Kamis, 15 Januari 2015

Biografi Tony Fernandes Bisnis Genius AirAsia


Perjalanan Anthony Franches Fernandes atau Tony Fernandes tidak lah mudah. Di jamanannya hiduplah era dimana perbedaan setatus begitu terasa. Berbeda di Indonesia yang memang sudah beda, di Malaysia, kamu tak akan menemukan perbedaan sangat mencolok. Satu kendala seorang Tony menjajaki karirnya bukan sebagai orang pribumi.

Ya, di jamannya, mungkin hingga sekarang adanya satu pembedaan tentang orang pribumi atau tidak terasa.

Alkisah, pertumbuhan Malaysia begitu pesat semua karena ikut andil tangan pemerintahnya. Dimana di tahun semenjak tahun kemerdekaan Malaysi di Agustus 1957, negara yang dulunya negara agrari ini telah berubah menjadi negara industrial. Di akhir tahun 1960 -an, dengan jenuhnya pasar impor, negara Malaysia memilih untuk menjadi negara eksportir.

Mei 1969, muncul demonstrasi karena pemerintah terlalu berpengaruh. Dimana pemerintah ikut campur sangat dalam soal pembagian kekayaan. Hampir mirip jaman orde baru kita. Disini terbaliknya dimana pemerintah fokus pada orang pribumi bukan orang asing. Di jamannya itu, kekayaan terbagi tiga ras: yaitu ras Bumiputra (pribumi), Chinese, dan India.

Dimana entrepreneurship kokoh didalam diri orang beras Chinese, dan India juga punya kelebihan pada hal tertentu. Sementara orang Bumiputra kurang dalam entrepreneurship -nya.

Tumbuh di luar


Tony lahir 30 April 1964, keluarganya tidak pernah berpengalaman atau kenal entrepreneurship, Ayahnya seorang tabib dari Goa (India), sementara ibunya itu seorang guru musik yang keturunan Malaka- Portugal. Atau dengan kata lain, Tony datang dari keluarga India- Malaysia dari golongan profesional. Dia itu berasal dari kelas menengah.

Seperti halnya anak kelas menengah lain, keluarganya tentu mampu mengirim Tony bersekolah hingga ke London.

Fernandes ketika berumura 12 tahun pergi ke London di tahun 1976. Dia bersekolah di Epsom Collage lalu lulus dan melanjutkan pendidikan di London School of Economics, dimana ia lalu lulus pada tahun 1987, dia mendapatkan gelar sarjana akuntansi. Totalnya dia telah tinggal di luar negeri selama 11 tahun. Perasaan akan rindu orang tua membawanya kembali ke Malaysia.

Sebuah pengalaman terbang  memberikan gambaran penerbangan murah. Saat itu, tetapi, belum terpikirkan apapun tentang bisnis airlines. Bahkan dia tidak bersentuhan walau secuil pun dengan penerbangan komersil. Dia seorang akuntan biasa saja. Selama perjalanan karir, dia singgah di Virgin Communication, salah satu perusahaan milik Virgin Group.

Apa yang dipelajari dari Virgin?

Dia belajar banyak tentang bisnis internasional. Memberikan dirinya pandangan tentang apa itu bisnis multi- nasional dan internasional.

Dia tercatat sebagai pegawai berprestasi. Membawanya resume baik hingga mampu masuk sebagai Senior Financial Analysis di Warner Music International di London. Di Warner, tumbuhlah jiwa entrepreneur dalam dirinya. Warner kala itu mengubah dirinya sebagai hanya seorang akuntan menjadi sosok seorang analis dan strategis.

Dia bekerja menjadi seorang analis disana sejak tahun 1989, kemudian di 2001, secara sadar memutuskan mengundurkan diri. Padahal kamu perlu tau Fernandes sudah menjadi Vice Presidents di ASEAN regional. Rekam jejaknya bekerja di Warner menunjukan sudah 3 kali dirinya menerima promosi. Mengagumkan.

Seorang pakar menyebut alasannya keluar dari Warner bukan tanpa strategi. Seolah ia telah bisa membaca kegagalan satu merger Warner untuk American Online di 2001. Sampai disini kenyataan bahwa sosok Tony Fernandes telah memiliki entrepreneurship didalamnya.

Tetapi kenyataan miris bahwa Tony Fernandes bukanlah orang Bumiputra menjadi menarik. Bagaimana dia sukses, tentu semuanya berkat kemampuanya sebagai seorang entrepreneur sejati.

Perbedaan itu sangat terasa seperti perbedaan antara kasus Malaysian Airline dan AirAsia sendiri. Dan satu fakta menarik, meski CEO, AirAsia secara kepemiliki lebih besar dimiliki orang asli Malaysia. Jadi menjadi entrepreneur sulit bagi mereka yang bukan penduduk asli Malaysia.

Lahirnya AirAsia


Beda Malasysian Airline dimana pemerintah bekerja sebagai entrepreneurnya. Kisah Tony berbeda, yakni ada sebuah perhentian di London. Inspirasinya ketika melihat Stelios Haji-Ioannou, pendiri easyJet airlines di televisi. Dia lah yang menjadi sumber inspirasi Fernandes membangun low- cost carier.

Sosoknya dilihat oleh Fernandes tengah menjelaskan konsep LCC ini di sebuah stasiun televisi. Tony mulai tersadar menemukan ide tentang penerbangan murah. Dia mulai berpikir dia bisa melakukanya nanti di Asia Tenggara.

AirAsia sendiri sejarahnya berawal dari perusahaan sedarah dari Malaysian Airline. Itu didirikan pada tahun 1993, dirikan oleh perusahaan konglomerat milik negara, DRB-HICOM dan mulai bekerja di tahun 1996. Di tahun 2002, secara tertulis MAS atau Malaysian Airline memonopoli udara.

Menjadi bagian milik negara membuat perusahaan mendapatkan dukungan mutlak pemerintah. Artinya juga termasuk komersialisasi. Tapi disadari atau tidak pemerintah lebih memilih MAS itu, menganak tirikan AirAsia. Kala itu, Tony Fernandes tengah menggarap idenya di tahun 2001, dan kebetulan, tahun itu AirAsia mempunyai hutang sebesar $37 juta.

Awalnya Tony sendiri tidak tau tentang perihal hutang AirAsia. Tujuannya kala itu cuma datang ke Perdana Menteri Mahathir di Juni 2001 meminta ijin terbang. Dia ngotot ingin bertemu Perdana Menteri untuk memberinya ijin membuka usaha.

Tony sendiri sudah mempunyai perusahaan bernama Tune Air. Dia bekerja sama dengan tiga orang patner, yang ternyata Bumiputra. Akhirnya, setelah bertemu Perdana Menteri, ia berhasil meyakinkan Mahathir soal LCC -nya. Ternyata, bukan cuma lisensi, ia juga memerintahkan Tony ambil alih AirAsia juga.

Dia memintanya agar TuneAir mengambil alih AirAsia sendiri, yang berarti mengambil alih hutang- hutangnya. Bukannya untung dia malah "buntung" harus mengambil alih perusahaan terbengkalai.


Beda target fokus AirAsia kala itu orang Asia yang belum pernah terbang. Memakai slogan "Now everyone can fly" mendorong mereka berbondong- bondong ke AirAsia. Dan, cara itu berhasil, AirAsia mengadopsi cara kerja Ryanair.

Caranya menggunakan satu jenis pesawat, menggunakan sistem online memotong biaya travel agen, makan berbayar, mengurangi waktu di tanah atau pesawat harus terbang sangat sering, dan membuat banyak jadwal penerbangan sesering mungkin.

Tau kah kamu siapa orang dibalik ide brilian diatas. Dibaliknya, ada Connor McCarthy, mantan Direktur Operasi Ryanair, yang dijadikan Tony penasihat. Sosok Tony Fernandes memang risk- taker. Entrepreneur sukses menghasilkan miliaran dollar. Tony tercatat orang terkaya ke- 7 di Malaysia memiliki total kekayaan $650 juta.

Artikel Terbaru Kami