Minggu, 14 Desember 2014

Usaha Unik Bumerang Sangat Mengejutkan


Listyo Bramantyo: Seni, OlahRaga, dan Prospek Bisnis


Karya seni itu harganya tak terbatas. Berapapun harga yang ditawarkan kenikmatan dalam pembuatannya tak akan sebanding. Ini kisah Listyo Bramantyo, dimana karya bumerang buatanya ditaksir seharga Rp.1,4 juta. Semua karena kejelian pria asal Yogyakarta ini mengenali kualitas kayu. Bumerang buatannya memiliki serat dan lekukan alami. Jatuh cinta pada pandangan pertama Listyo kepada bumerang. Semua karena dia (bumerang) memiliki gaya tarik unik -jika dilempar kembali lagi.

Mungkin jika ibaratnya manusia maka bumerang bisa jadi wanita yang setia. Di kediaman Listyo di pojokan dekat bentang peninggalan kerajaan Mataram. Ditemui tim Jawa Post, rumah asri miliknya telah dikenal lama menghasilkan bumerang- bumerang. Waktu kecil katanya dia sudah tertarik akan sosoknya. Sayang, Lis cuma bisa melihat dari gambar saja, setelah besar barulah ia semakin ingin tau. Belajar dan mencari tau, Listyo kini tidak hanya ahli dalam melempar bumerang.

Dia juga bersemangat untuk memproduksi bumerang sendiri. Kan pada awal tahun 1990-an masih jarang orang menjual atau memproduksi bumerang di Indonesia. Jadi ini bisa jadi usaha menguntungkan. Dia sendiri, kala itu, sudah dikenal sebagai ketua Komunitas Bumerang Jogja dan akhirnya, Listyo mulai membuat bumerang sendiri. Memulai dengan fase coba-coba dan gagal, hingga menemukan formulasi dan bahan yang pas.

Saat itu, tidak banyak sumber bisa dijadikan referensi tidak seperti sekarang yang banyak di Internet. Listyo cuma berbekal mengikuti naluri dan teori. Setelah berbulan-bulan ia bisa membuat boomerang sendiri.

Seni itu mahal


Bumerang buatanya baru berbentuk dan bermodal cuma bisa terbang. Soal kualitas kayu untuk bahan baku, ia mengaku masih banyak belajar. "karena kontur kayu jadi dasar pembuatan bumerang. Jadi paling tidak kita harus tahu karakter tanaman," paparnya. Sebagai tambahan kolektor tidak hanya memburu bumerang dari bahan pabrikan yang terbuat dari bahan lain, tapi juga berbahan baku alami dari kayu. Hanya saja tidak semua jenis kayu bisa digunakan sebagai bahan baku pembuatan bumerang.

Bahannya bisa kayu kemuning, akasia, sawo, walikukun, sono-keling, dan beberapa jenis pohon lain. Yang pasti baik akar maupun batang bercabangnya bisa digunakan sebagai bahan baku. Kayu solid seperti jati pun bisa. Namun, hanya akarnya yang mumpuni untuk digunakan, dia menambahkan pohon yang tumbuh lambat sulit dijadikan bahan baku.

Kalo untuk produk bumerang dari kayu jati cuma buat fun saja imbuhnya. Sedangkan umumnya sebagai bahan baku ia menggunakan pohon akasia. Namun bila anda mau yang profesional, yang lemparannya kuat. Listyo lebih menyarankan untuk menggunakan bahan sonokeling ataupun walikukun.

"Karakter dan serat kayu sam-pai sekarang saya pelajari. Untungnya di Jogja tidak sulit menemukan bahan. Saya juga sudah memiliki kenalan di daerah Dlingo, Bantul, yang mau mencarikan kayu. Kalau cocok, ya saya beli untuk produksi," ujar salah seorang pencetus Asosiasi Bumerang Indonesia ini.

Ditemui di rumahnya di Dalem RT 42 RW 10 Kota Gede, Yogyakarta, dia mulai intens membuat produk dari tahun 2008. Setidaknya dia bisa membuat 16 bumerang dalam satu bulan. Sebagai tambahan dia juga bisa membuat produk pabrikan. Jika hand made dari kayu hanya bisa membuat 16 bumerang, jika dari produksi pabrikannya bisa menghasilkan puluhan, sehari bisa 5 buah. Namun, menurutnya membuat bumerang dari bahan kayu itu lebih menantang.

Ada nilai seni dari kesabaran membentuk bahan kayunya. Dia harus menunggu hingga dua bulan agar kayu yang dibentuknya kering. Selain itu adanya serat pada kayu menambah seninya. Seolah seperti ukiran alami Listyo rela harus menunggu lama. Bumerang berbahan kayu yang lekukannya alami bisa memiliki nilai jual yang tinggi tambahnya. Bumerang buatannya dijual dari 400 ribu, dan termahal 1,4 juta dimana bahan kayu, serat, dan lekukannya alami.

Listyo mengaku semakin mencintai bumerang ini. Apalagi, setelah banyak orang dari negara lain yang melirik bumerang buatannya. Belum lama ini dia telah mengirim bumerang pesanan ke kenalannya yang ada di Jerman, serta negara lain seperti Jepang, Brazil, dan bahkan dari negeri asalnya, Australia. Soal pengiriman ke luar negeri memang agak sulit, terkait pajak. Makanya dia selalu menuliskan di pengirimannya kalau ini handycraft, karena pada kenyataannya ini buat mainan dan koleksi.

Menurutnya bumerang sekarang diminati untuk sekedar koleksi atau hobi saja. Dia bersama komunitasnya tengah mengupayakan agar bumerang diakui sebagai olah raga.

Artikel Terbaru Kami