Rabu, 31 Desember 2014

Biografi Pengusaha Cacing Abdul Aziz Inspiratif


Mungkin kamu sudah pernah mendengar cerita pengusaha satu ini. Pria bernama lengkap Abdul Aziz Adam Maulida, atau Abdul Aziz, bukanlah pengusaha biasanya. Jika kita melihat bisnis agro, pastilah terbayang apa saja yang dari agraria. Dari usaha aneka peternakan, seperti ternak sapi, ayam, ataupun beternak lele, tapi bagaimana jika beternak cacing.

Inilah kisah Abdul Aziz sang pengusaha dan peternak cacing yang sukses menangguk untung jutaan rupiah.

Keluar dari perusahaan


Awalnya, Adam hanyalah seperti kita pada umumnya, pegawai di sebuah perusahaan. Namun, tepat pada 27 April 2010, dia memilih mengundurkan diri untuk  berbisnis sendiri. Tercatat dia telah melakoni banyak usaha dari membuka les privat SD, beternak sapi, beternak lele, bahkan jual- beli kertas bekas. Seperti pengusaha pada umumnya, apapun usahanya tak ada yang sukses kala itu. Semua proses belajar yang dilalui pria asal Malang ini.

Kapan dia berkenalan dengan bisnis cacing. Ketika itu ia bercerita tengah mengikuti seminar belut di satu komunitas, Komunitas GOBES (Gabungan Orang Belut Semarang) namanya. Nah, disanalah dia tau kalau mekanan belut itu cacing, tapi belum sadar sepenuhnya saat itu. Bukannnya langsung berbisnis cacing. Adam malah berbisnis kolam belut. Dia lantas menyebar 10 kilogram cacing itu ke kolam belutnya.

Nyatanya bisnis belut bukanlah untungnya lagi. Itu tak semudah yang kita bayangkan. Semua perbaikan telah dicobanya, dari pakan dan perlakuan, tapi hasilnya tetap gagal. Apa mau dikata kali ini bisnisnya tak hoki lagi. Adam menyerah untuk berbisnis belut.

Gagal menjadi pengusaha belut. Adam lantas melirik usaha lain menjual kertas dan besi bekas. Hingga ia meresapi pakan belutnya, yaitu cacing. Kalo dilihat- lihat lagi bukannya lebih mudah ya kalo membudidaya cacing. Pakan murah melimpah pikirnya. Perkebangannya pun cepat, penyakit raltif tidak ada, perawatannya juga mudah dalam benaknya.

Namun apakah berharga untuk dijual. Adam pun berpikir dan menemukan bahwa cacing punya nilai jual. Ada prospek pasar yang terbuka disana untuk digali lebih dalam.

Pada Agustus 2010, ia mencoba menawarkan cacing untuk pemancingan di sekitar rumahnya saja. Cacing- cacing itu ternyata laku Rp.40.000 per- kg. Lalu, berita tersebar, efeknya ya jadi banyak pemilik kolam pemancingan yang meminta cacingnya. Kebutuhan kala itu ada 5- 10 kg per- minggu. Sejak saat itulah ia pun sibuk beternak cacing. Kalo dilihat memang cacing punya pasarnya.

Sumber penghasilan dari ucaha cacing bisa dari kosmetik, pertanian, perikanan maupun peternakan, bahkan bisa pula dari kolam pemancingan. Adam telah menemukan usaha yang dicarinya. Pada Juli 2011, permintaan akan cacing juga datang dari Dinas Perikanan Provinsi Jawa Timur. Dia diminta untuk mensuplai kebutuhan pakan indukan ikan sekitar 1 ton per- bulan. Usaha cacinya semakin berkembang, ketika itulah harga cacing miliknya bisa menembus angka 50.000 per- kg.

Januari 2013, saking banyaknya permintaan, akhirnya, Adam mengajak kerabat dan temannya untuk ikut serta di bisnis cacing tersebut.

Sekolah cacing


Adam tercatat menjadi inisiator pembudidaya cacing jenis lumbricus di Kota Malang. Pria lulusan S-1 Teknik Industri Institut Teknologi Sepuluh November, Surabaya, ini sekarang telah memiliki tanah 600 meter. Dan, coba kamu tebak, kesemuanya merupakan peternakan cacing yang bergeliat di tanah. Melalui "kandang" cacing itulah ia menghasilkan untung hingga ratusan juta.

Peternakan cacing itu mampu menghasilkan cacing yang beratnya mencapai 3-4 ton per- bulan. Dimana Harga jualanya berkisar Rp.40.000 sampai Rp.60.000 per- kilo. Usahanya yang bernama RAJ Organik ini bisa menjual 300 kg per- hari rata- rata. Melalui cacing pula ia dikenal sebagai mentor atas 1500 peternak lain tersebar di Bali dan Jawa Timur.

Setiap sabtu dia dan tim -nya akan sibuk memberikan pelatihan bagi 40- 50 orang peternak di sekoah cacing yang didirikannya. Sekolah cacing itu kira namanya. Pada Juli 2013 tepatnya dia pertama kali membuka satu kelas cacing di rumahnya. Kelas cacing yang menjadi cikal bakal sekolah cacing miliknya kini.

"Beternak cacing itu sebenarnya gampang asal kita mau telaten dan serius. Hal yang saya tekankan kepada binaan adalah agar mereka tidak semata-mata beternak cacing, lalu sudah puas dengan keberhasilan menjual cacing," katanya.

Ia menekankan filosofi cacing selain aspek budidaya. Dia menyebut cacing itu sumber kehidupan.Ternak ini berarti menjadi awal bagi usaha lain, seperti peternakan, perikanan, dan pertanian. Beternak cacing pulalah dasar bagi usaha alami ramah lingkungan. Lewat caria itulah ia memberikan stimulan tentang usaha yang mereka tengah jalankan nantinya.

Adam mengajarkan bahwa kotoran sisa ternak cacing bisa dijadikan pupuk kompos. Fungsinya adalah untuk menggenjot produksi pertanian dimana sangat baik menggantikan pupuk kimia. Cacing bisa menjadi bahan pakan sehat bagi ternak ayam atau bebek karena non- kimiawi. Dia lantas mendirikan Komunitas Pengusaha Organik Terpadu (KP2OT) Kota Malang. Fokusnya dalam menggencarkan produk hasil dari organik bukan pupuk kimiawi.

Dia memberikan kita tips bila ingin berbisnis cacing. Tispnya: membuat suatu usaha itu membutuhkan standar perawatan yang jelas, baik pakan, tempat dan juga teknologi perawatan. Yang juga harus jadi prioritas bagi kita ialah usaha yang kontinu pada jumlah produksi.

Sebagai entrepreneur, Adam masih akan terus mengembangkan bisnis cacing. Dia tengah mengembangkan konsep BIO CYCLO FARMING. Dimana usahanya ini merupakan hilir RAJ Organik. "Hulunya cukup 1 saja, hilirnya tidak membatasi," terangnya. Soal hambatan dia mengaku tak ada hambatan berarti karena budidayanya mudah. Fokusnya kini ialah bagaimana agar dari masyarakat ada kesadaran bersama.

Artikel Terbaru Kami