Senin, 15 Desember 2014

Kisah Pengusaha Sambal Rumahan Untung 3 Juta


Pengusaha sambal online


Usaha sambal mulai bergairah di Indonesia. Tidak hanya perusahaan besar, kini, usaha rumahan juga siap untuk memanjakan lidah kita. Pedasnya sambal ternyata meledak seperti bisnisnya. Berbagai jenis sambal ada di Indonesia. Dan kabar baiknya, tidak semua sambal berhasil dikemaskan. Bermula dari kegemaran keluarga akan sambal. Farah Maulida memutuskan memproduksi sambal buatannya sendiri. 

Ditemui tim Harian Yogya, di rumahnya di RT01 Dusun Banyutemumpang, Desa Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, ibu satu anak itu tengah bersantai. Sambil menunggu beberapa tetangga, dia mulai bercerita usaha yang kini dilakoninya merupakan usaha rumahan yang dibantu para tetangga sekitar rumahnya. "Biasanya kami mulai memproduksi sambal pagi atau sore hari," tutur Farah berlanjut.

Usaha sambal kemasan yang diberinya merek Sambal Biyung. Usaha rumahan yang telah dilakoninya sejak tahun 2012. Dia menceritakan: meski usahanya terbilang baru, tapi membuat sambal sudah jadi rutinitas. Dia sudah terbiasa membuat sambal di rumah, ceritanya lagi. Kenapa lantas diberi nama Sambal Biyung karena memang dibuat atas kasih ibu. Kiranya itulah jawaban Laire Siwi Mentari, anak Farah menjawab pertanyaan pewarta.

Variasi sambal ini ada tiga: sambal teri, orginal, dan peda. Ditiap varian terbagi antara merah dan hijau. Jadi anda akan disuguhi sambal teri merah atau hijau dan seterunya. Laire kemudian menyebut mereka juga sudah membuat varian dari cumi dan belut. "Setiap produksi, kami bisa menghasilkan lima kilogram sambal, baik untuk sambal merah ataupun hijau. Kami tidak membuat sambal setiap hari, tapi biasanya tiga hari sekali," terang Farah.

Farah biasanya membutuhkan lebih dari lima kilogram cabai untuk lima kilogram sambal. Dia mendapatkan pasokan cabai dan bahan- bahan lainnya dari supplier langganannya yang biasa berjualan di Pasar Niten.

Cara dan bahannya sama dengan pembuatan sambal pada umumnya. Ada bahan bawang, gula, terasi, dan minyak nabati. Sambalnya tidak menggunakan bahan pengawet. Untuk mengawetkan Farah menggunakan gula sebagai gantinya. Memang tak tahan hingga berbulan- bulan, tapi ini lebih baik dari sambal kontongan di warung- warung. Farah menambahkan sambalnya bisa tahan enam hari jika disimpan di luar kulkas dan satu bulan jika disimpan di kulkas.

Sedangkan harga cabai yang naik turun dianggap bukanlah penghalang. Jutru yang sulit adalah ketika ia harus mencari peda. "Banyak orang Jogja yang tidak tahu ikan peda, termasuk penjual ikan di pasar," kata Farah. Peda dan teri pun harus dipilih dengan cermat agar tidak menurunkan kualitas produknya, karena memang diketahui banyak penjual yang sudah mencampur ikan- ikan itu dengan formalin.

Prospek bisnis


Ia mempekerjakan empat hingga lima orang. Mereka akan bekerja sama dengan cobek masing- masing yang berdiameter 45 sentimeter. Farah memproduksi sambalnya cukup di teras rumah. Setiap lima kilogram dari sambal buatannya akan langsung habis. Semua karena para reseller yang sudah menunggu mengantri untuk mendapatkan pasokan. Satu reseller bisa memesan 50 botol dan mereka tersebar di berbagai kawasan di wilayah Indonesia.

Satu botol akan berisi 200 gram dimana setiap botolnya itu seharga 13 ribu. Seharga itu Farah sendiri sukses mengantongi Rp.4000- Rp.5000 dari tiap botolnya. Jika dihitung- hitung ia bisa mengantongi Rp.3 juta per- bulan. Produnya dipasarkan melalui sosial media Twitter. Dalam satu bulan ia bisa menjual 500 botol ungkap Laire, yang berperan sebagai admin akun Sambal Biyung. Laire, anak Farah, juga mengurusi kemasan juga pengiriman kepada para pemesan.

Pesanan tidak hanya dari Jogja, Sambal Biyung merambah hingga Jakarta, Balikpapan, Aceh. Bahkan juga dari mereka para TKW dari Hong Kong. Beberapa teman, kerabat yang tinggal di Jerman dan Kanada juga ikut memesan Sambal Biyung. Namun, ada beberapa pembeli yang merasa pedasnya dari Sambal Biyung ternyata masih dirasa kurang oleh beberapa orang. "Ada yang bilang rasanya masih kurang pedas, padahal rasanya sudah pedas banget untuk orang lain," kata Laire sambil tertawa.

Farah bercerita bahwa sebagian besar pria di daerahnya bekerja sebagai buruh tani, buruh bangunan, atau pengangkut batu, dengan upah Rp30.000-Rp40.000 sehari. Sedangkan, para istri biasanya tidak bekerja. Dengan mengajak ibu-ibu di sekitar rumahnya, Farah berharap dapat ikut membantu meningkatkan kualitas kehidupan mereka.

"Saya belum berani memproduksi lebih banyak, karena masih banyak yang harus disempurnakan. Salah satunya kemasan," tutur Farah melanjutkan. Untuk kemasan saat ini dinilainya masih belum cukup rapat, ini membuat minyak dari sambal masih sering meresap."Mudah-mudahan dalam waktu dekat masalah kemasan sudah beres, sehingga bisa lebih fokus di produksi," tutup Laire.

Artikel Terbaru Kami