Jumat, 19 Desember 2014

Sejarah Kerudung Rabbani Kerudung Instan Masa Kini


Penemu kerudung instan Rabbani

 
Kisah sukses Rabbani memang mengejutkan. Tiba- tiba ada puluhan cabang dibuka di berbagai kota. Siapa sosok dibaliknya. Pengusaha jenius itu ternyata seorang pria. Meski dibawah bendera CV. Rabbani Asysa, kami menemukan Amry Gunawan lah pemiliknya. Dia memanglah tidak sendiri menjalankan bisnis ini. Amry bersama istrinya, mereka bersama menjalankan perusahaan kecil tersebut. Perusahaan yang dikenal sebagai profesornya kerudung instan.

Amry sedikit dari pengusaha dibidang fashion. Terutama dia bukanlah desainer, bukan juga wanita. Memang pada umumnya bisnis fashion dikuasai kaum Hawa. Berawal dari jatuh bangun mengerjakan berbagai usaha. Dia dulu dikenal sebagai penjual buku, alat- alat kantor dan kaos. Nama Rabbani sendiri sudahlah melekat sejak usaha pertamanya. Sejak ia berjualan alat- alat kantor dan buku.

Sejak tahun 1991, ia tergolong cukup sukses berjualan buku dan alat kantor. Saat itu ia menjual buku- buku islami. Dia dikenal berjualan di depan kampus Universitas Padjajaran (Unpad). Disaat usahanya itu sukses, ia segera membuka toko buku sendiri. Tak bermodal besar, cukuplah ia merubah sebagian rumah kontrakan di Jalan Haur Mekar menjadi toko buku.

Setelah usahanya semakin sukses. Amry mulai mengumpulkan uang untuk membuka toko sendiri. Akhirnya sebuah toko buku baru lahir. Dia lantas memberinya nama Pustaka Rabbani, letaknya masih didekat Unpad, tepatnya di Jalan Dipati Ukur.

Semua berawal dari perjalanan pendidikannya di Kota Kembang. Tahun 1986, Amry memutuskan pergi ke Bandung untuk melanjutkan studi di Fakultas Ekonomi Universitas Padjajaran (Unpad). Namun, karena ada persaan kuat untuk mendalami Agama, Amry berbalik arah tujuannya. Dia bukannya masuk ke ekonomi, Amry malah masuk ke jurusan Sastra Arab.

Usia Amry masih muda kala itu masih 22 tahun. Sambil berkuliah Amry berusaha untuk mandiri. Meskipun masih hidup seadanya, dia tak takut untuk menikahi seorang akhwat. Bermodal pinjaman dari guru ngajinya sebesar 60 ribu rupiah. Dia tak takut "mau makan apa". Meski begitu masalah duniawi tak bisa dihindari. Meski sudah bertekat, setelah lahirnya anak pertama, ia harus memutar otak lebih lagi.

Tahun 1991, ia memulai usaha buku Islami dan peralatan kantor. Dia lantas berjualan di depan kampus Unpad. Disaat usahanya semakin naik ia akhirnya membuka toko sendiri. Cukuplah bermodal sebagian dari rumah kontrakannya di Jalan Haur Mekar menjadi toko buku. Sedikit demi sedikit Amry mulai menyisihkan keuntungan untuk membuka toko kedua. Kali ini ia membuka toko sendiri tanpa menempel rumahnya.

Sebuah toko buku bernama Pustaka Rabbani di Jalan Dipati Ukur, masih dekat Unpad. Seking sibuknya ia memuka usaha sendiri. Amry memutuskan meninggalkan kuliah Sastra Arab -nya. Pria kelahiran Aceh Utara, 20 Februari 1967 ini, benar- benar ingin fokus pada bisnisnya. Tapi pada tahun ke empat ia malah banting stir berbisnis kerudung. Saat itu ia melihat peluang dari kaum muslimah di Indonesia.

Waktu itu, khususnya untuk instansi formal pemerintahan khususnya pendidikan dan perkantoran, ada satu larangan menggunakan jilbab. Dia lantas berpikir jika dilarang bukannya semakin penasaran. Dari sanalah, ia membuka usaha kerudung dibantu istrinya. Semuanya hanya bermodal nekat. Ia lantas menjual toko buku itu untuk modal usaha. Dia bahkan tega memberhentikan 30 karyawan yang tak siap memulai dari nol bersama. Semuanya dia lepaskan untuk memulai lagi.

Ide kerudung


Ide kerudung instan datang ketika ia dan istrinya berkunjung ke Tanah Suci tahun 2003. Di tempat itu, sang istri melihat seorang wanita muslim China mengenakan kerudung kreasi. Dari melihat itulah ide- ide tentang kerudung apa bermunculan. Uang 15 juta hasil menjual toko dijadikannya modal. Selain dari menjual toko, Amry juga mendapatkan tambahan dari sang istri. Waktu itu istrinya dengan rela menggadaikan lima gram emas mahar.

Istrinya Nia bersamanya ketika usaha itu tumbuh. Dibawah bendera CV. Rabbani Asysa keduanya fokus pada konsep kerudung instan. Karena mudahnya membuat kerudung instan ini. Maka sepanjang usahanya itu selalu ada saja yang meniru. Maka untuk menyiasati hal tersebut, ada tim khusus menangani inovasi dan juga pengembangan desain baru. Bahkan Rabbani mampu mengeluarkan model baru setipa sepertiga bulan sekali. Ada 35 ribu kerudung untuk 120 outlate yang tersebar di seluruh Indonesia.

Dari desain awalnya sudah ada ribuan lusin model sejak berdirinya. Setiap satu modal itu terjual maka tidak akan ada model lagi yang sama. Itulah juga alasan mengapa tag line bisnisnya "Profesor Kerudung". Benar- benar fokus pada model yang selalu kaya. Untuk harganya bervariasi di setiap produknya. Mulai dari harga 14.500 sampai 800.000 -an. Selain fokus di kerudung, Rabbani juga mengeluarkan produk busana muslim satu paket.

Nah, untuk harga busana muslim, Rabbani menjual Rp.89.000 sampai 40.000 per- potong. Lalu juga ada produk lain seperti mukena, busana anak dan lain- lain. Karyawan Rabbani pun melonjak jauh jadi 2500 orang karyawan. Jumlah ini tersebar di berbagai cabang, baik di kantor pusatnya yang ada di  JL. Dipatiukur no 44, Bandung. Ada pula yang di tempat- tempat desain dan produksinya di kawasan Leuwisari, Karasak, Soekarno Hatta, Mochammad Toha, Kopo dan beberapa tempat lainnya di Bandung.

Ada masanya untuk bisnis Rabbani bersinar. Itulah bulan Ramadhan. Jadilah produk Rabbani akan gencar untuk selalu melakukan promosi. Promosinya akan ada di berbagai media, dari media cetak, televisi, dan juga radio. Bahkan untuk media televisi, Rabbani melakukan promosi di berbagai tayangan sinetron dan juga tayangan televisi lain. Caranya dengan menjadi sponsor para artis yang tampil di layar kaca.

Kita pasti ingat produk Rabbani dari seniteron: Cinta Fitri Seson Ramadhan, Fitriyah, Islam KTP, Charlie & Trio Angel di SCTV; Ada Kontrakan Dalam Gang, Alif Ba Ta serta Mat Jiung di TPI; Nurjanah dan Nikah Siri di INDOSIAR; Assalamualaikum Ustadz di RCTI; Bioskop Indonesia trans TV (Trans TV); Istri-istri Jagoan di Global TV; serta Wara Wiri Ramadhan di Trans 7.

Lantas bagaimana Rabbani begitu menjamur. Usut punya usut, ternyata Rabbani telah menggunakan sistem waralaba, jauh sebelum bisnis marketing modal ini jadi tren. Bedanya jika umumnya cuma waralaba, maka Rabbani manamainya wala rabba. Wala disini artinya loyalitas sedangkan rabba artinya Tuhan. Waktu itu nilai investasi tergolong tinggi, sekitar 500 juta per- investor. Dengan uang segitu pewaralaba sudah bisa menjual produk- produk aneka macam dengan sistem bagi hasil

Selain menggunakan konsep waralaba ada pula istilah sub- dealer. Dimana investasi awalnya cukup 5 juta saja dan untuk pendaftaran 250 ribu investor akan mendapat diskon 30%. Cara- cara inilah yang digunakan agar Rabbani selalu dekat dengan masyarakat. Konsep lain juga melalui menjadi loyalitas pelanggan melalui sistem seperti downline. Dimana para pelanggan akan mendapatkan diskon- diskon untuk setiap pelanggan baru.

Sampai Juli 2010 Rabbani memiliki 60 ribu waralaba. Adapula 500 juta investor yang telah aktif sebagai pelanggan dan penjual produk kerudung instan ini.

sumber: diterbitkan oleh Majalah Pengusaha Muslim. Edisi 9. Volume 1. September 2010, Rubrik Laporan Utama Hal 20-23 "Bisnis Menjanjikan di Saar Lebaran"

Artikel Terbaru Kami