Rabu, 24 Desember 2014

Pengusaha Multimedia India Pemilik Zee TV


Subhash Chandra Goyal memulai bisnis jual- beli beras di daerah Hishar, Haryana, kemudian lahir kembali sebagai media baron. Bisnisnya kini meliputi jaringan televisi satelit dan kabel, kargo, taman hiburan, lotre, serta sinema multiplek. Dia lah sang  pendiri sekaligus CEO di zeetv, bisnis televisi setelit besar di India. Dari November 2009, ia resmi mengambil alih menejeman Daily News and Analysis (DNA); resmi merambah media cetak.

Di bawah naungan Essel Group, majalah yang merupakan terbaik ke 8 berbahasa Inggris jadi milik seorang media baron. Dia yang pernah dianugrahi Emmy award di tahun 2011. Pria yang bahkan tidak memiliki gelar sarjana apapun tidak terhentikan langkahnya.

Subhash Chandar lahir dari pasangan Nandkishore Goenka dan Tara Devi Geonka, 30 November 1950, di Adampur Madi. Dia dikenal Subhash Chandra, ketika memutuskan menghilangkan nama belakangnya "Goyal". Ketika itu perubahan politik besar di India dan Pakistan. Dia merupakan anak laki- laki tertua dari 7 bersaudara. Sebagai laki-laki tertua, secara otomatis, dia harus bertanggung jawab atas keluarganya.

Sejarah Essel Group, bendera bisnisnya sudah bisa dilacak sejak akhir 90 an. Sekitar 1980, Remeshwardas Goenka yang merupakan kakek dari kakeknya mulai berbisnis. Bisnis pertama sekaligus fondasi bisnis yang dimiliki Chandra kini. Bisnisnya kala itu meliputi bisnis komoditi yaitu gabah, bisnis yang sebelumnya bernama Jagannath Rameshwardas, gabungan nama Rameshwardas dan patner bisnisnya, Jagannath.

Dia dikenal tertarik akan dunia bisnis bahkan semenjak kecil. Dia bersekolah di sekolah umum di Adampur Madi hanya sampai tingkat sekolah dasar, lalu memilih pindah mengikuti kakeknya berbisnis. Chandra kecil sesampainya di tanah sang kakek kemudian bersekolah di CAV School di Hissar, India. Jagannath Goenka, kakeknya, menjelam menjadi guru besar hidupnya tentang bisnis. Ia telah memberikan berbagai dasar- dasar bisnis.

Kebijakan sang kakek disebutnya "Jagannath Goenka University". Dari sang kakek, ia mempelajari tiga hal paling mendasar. Pertama, dia tak boleh menyimpan rasa takut, selalu bertanggung jawab, serta tidak boleh lari dari kebenaran. Dia juga tidak diperbolehkan melanggar komitmen walau itu cuma dimulut saja. Bagi sang kakek ucapan berarti janji yang harus dipenuhi meski bukan sebuah keseriusan.

Kakeknya merupakan sumber inspirasi hidup. Jagannath Goenka memiliki bisnis di sekitar rumahnya. Bisnis yang berhubungan dengan jual beli gabah dan menjualnya untuk beberapa komisi, gudang, atau pinjaman. Chandra kecil membantu bisnis dari yang termudah. Dia diharuskan mengikuti tiap petunjuk sang kakek. Setiap hari, dia harus ikut membantu mencatat dan menagih uang jual beli gabah.

Dia setelah pulang sekolah harus membantu menulis puluhan nama klien serta satu tumpuk buku keuangan. Sebuah pelajaran paling pertama yaibagaimana mencatat dan menulis nama klien. Pelajaran lain, Jagannath Goenka mengajari sang cucu untuk mampu menganalisa orang lain. Jagannath mengajarkan bagaimana mengobservasi guna mencari tau apa motif orang lain. Ia harus tau gerak- gerik mereka hingga menghasilkan suatu kesimpulan.

Jagannath selalu memerintahkan Chandra untuk menagih uang, dan bertemu lebih banyak orang tiap harinya. Ini hanya pelajaran bisnis lain, menyangkut keberanian. Dari bisnis, kakek Chandra bisa disebut sangat mengikuti tradisi orang India. Setiap kali ia berkunjung ke rumah selalu ada saja yang dilakukan kakeknya. Ia juga menjadi seseorang yang mencarikan jodoh dengan bijaknya. Ini semakin melekatkan figur sang kakek menjadi contoh dan panutan sepanjang hayat Chandra.

Ketika ia pulang, kakeknya akan menjejerkan banyak wanita cantik dan seorang calon untuk dirinya. Ketika Chandra lebih memilih wanita yang lebih cantik dari calon kakeknya, Jagannath pun langsung merespon. Ia berkata bahwa wanita cantik tak datang pun siapapun laki- laki pasti akan jatuh cinta seketika. Apa yang salah? Fisik bisa menipu tetapi Chandra harus lebih melihat lebih dari kecantikan itulah yang diajarkan pristiwa itu. Sang kakek memang begitu menyayangi cucunya satu ini, terutama tentang komitmen.

Tak salah jika kini, ia cukup menjabat tangan dan bisnis pun datang padanya. Cerita lain ketika sang kakek mengajak Chandra kecil pergi ke acara bazar. Di libur sekolah, ia akan pergi ke bazar bersama kakek untuk sekedar mencai informasi dan gosip tentang siapapun. Ini mengajarinya untuk selalu mendengar ke bawah. Bahkan samapain sekarang, Chandra selalu mencai informasi kebawah. Ia bahkan tak segan meminta saran secara ramah kepada bawahan untuk jadi lebih baik.

Bisnis bangkrut 


Subhash Chandra memiliki bekal bisnis, tetapi bermimpi menjadi ahli mesin ketika remaja. Dia pun segera mengambil kuliah jurusan mesin. Tapi, apa mau dikata, bisnis keluarga berubah menjadi krisis finansial. Hal itu membawanya berpikir kembali mengenai kuliah dan cita- citanya. Bisnis keluarga mengalami beberapa kali jatuh bangun sepanjang tahun 1967. Karena salah menejemen, perusahaan keluarganya bangkrut total dan berhenti berbisnis kapas.

The Adarsh Cotton Gining dan Oil Industry baru saja memulai jalanya jatuh ditahun sama dengan beridirinya. Gagalannya bisnis baru ternyata berefek domino terhadap bisnis utama. Sebuah kecelakaan juga menambah panjang apa yang harus direlakan. Mereka kehilangan dua perusahaan jutaan membuat keluarga menderita kerugian besar tanpa uang kembali. Kakek Chandra, Goenka dan partnernya,  Inder Prashad memutuskan berhenti berbisnis bersama membagi sisa- sisa aset.

Meski, perusahaan memiliki aset 600.000 rupe, mereka memilih membagi adil ditambah 50.000 sebagai pertambahan nilai. Bukan yang terburuk, mereka masih memiliki hutang yang belum bisa dibayar. Bahkan penjualan aset tak memberikan solusi apapun. Chandra memutuskan bergabung kembali berbisnis. Dia tidak perlu mengeluarkan uang untuk kuliah. Dia tidak pernah tunduk pada sebuah nasib buruk, selalu melihat kedepan, dan merubah kemiskinan jadi paluang.

Keluarga ini tak hanya bangkrut tetapi menyisakan hutang dan hanya Rs 6 lakh. Dimana ketika bisnis kian memburuk Chandra yakin berkata kepada sang ayah bahwa dia bisa melakukan sesuatu. Tepat di sekitar tahun 1979, dia mengembalikan kejayaan perusahaan keluarga itu. Perusahaan yang merupakan milik sang ayah, Jagannath Goenka, bernama Messrs Ramgopal Indraprasad kini ditangannya. Dia kemudian merubah nama bisnisnya menjadi Essel Group. Secara tertulis ia lah pendiri Essel Group sekaligus CEO perusahaan baru yang bangkit dari kubur.

Menjalankan bisnis dari perusahaan yang bangkrut itu bukanlah perkara mudah. Remaja 17 tahun, seorang Chandra, harus berjualan dari nol setelah keluar dari kuliah. Dia terdesak mencari jalan membangun kembali bisnis tanpa investasi apapun. Dia kemudian menemukan Food Corporation of India (FCI), bekerja sebagai menejer di 1968-1969. Dari sini pula, masa balik baginya, dengan masuk ke korporasi besar mengumpulkan modal sedikit demi seditki.

Dia mengumpulkan daya upaya mengembalikan bisnis keluarga di bawah naungan Essel Group. Para tentara tertarik untuk membeli hasil produksi berupa buah, padi- padian, dan kacang- kacangan. Tapi FCI tak memenuhi standar yang diminta.Chandra melihat peluang di sana, lalu menyarankan ide kepada pihak FCI. Keluarganya bisa membantu pihak FCI memoles kacang- kacangan dan membersihkan gandum. Pihak FCI setuju akan ide remaja satu ini.

Ia cukup memastikan bisnis barunya berhasil bahkan tanpa modal berarti, tapi menghasilkan nilai investasi. Dia pada tahun 1971- 72 menjadi tokoh revolusi agribisnis di penjuru Delhi. Dia bahkan mengerjakan bisnis lain seperti peleburan gelas, maski lalu memilih keluar. Di tahun 1976, pengusaha 26 tahun ini telah belajar di jalanan bukan dari sekolah. Dan, ia menemukan titik tersukses ketika revolusi hijau muncul, ditahun itu padi tumbuh subur.

FCI kebingungan menangani begitu banyak gabah dengan tempat terbatas. Maka Chandra lah satu- satunya penyelamat membawa FCI dari sebuah lubang jarum. FCI yang panik mencari ruang untuk menyimpan 14 juta ton biji-bijian makanan. Itu Mr Chandra yang datang ke bantuan dari FCI. Solusi darinya yaitu untuk menyimpan biji- bijian itu di tempat terbuka di bawah lembaran plastik. Mr Chandra kemudian memasuki bisnis plastik, membeli lembaran plastik dan kemudian memotong dan melas mereka menjadi tenda.

Dunia entertainment


Di tahun 1980- 84, ia membeli tanah seluas 735 acre di Gorai, ide bisnisnya agak gila yaitu sebuah taman bermain. Dia sangat terinspirasi atas kunjungannya di sebuah taman bermain dulu. Sayang bisnis ini terlalu aneh untuk India, teman- temanya menyabut bahwa orang India suka kemudahan. Mereka lebih menikmati apa yang didepan mereka sebagai hiburan. Di sisi lain, India digegerkan oleh ledakan bom, membuatnya berpikir sebuah cara agar setiap penjuru India ikut melihat videonya.

Mereka, orang- orang dipinggiran kota akan memilih berebut menonton. Dia juga mulai mengitung berapa besar pendapatan atas iklan dalam video. Di 1990, melalui kunjungan santai ke Doordarshan di Mumbai, membuatnya berpikir tentang televisi satelit. Namun disisi lain, Chandra sedang menembak bisnis lain yaitu bisnis telephon seluler. Dia akhirnya berpikir bisnis televisi bukan telephon seluler.

Sayang, bisnis televisi harus digagalkan oleh regulasi bahwa siaran televisi adalah sektor publik yang sedang dikekang. Akhirnya Chandra menangguhkan ide bisnis televisi ini. Namun, pikiran akan bisnis televisi masih saja mengganggu tenangnya. Hingga ketika ia melihat sebuah acara di satu stasiun asing, CNN. Dia berpikir kembali, kenapa kita tidak bisa memiliki program siaran televisi sendiri. Ia harus menemukan jalan keluar lalu menemukan perusahaan bernama Asiasat.

Chandra mulai mengejar sang eksekutif Asiasat, meski sampai ke ujung dunia sekalipun bila perlu; akhirnya menemukan yang sedang berlibur di Kanada. Dia mengetok pintu, namun hanya jawaban dingin sebuah tanda penolakan. Dia tak berputus asa jadilah sebuah pertemuan antara dirinya dan Richard Lin, putra dari Li Ka Shing sang pemilik STAR.

Sebuah pertemuan yang tidak menyenangkan karena Asiasat hanya cabang bisnis utama. STAR atau Satellite Television of Asian Region adalah otak dibalik siaran televisi satelit di Hong Kong, China. Barulah setelah beberapa lama dia baru bisa bertemu sang pemilik rumah, Li Ka Shing. Ketika berbicara tentang India, Chandra dan timnya terkejut bukan main atas sikap tuan Li. Ide besarnya untuk membangun siaran televisi di India dianggap angin lalu. "India!" potong tuan Li, "tidak ada uang di sana di India. Saya tidak ada minat untuk India," terangnya.

Tak putus asa ia tetap pada tawarannya hingga kata sepakat terucap juga. Li bertanya kepada sang miliarder India, berapa uang yang bisa ia bayar. "Saya tidak mau kerja sama perusahaan dengan mu, jadi kamu bisa membawa transponder untuk dirimu sendiri," catat Chandra, meniru Li Ka Shing. Ia kemudian menjelaskan dalam pertemuan sebelumnya, harga yang ditawarkan sekitar 5 juta dollar. Tapi, tuan Li Ka Shing sekali lagi menolak, "Tidak cukup," sanggahnya. Jadilah petemuan itu tidak menemukan kata sepakat dan akhirnya berakhir.

Hingga akhirnya sebuah perjanjian peminjaman ditanda tangani. Ia hanya akan menyewa sebuah transponder bukan membelinya pada 22 Mei 1992. Chandra secara resmi menyewa benda itu senilai 5 juta dollar, itupun setelah tuan Li mengadakan survei ke India sendiri dulu. Untuk modal uang tersebut, guna memenuhi ambisisnya, Chandra harus mengikut sertakan dua sahabatnya yang bukan orang India; Sir James Goldsmith dan Kerry Pecker. Sisanya berupa uang modal dari beberapa perusahaan investasi.

"Perusahaan media yang ada merasa bahwa televisi satelit tidak akan sukses di negara. Sejak awal saya tidak tau apapun, jadi saya tidak takut," terang Chandra.

Betul saja ia berhasil merealisasikan bisnis media miliknya sendiri. Tapi sebelum itu benar terjadi harus datang beberapa cobaan terutama dari pemerintah. Kementerian informasi di India menyebut televisi satelit sebagau budaya konsumer. Bagaimana tidak, bisnis televisi satelit, ialah bisnis berlangganan. Ini berarti masyarakat harus membayar untuk melihat. Di tambah lagi informasi yang ada akan merusak negera satu per- satu. Ini benar- benar pemikiran tempo dulu yang ada di tahun 90 an

Chandra tetap teguh. Dia bahkan memilik acara- acara sendiri, ketika stasiun CNN dan BBC bisa ditonton di India. Pada 1992, Chandra telah memasuki bisnis software hiburan melalui perusahaan bernama Empire Holding Ltc. Lalu diganti Zee Telefilms Ltd yang fokus membuat acara Zee TV melalui Hongkong. Dari negara lain, sinyal televisi kemudian diarahkan langsung ke India melalui transponder STAR. Inilah bagaimana Zee lahir, tepatnya Zee TV dilahirkan pada 2 Oktober 1992.

Artikel Terbaru Kami