Kamis, 29 Januari 2015

Office Boy Jualan Sate Acara Hitam Putih

Biografi Achmad Junaidi Basri



Achmad Junaidi Basri, atau biasa disapa Junaidi, adalah nama pengusaha mantan office boy itu. Kisahnya tak banyak terungkap hingga kita mengenalkanya dari acara Hitam Putih Trans7. Siapakah dia? Dia cuma pria asal Desa Mambulu, Sampang Madura. Dia cuma pengusaha biasa yang sering gagal. Belajar darinya kamu akan sadar dia adalah putra asli Madura. Pantaslah jika bisnisnya ialah berjualan sate, namun jangan salah, ini bukanlah bisnis pertamanya. 

Mr. Teto (nama bisnisnya) bukanlah pula bisnis biasa karena memproklamirkan dirinya jadi satu usaha di delivery order pertama. Untuk usaha sate khas Madura Mr. Teto punya branding kuat ditunjuang oleh layanan delivery order berkualitas khas restoran cepat saji. Disini di Kota Yogyakarta menjadi saksi perjuangan Junaidi dan Mr. Teto. Nama unik yang belakangan ternyata punya arti Madura Sate Soto. Butuh waktu panjang baginya memperkenalkan brand milinya. 

Tahun 2009, ia tengah merantau ke Kota Yogyakarta untuk kuliah. Dia berkuliah Manajemen di Universitas Cokroaminoto. Disaat duduk di bangku Semester IV, bermodal cuma Rp.30.000 membuka usaha sate pinggir jalan. Kala itu Junaidi jualan di pasar Prenggan, Kota Gede, yang tak jauh dari kontrakannya. Dia tak mengambil untung banyak. Sate pertamanya dijual hanya Rp.1.500 per- bungkus. Dalam sehari ia berkisah bisa laku empat bungkus.

Di hari berikutnya entah apa yang dipikirkannya. Dia menjual Rp.1.000 per- bungkus atau lebih murah 500 rupiah. Dalam waktu super singkat sukses menjual 35 bungkus dalam waktu 5 menit. Junaidi menyimpulkan sendiri bahwa jualannya sebelumnya kemahalan. Dia pun terus mendalami bisnisnya tersebut. Setelah dua tahun ia akhirnya mampu memberli gerobak dorong.

Bisnis sambil kuliah


Junaidi membagi waktu dari kuliah dan berbisnis. Dia membagi hari- harinya jadi tiga fase yaitu berjualan sate bungkus di pagi hari, berkuliah di siang hari, dan berjualan sate ke kampung- kampung di malam hari. Semua dilakukanya tanpa mengeluh. Dalam tempo lima bulan saja, dia sudah mampu menyimpan tabungan, yang ia gunakan sebagai modal kembali. Junaidi secara resmi membeli lima gerobak baru.

Kelima gerobaknya digunakan kembali. Ia mencari pegawai untuk menjalankannya. Semua gerobak ini ia beri nama sate imut. Pangsa pasarnya yaitu anak- anak kecil di sekolah- sekolah. Sayang, usahanya kali ini kena masalah yaitu pegawainya tidak berlaku jujur. Tidak semua mereka yang membantunya berjualan itu secara jujur. Entah apa yang terjadi Junaidi memutuskan berjualan sendiri. Dari lima gerobak tinggal satu gerobak utuh dikerjakannya.

Tahun 2007, genap sudah 6 tahun berkeliling, Junaidi akhirnya memutuskan membuka lapak sendiri. Tepat di sekitar kantor Pegadaian Kotagede. Tenda sederhana yang kemudian diberinya nama Sate Suramadu, saat itu terinspirasi jembatan Suramadu yang baru dibangun. Pelan tapi pasti pelanggan berdatangan. Lagi- lagi masalah datang kembali, katika itu, pemilik tempatnya menempel memintanya tak berjualan disana. Setelah itu resmi dirinya jadi pengangguran selama satu tahun.

Tak patah arang, ia kembali berjualan keliling kembali. Keinginan untuk membesarkan usahany menjadi satu dorongan sendiri. Mau tak mau, sosok pengusaha ini tetap butuh bimbingan dan mesti banyak belajar agar bisa profesional. Nah, oleh karena itu, sebagai mahasiswa Manajemen dia tak pernah berhenti belajar. Itu juga termasuk update berita di Koran. Ia pun update melalui kegiatan- kegiatan seminar bisnis agar bisa jadi lebih profesional.

Sayang kebanyakan seminar itu berbiaya mahal, bukannya begitu? Lantas apa yang dilakukan oleh seorang Junaidi, tetap bersikeras mengikuti seminar- seminar itu. Tapi dengan catatan ia memilih- milih seminar dan salah satu seminar dilihatnya pas dengan kantongnya. Sebuah seminar bisnis yang bertempat di sebuah perguruan tinggi di Yogya utara. Di seminar tersebut ia bertemu banyak pengusaha senior ataupun yang baru saja merintis usaha. Dia pun menyerap ilmu- ilmu mereka lalu menyimpulkan.

Ada dua poin kesimpulan menurutnya: ia harus yakin pada bisnisnya dan harus punya mentor dalam jalannya. Cara pikir kedaerahan diubahnya total karena bisnisnya harus jadi nasional. Seminar pertama berakhir baik tapi dirasanya belum cukup. Ia bersikera untuk mengikuti seminar kedua. Disini pertama kalinya sosok Junaidi memperkenalkan diri sebagai pengusaha sate. Di seminar kedua ini ia menyebut usahanya bernama Mr.Teto. Memang nama yang melawan arus untuk usahanya.

Jika biasanya penjual sate akan menggunakan imbuhan Cak, tidak bisnisnya. Dia lantas menjelaskan memilih nama unik ini bukanlah tanpa alasan. Dalam nama Mr.Teto ada unsur Madura, yaitu kata Mr. disini bukanlah berarti tuan, tapi merupakan kepanjangan Madura. Teto sendiri merupakan singkatan kata Sate Soto. Jadi Mr.Teto sebenarnya berarti Sate Soto Madura kiranya begitu. Ketika mengikuti seminar kedua itu dirinya telah bertransformasi jauh.

Dia mengaku telah memiliki usaha lain berjualan soto di Jalan Kemerdekaan.

Sate Mr.Teto


Soto di Jalan Kemerdekaan itu didirikan pada tahun 2014. Ia lantas bercerita perihal awal mulanya: saat itu ia mengaku pasrah karena gagal kesekian kalinya. Ia lantas bertemu teman kala SMA di Facebook, yang bernama Andri. Disaat itu temannya itu sudah sukses jadi PNS di provinsi lain. Keduanya mulai membangun komunikasi. Kedua sahabat ini lantas saling mengingat janji mereka; membangun perusahaan sendiri. Singkat cerita, Junaidi mendapatkan suntikan modal 30 juta dari sahabatnya tersebut.

Uang itu lantas digunakan untuk merayu adik iparnya yang sudah membuka warung sate di Jalan Perintis Kemerdekaan. Dengan PD -nya menawarkan kerja sama bagi hasil 50-50. Sayangnya, bujuk rayu Junaidi tak mempan untuk adiknya itu. Saat itu dijelaskan pengusaha muda ini bahwasanya adik iparnya itu sudah punya penghasilan 300.000 per- hari. Tak pantang menyerah ia tetap berusaha merayu sang adik ipar untuk berbisnis bersama.

Akhirnya ia diperbolehkan berjualan sendiri mendompleng usaha adiknya. Junaidi berusaha soto dan ayam bakar. Disini ia membranding usaha sate adiknya tersebut. Dia menggunakan nama Mr.Teto dan hasilnya itu diluar dugaan; usaha adik iparnya itu naik untungnya dari 800 ribu sampai 1 juta per- hari. Ayah dua anak ini semakin meyakini papatah suksesnya "siapa menanam, dialah yang akan menuainya". Ikhlas ia terus berusaha mempromosikan usaha yang sejatinya milik adik iparnya.

Usaha sate itu bersama usahanya ditawarkan dari rumah ke rumah, dari instansi ke instansi. Dia cuma punya modal brosur yang dibagi- bagikan. Ia juga memperkenalkan konsep delivery order petama kali untuk bisnis sate medura. Dalam tempo empat bulan dari konsep bisnis inilah ia sukses mencapai 30 juta. Omzetnya itu dibagikan kepada adiknya (meski dia bekerja lebih keras. Junaidi sama sekali tak berniat mengambil fee milik adiknya.

Bagi dirinya saat itu bisa berjualan disana serta diperbolehkan membranding sate milik adik iparnya. Suatu hari adiknya itu mensetujui berusaha total bersama. Adik iparnya memberikan syarat baginya agar mencapai target tertentu, yaitu Junaidi haru bisa menjual 100 boks per- hari. Ia pun menyanggupi sayarat ini. Ternyata dalam tempo dua bulan target ini bisa terpenuhi. Genap 10 bulan berlalu, dan Junaidi meminta ketegasan dari sang adik.

Junaidi dengan agak mengancam meminta ketegasan. Dia akan keluar membawa brand Mr.Teto dan sang adik ipar akan kembali ke warung aslinya. Akhirnya disetujui kerja sama total yang artinya mereka nanti itu berbagi kepemilikan tempat dan merek. Tapi jangan salah sangka ini berjalan begitu saja. Sang adik ipar itu mau asalkan hasilnya jadi 60:40. Nampaknya kesabaran seorang Junaidi masih diuji kembali. Dari syarat itu ia semakin bersemangat membranding Mr.Teto sebagai delivery order sate Madura pertama.

Mimpi menjadikan delivery order pertama sate madura di Indonesia bahkan juga dunia; membuat sosoknya tak mudah putus asa. Adik iparnya dijadikan manajer produksi olehnya. Anek olahan sate pun dibuatnya dari sate Madura, sate bumbu kacang, dan sate kelapa dimadu. Perlu diketahui sate Madura punya rasa unik berbeda dengan sate biasa. Yakni satenya dibuat dilumuri madu, jadi tanpa bumbu kacang sudah lezat, tapi Junaidi menambahkan bumbu kacang biar lebih sedap.

Sementara sate kelapa dimadu dibuat melalui proses bacem. Ini sate bahan bakunya dibacem dulu lantas dibumbui kelapa dan madu, lantas baru dibakar. Rasa sate miliknya jadi lebih gurih, lezat, dan renyah dan harganya tak mahal cuma Rp.16.000 per- porsi. Perlu kamu tau Mr.Teto cuma men delivery produk olahan aneka sate. Untuk soto dan ayam bakar masihlah belum ketika artikel ini dibuat. Dari usaha soto, sate, dan ayam bakar tak kurang 10 juta dikantongi setiap bulan.

Untuk menambah hoki bisnisnya, ia tak lupa selalu beramal. Yaitu melalui pegawai- pegawainya yang kuliah di Yogya. Di sela jam kuliah, mereka bisa bekerja di Mr.Teto dan tetap mendapatkan gaji. Selain itu ia bisa memasukan anak- anak Madura ke pesantren agar bisa menjadi tahfiz (penghafal) Al- Quran. Konsep dari usahanya ini, katanya, adalah usaha spiritual company. Ia tak terlalu berpikir tentang keuntungan.

Harapan Junaidi untuk Mr.Teto ialah mengangkat masakan Madura di kancah nasional bahkan dunia. Brand Mr.Teto yang telah menjadi pemenang pertama ajang Business Plan Contest Smartpreneur. Junaidi juga pernah menjadi tukang sapu iitu pun sekarang sudah menjadi jutawan.

Artikel Terbaru Kami