Senin, 08 Desember 2014

Desainer Cilik Tuna Rungu Menggampai Hal Mustahil


Karya Rafi Abdurrahman ialah ketulusan


Meski tuna rungu Rafi Abdurrahman Ridwan (11) tidak berhenti berkarya dan berprestasi. Apa yang dibalik kekurangannya ada kelebihan yang dia asah terus. Dia sadar melalui karyanya bisa merubah dunia. Di awali satu kisah disaat ia berumur 4 tahun. Ketika itu ada film kartun berjudul Ariel, the Little Mermaid. Sosoknya gadis kecil yang lucu dan cantik, tapi sayang, ia tak menggunakan baju yang pantas baginya. Itulah kira yang dilihat dari sosok Ariel, tokoh kartun dalam benak Rafi.

Ia melihat Ariel lebih cantik dengan bajunnya sendiri. Sang ibu pun tak mencoba menjelaskan itu hanyalah sosok kartun, tidak nyata. Ibu hanya membiarkan Rafi berkreasi dengan idenya tentang sosok putri duyung. Ibunya, Shinta lantas mengajaknya menggambarkan baju untuknya. Shinta mengingat jelas disebelah gambar Ariel, the Little Mermaid buatan Rafi ada pakain- pakaian cantik. 

Ariel the Little Mermaid kini terlihat tampak lebih cantik dengan pakaian rancangan Rafi dari pakain coat, pakain gaun, dan macam- macam.

Mimpi desainer


Tanda bakatnya yang jelas membuat sang ibu senang. Ada optimisme hingga menuntunnya untuk mencarikan seorang guru gambar. Tapi, sayang, tak ada guru yang mau mengajarnya. Alasannya bisa ditebak, ya karena Rafi tidak bisa mendengar dan sulit berbicara. Seolah ada batasan antara guru dengan murid dalam caranya mengantar ilmu.

"Saya sedih bukan main. Anak tuna rungu dianggap enggak bisa apa- apa," kenang perempuan berjilbab ini

Di usia 9 tahun, Rafi mulai dikenalkan dengan dunia fashion oleh ibunya. Dia sering diajak melihat- melihat berbagai fashion show. Terlebih setelah Rafi bertemu sosok seorang desainer terkemuka, Barli Asmara. Dari perkenalan ditambah kunjungan ke tempat kerja Barli, Rafi pun jadi tahu bahwa gambar di kertas itu bisa diwujudkan menjadi baju yang dipakai.

Cita- cita menjadi seorang perancang mulai tumbuh dalam benaknya. Ia pun jadi sering meminta gambarnya diwujudkan menjadi baju.

"Nah, di situlah saya mulai pusing, ha ha ha... Saya jarang sekali membuat baju di tukang jahit. Tapi, untuk menghargainya, tetap saya buatkan meski berupa kaus. Gambarnya saya scan, lalu saya cetak di kaus," cerita Shinta.

Ternyata Rafi tak puas ketika desainnya hanya berakhir sebagai kaus cetak. Desainer cilik kelahiran 20 Juli 2002 tersebut ingin lebih dari gambar- gambar desainnya. Dia ingin mewujudkan sama persis dengan apa yang ia gambarkan. Nah, Barli Asmara kemudian membantunya melangkahkan kakinya menjadi seorang desainer cilik. Caranya yaitu dia mengajak Rafi untuk berkolaborasi.

Dimana semua desain buatan Rafi, sedangkan pembuatannya oleh Barli, jelas ibu Rafi.

Melalui fashion show pertamanya membuat Lia Chandar Foundation tertarik. Mereka ingin membantu mimpi Rafi menjadi seorang desainer.  Siswa SLB B Santi Rama ini kemdian dimodali untuk bisa ikut dalam Jakarta Fashion Week 2012untuk dikenalkan ke kancah internasional. Lia Chandra yakin anak berbakat seperti Rafi akan mampu menghasilkan karya luar biasa yang bisa menginspirasi orang lain.

Hasilnya, Jakarta Fashion Week 2012 jadi "geger", ini semua karena Rafi jadi yang termuda. Dia jadi sosok desainer termuda dalam acara tersebut. Karyanya diakui ketika kolaborasinya dengan Purana Batik dan Ariani Pradjasaputra. Nama Rafi langsung meroket dan didengar banyak kalangan.

Suatu hari datang email yang membuat Rafi melonjak gembira, sementara sang ibu terkaget- kaget. Kaki ibunya terasa lemas membaca email tersebut. Rafi dihubungi Tyra Banks, model dan selebriti terkemuka asal Amerika Serikat. Tyra dikenal sebagai model top dunia. Dia juga memiliki program sendiri yang terkenal bernama America's Next Top Model. Dari program itu pula pakaian buatan Rafi lebih dikenal.

"Kami benar-benar enggak pernah mimpi. Tyra Banks meminta Rafi menyiapkan baju untuk acara America’s Next Top Model di Bali," kata ibunya bersemangat.

Ada tujuh baju yang dipakai di acara tersebut. Tapi yang terpenting ialah profil Rafi sebagai perancangnya ikut ditulis di berbagai media. Tyra bahkan mengirim foto serta satu pesan singkatnya khusus untuk Rafi di Indonesia, "To Rafi, the newest, fiercest fashion designer in the world (and the youngest!!). Dia juga memuji desain Rafi dan menyemangatinya," tiru Shinta.

Klien Rafi pun berdatangan sekarang tidak hanya dalam negeri, kebanyakan bahkan dari luar negeri. Paling banyak dari Spanyol jelasnya. Suatu kali Rafi diundang fashion show di Festival Indonesia Melbourne 2012 dan enam kota lain di Australia. Rafi menunjukkan bahwa dirinya tak hanya pandai dan berbakat dalam acara itu. Ia juga menunjukan kecerdasan emosional yang tinggi dan hati yang lembut. Rafi meminta seluruh pengerjaannya tak lagi menggunakan jasa tukang jahit langganannya.

Rafi meminta pekerjaannya diserahkan kepada sesama difabel yang punya kemahiran menjahit.

Artikel Terbaru Kami