Rabu, 03 Desember 2014

Sejarah Kecil Coklat Monggo Thierry Detournay

 
Kecintaan akan Yogyakarta yang melahirkan pengusaha ini. Meski bukanlah orang asli Yogya, bahkan dia bukan orang Indonesia, Thierry Detournay seorang bule asal Belgia. Ceritanya sih, waktu itu, tahun 2001 -an ketika ia berkunjung ke kota Yogya ada perasaan menggelitik dirinya. Sekian tahun sudah dirinya tinggal di Indonesia ada rasa kangen akan produk coklat khas Belgia.

Ia tak bisa menemukan cita rasa coklat asli Belgia disini. Jadilah ide membuat usaha coklat sendiri bergulir.

Coklat Monggo


Ketika anda bertemu dengannya jangan kaget bahasa Indonesia -nya begitu fasih. Memang sudah bertahun- tahun Mr. Thierry tinggal disini. Dan untuk menghilangkan rasa kangen akan negara asal, ia sering membuat coklat sendiri. Dari hanya untuk dikosumsi pribadi, hingga teman- temannya menyukai coklat buatan Thierry. Mereka merasakan coklat miliknya berbeda dengan yang ada di pasaran.

Akhirnya ia bersama- sama memproduksi coklat sekala rumahan. Mulanya coklat- coklat buatannya dijual di sekitaran UGM saat hari Minggu, saat acara SunMor (Sunday Morning). Cara berjualannya unik agar bisa menarik perhatian mahasiswa disana. Thierry selalu berjualan menggunakan motor vespa warna pink yang mencolok. Dengan pembawaan yang kocak ia menyebut dirinya sendiri "bule gila" berjualan coklat sendirian.

Karena pembawaan yang kocak justru produknya semakin diliri. Banyak orang mencari- cari keberadaan si bule gila ini. Dibawah naungan CV. Anugrah Mulia semakin moncerlah bisnis coklatnya. Pembuatannya kala itu masih konvensional di sebuah rumah kecil di Jalan Dalem KG III/978, kota Gede, Yogyakarta.

Produk coklatnya sangat eco- friendly menggunakan pembungkus kertas bisa daur ulang. Soal cita rasanya, produk coklatnya merupakan perpaduan rasa timur dan barat. Semakin tumbuhanya perusahaan, label CV pun ia ganti. Ditahun 2005, ia resmi membuat perusahaan besama seorang rekan, Edward. Perusahaan yang diberi nama  PT Anugrah Mulia Indobel, dan memproduksi coklat bernama "Cocomania", dan kini berganti menjadi "Monggo".

Berjalan waktu Therry membuka toko di daerah Prawirotaman Yogyakarta, namun akhirnya tidak bertahan lama karena memang kondisi lingkungan yang tidak kondusif. Kemudian ada beberapa untuk pilihan tempat baru. Ia akhirnya memilih lokasi di Kotagede untuk mendirikan toko dan tempat produksi. Nama "Monggo" sendiri datang tiba- tiba. Kala itu Edo (direktur) dan Burhan (staf kreatif) tengah berkumpul mencari nama produk unik. Kala itu kata "monggo" tersirat diantara mereka.

"Monggo" sendiri adalah bahasa Jawa yang berarti "silahkan". Monggo biasanya diucapkan oleh orang Jawa untuk menunjukan bentuk sopan santun mempersilahkan. Nama tersebut sangat kental Jawanya, cocoklah dengan perusahaan yang berbasis di Yogya. Sejak 2010, sudah 100 karyawan dimana usahanya tak lagi cuma di Yogya, tapi juga Jakarta. Untuk pabrik sendiri Tierry masih tetap menempatkannya di daerah khusus Yogyakarta, tepatnya di Kota Gede.

Cokla Monggo punya selogan "The Finest Indonesian Chocolate" punya terkandung misi: misi spiritual, yaitu menciptakan kenikmatan dalam menikmati coklat untuk orang Indonesia. Misi kedua, misi bisnisnya adalah membuat racikan terbaik untuk menciptakan coklat terbaik. Tidak mau tanggung- tanggung perusahaan rela mendatangkan chocolatier atau ahli membuat coklat langsung dari Belgia untuk mewujudkan misi ini.

Prinsip C-U-E-G-S (Care, Unique, Educate, Genuine, dan Share) menjadi landasan usahanya.

Artikel Terbaru Kami