Senin, 01 Desember 2014

Sambal Amerika Asli Indonesia di Henny Kitchen

Kecil- Kecil Cabe Rawit



Siapa sangka pedasnya sambal Indonesia bisa tembuh ke Amerika. Didirikan oleh tiga orang Indonesia, yakni Henny P, Eunice dan Andi Utomo. Henny's Kitchen awalnya hanya usaha kuliner sambil jalan. Henny Priastuti dan suaminya Andi Hutomo memang dikenal aktif berbisnis sejak masih di Indonesia. Di Amerika, mereka mencoba peruntungan kembali. Namun berbisnis di negeri orang bukanlah seperti di negeri sendiri.

Resep sambal buatan ibunya jadi modal Henny ketika hijrah di tahun 1998. Sebelumnya pasangan suami istri ini pernah membuka usaha sewaktu tinggal di Jakarta. Kondisi lingkungan yang berbeda serta selera lidah membuat usahanya dua kali akan lebih sulit dijalani rasanya. Disisi lain, Eunice Veasey, sahabat mereka, orang Indonesia yang bersuamikan orang Amerika ikut membantu mereka.

Dia yang juga punya hobi memasak khususnya masakan Indonesia. Sejak kecil, ia selalu memasak berbagai masakan Indonesia dan membuat kue bersama ibunya. Sosoknya jadi kunci cita rasa Henny's Kitchen bisa diterima penduduk lokal. Ketiganya bersama menjadi satu kesatuan saling mengisi. Eunice bersama Henny dan suaminya kompak membuka usaha kuliner bersama.

Mereka memanfaatkan media sosial sebagai sarana promosi. Sebuah promosi sederhana yang menyasar ke beberapa komunitas lokal.

Bisnis Amerika


Ketika Henny dan Andi memutuskan pindah ke Washington DC, ada yang perlu dikorbankan. Henny rela mengorbankan usahanya di Jakarta. Kondisi tersebut tak lantas membuatnya berputus asa. Tak berhenti bercita- cita ia masih ingin memiliki usaha kuliner besar. Hanya saja, keberadaanya di negeri orang membuat hal tersebut sulit. Memaksanya berpikir dua kali sebelum membuka usaha disini.

Pasalnya lidah orang sana pastilah berbeda dengan cita rasa masakannya. Kondisi berubah ketika ia secara kontinu berhubungan dengan WNI yang sudah lama di Washington DC. Jalan silaturahmi yang kemudian membawanya kepada Eunice. Wanita asal Indonesia yang bersuamikan orang Amerika. Dia lah yang getol memperkenalkan masakan milik Henny kelingkungan sekitar.

Ide awalnya cuma membuka katering kecil- kecilan. Memperkenalkan hidangan Asia, utamanya ya masakan asal Indonesia. Melalui promosi beberapa rekan WNI, pengumuman media online dan komunitas- komunitas loka. Usahanya kemudian diberi nama Henny's Kitchen. Usaha katering itu mulai mendapatkan pelanggan.

Yang menarik pembeli datang ternyata resep sambalnya sambal khas buatan Henny. Banyak konsumen yang menginginkan sambalnya untuk disimpan di rumah untuk digunakan satu waktu. Inilah yang menjadi ide awal bagi Henny dan Eunice untuk memproduksi sambal besar- besaran. Keduany menyiapkan tujuh jenis sambal yaitu  sambal terasi, sambal ijo, sambal bajak, sambal, gado-gado, sambal rica-rica, sambal Bali dan sambal rendang. Kendala utamanya ada di stok bahan baku terbaik dari Indonesia demi originalitas rasa.

Masalah lagi karena membawa bahan baku ke Amerika bukan masalah mudah. Mengingat jarak yang akan ditempuh. Padahal dana yang mereka miliki terbatas. Ada kah jalan keluar waktu itu. Ada, ada ditangan sang suami Henny, Adi Utomo, yang mau ikut membantu mereka melalui via online. Dia menghubungi beberapa teman- teman di Indonesia yang memiliki bisnis agrobisnis. Dengan itu stok bahan baku berkualitas asli dari Indonesia akhirnya terpenuhi.

Tak berhenti disitu, Adi lalu mendaftarkan sambal kemasan itu ke atase perdagangan milik Indonesia untuk Amerika. Hasilnya sebuah apresiasi. Pihak atase pung menawarkan diri turun tangan langsung membantu usaha Henny's Kitchen. Bantua dari atase antara lain sertifikasi Halal dari Lembaga Islamic Center setempat. Henny's Kitchen juga mendapat sertifikat dari badan FDA, semacam BPOM di negara kita.

Dari modal berkisar $800, kini, usaha Henny's Kitchen membukukan omzet $12000 per- bulan. Dalam satu bulannya Henny dan Eunice memproduksi skeitar 1500 -an topless sambal aneka rasa. Padahal umur usaha sambal kemasan ini baru berjalan sekitar 8 bulan. Jika ditanya rahasia sukses mereka hanyalah mengikuti cara standarisasi produk lokal. Menciptakan produk tanpa bahan pengawet, sahat, dan enak cukuplah jadi modal bagi mereka.

Lainnya, tentu cara mereka mendekati pasar yang terbilang sangat modern dengan berbagai media sosial.

sumber: bisnismasakan.com, kiatwirausaha.com

Artikel Terbaru Kami