Minggu, 14 Desember 2014

Kewirausahaan Seorang Tukang Bakso Mas Triman


Tukang bakso jadi kaya. Kata siapa menjadi tukang bakso bukanlah usaha menguntungkan. Siapa sangka usaha yang kecil ini bisa jadi besar berkat waralaba. Kisah ini, kisah kewirausahawanan bakso Ojo Lali Mas Triman milik H. Mudo Sartono. Wirausahawan yang sudah berbisnis sejak tahun 1978. Meski persaingan di dunia bakso semakin ketat, berkat ciri khasnya serta merek dagang Ojo Lali, Pak Sartono sukses bertahan puluhan tahun.

Pria 56 tahun yang mengawali semuanya dari berjualan bakso keliling. Karena keterbatasan modal apa yang dipikulnya kala itu bukan miliknya. Sudah lama ia berkeliling, berjualan dan menjajakan baksonya di Muara Angke Tangerang, hingga keinginan memiliki tempat sendiri timbul. Namun semua harus dimulai dari nol. Ia berkisah bagaimana dari bakso pikul jadi bakso grobak. Sartono akhirnya punya grobak bakso sendiri yang digunakannya berkeliling kawasan Grogol Jakarta Barat.

Tahun- tahun itu kawasan Grogol dikenal sebagai kawasan tak ramah. Ia pun sering mendapatkan masalah. Dari kawasan Grogol, Sartono pindah rute berkeliling Pondok Kopi Jakarta Timur, sekitar tahun 1990. Dia tak ngotot untuk punya tempat sendiri. Justru suatu hari ada pelanggan yang menawarinya. Dia menawari Pak Sartono sebidang tanah untuk disewa di kawasan Pondok Kopi kawasan Jalan Robusta. Lokasi yang cukup strategis untuk mengkal grobak bakso.

Tak berpikir panjang tawaran itu diambil, daripada berkeliling toh tempat itu memang jadi favoritnya. Apalagi si empunya memberikan keringan di satu bulan pertama.

Allah membukakan pintu suksesnya sejak itu. Sejak tahun 1990, seorang Haji memberinya kesempatan untuk berusaha di tempatnya itu. Di Pondok Kopi lah bisnis kecil jadi besar. Nama Ojo Lali sendiri diambil dari bahasa Jawa yang artinya "jangan lupa". Maksudnya mungkin agar kita tak lupa akan enaknya bakso ini.

"Alhamdulillah bakso saya laris, sampai ada penyanyi ngasih nama Mas Triman," ujar Mudo atau Triman, suami dari Srini ini.

Memang tak memakan waktu lama bagi Triman untuk mengangkat baksonya. Ia mengutamakan rasa serta untungnya karena mendapat tempat strategis. Barokah jalan kakinya menyusuri rel Angke- Tangerang telah terbayar. Prinsipnya menjaga kualitas. Pada 2004, pria asal Sukoarjo ini akhirnya membuka cabangnya di Ruko Bekasi Timur Regency, lalu membuka lagi di Centra Bumyagara tahun 2006 dan di jalan Mutiara Gading setahun kemarin. 

Triman mengutamakan citarasa dan layanan. Ia selalu menjaga kualitas memilih daging hanya kualitas utama. "Rasa enak bakso karena daging sapinya bagus, tambahan tepung tapiokanya sedikit saja," bocor Triman. Selain sedap, bakso dan mie ojolali lumayan murah. Seporsi bakso atau pun mie ayam bakso dipatok antara Rp. 8 ribu - 12 ribu. Jika dulu, Pak Triman hanya bisa menghabiskan 2,5 kilogram daging sehari, kini bisa laku 60 Kg-1 kwintal daging.

Cabang Bakso OJOLALI :


1.  Jl. Raya Robusta Blok Q7/3, Depan Kolam Renang HS. Agung, Pondok Kopi
2. Perumahan Bekasi Timur Regency, Bekasi
3. Perumahan Bumyagara Blok D5/7, Bekasi
4. Perumahan Mutiara Gading Timur Blok R, Bekasi
5. Jl. Raya Pengasinan, Depan Ruko Rafflesia, Bekasi
6. Jl. Irian no.6, Nusantara Raya, Depok

Artikel Terbaru Kami