besarnya merupakan pembibitan dan sisanya sapi penggemukan. Kala itu ia cukup memanfaatkan uang investor dimana mereka akan mendapat keuntungan 30 persen dalam dua-tiga bulan. Atas pencapaian itu, Tri mendapatkan penghargaan Wirausaha Muda Mandiri 2010.

Sadar dengan usahnya yang makin besar. Tri tak mau menyia- nyiakan. Dengan bermodal 20 juta, ia fokus membangun usahanya dengan bendera CV Tri Agri Aurum Multifarm, bisnisnya merupakan bisnis terpadu di bidang agrari. Mulai dari usaha bebek, ayam potong, peternakan sapi, dan penjualan pupuk. Berbekal punya ijasah pertanian, ia total hingga menghasilkan 50 juta per- bulan. Melalui usaha agrobisnis ini ia mencoba untuk membuka mata kita, bisnis agro tidak hanya untuk orang tua!

Prinsipnya jangan terlalu boros memberi makan. Memberikan makan ternaknya selalu dihitung agar sesuai. Hasilnya mutu ternaknya bagus. "Kami selalu memberi pakan tanpa campuran bahan kimia, hanya yang ada di lahan kamilah yang dimakan ternak, misalnya, rumput hijau," kata Triyono.

Tips lain ia menggunakan berbagai bahan bumbu dapur. Semua untuk penghematan pembiayaan. Dia lantas menyebut kunyit, jahe, dan lengkuas, digunakannya untuk obat ternaknya yang sakit. Dari cara manajemen pakan menjadi 70% rahasia suksesnya kini. Ia pun kerap diangkat menjadi pembicara agrari di berbagai universitas.

Pada tahun 2012, ia membuka pangkalan ayam di Pulogadung, Jakarta, setiap hari ia mampu memasok lima truk ayam potong ke Jakarta. Omzetnya bisa mencapai rata- rata 200 juta per- bulan. Setiap truk miliknya itu bisa mengangkut 150.000 ekor ayam. Selain memanfaatkan peternakan sendiri, Tri juga membagi rejeki melalui peternakan lain dari Tegal, Madura, dan Jabodetabek. Setiap truk bisa menghasilkan untung Rp.1,8 juta.

Mendengar suksesnya makin banyak investor datang. Bahkan mereka rela menggelontorkan uang hingga 5 miliar. Tri pun memilih tak kaku dengan bisnisnya. Dia menjalin banyak kemitraan dan bekerja sama dengan banyak peternak lain. Bahkan kini, ia tengah menggodok bisnis udang beku untuk dijual ke Osaka, Jepang. Berbasis kepercayaan ia terus berbisnis. Dia lantas membeli udang dari petambak Lampung, kemudian ia menjualnya ke Tanjung Priok, Jakarta.

Disela sibuknya menjadi pembicara dari kampus ke kampus. Dia ingin terus mengembangkan bisnisnya ini ke berbagai bidang. Bermodal kemitraan usahany merambah perkebunan, kehutanan, ekspor, hingga ke jalur perbankan, dimana omzetnya mencapai Rp.4 triliun per- tahun. Bahkan ia mantap memberika nama bank -nya kelak yaitu Tama Bank. Triyono membuktikan satu hal bahwa menjadi pengusaha itu berkah, bukanlah keterpaksaan yang harus disesali, yang terpenting tetap fokus!

Biodata Triyono


Lahir: Sukoharjo, Jawa Tengah, 21 Juni 1981
Pendidikan:
- SD Mancasan 2, Baki, Sukoharjo
- SMP 1 Baki, Sukoharjo
- SMA 3 Sukoharjo
- S-1 Jurusan Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Sebelas Maret
  (UNS) Solo
Penghargaan: Finalis Wirausaha Muda Mandiri 2010
Orangtua: Priyono (ayah) dan Marinah (ibu). Ia anak ke-3 dari 4 bersaudara (2 kakaknya meninggal dunia).


Catatan penulis: ketika menulis artikel ini, saya (penulis) menangis, karena malu.

Artikel Terbaru Kami