Minggu, 28 Desember 2014

Kisah Jatuh Bangun Pengusaha Kue Kering Ina Wiyandini


Biografi pemilik Ina Cookies


Pengusaha wanita asal Bojong Koneng Atas, Kabupaten Bandung, Jawa Barat ini, memang dikenal akan sifatnya yang ramah. Senang berbagi kisah suksesnya kepada orang banyak. Ditemui di rumahnya, Hj. Rr. Ina Wiyandini, sangat bersemangat ketika ditemui rombongan asal Malaysia di tempat usahanya. Segala pengalaman dia beberkan tanpa ditutupi.

Mulai begaimana wanita ini memulai bisnis dari angka nol. Sempai pada kiat menghadapi persoalan bisnis. Dia adalah pemilik kue kering Ina Cookies. Sebuah perusahaan kue keringa terkenal. Pengusaha wanita kelahiran Jakarta, 24 Juli 1963, sudahlah mendapatkan banyak penghargaan. Pada tahun 1992, Ina sudahlah memulai kerajaan bisnisnya dengan Ina Cookies. Pengalaman jatuh bangun bisnis telah dilaluinya, dari usaha berjualan jahe gajah, usaha perkebunan vanili, hingga jual beli rumah.

Namun, pada bisnis kulinerlah, usahanya kini berkembang dan bercabang tidak hanya di bisnis kue kering. Ia memang memiliki banyak energi tak terbatas untuk berbisnis. Layaknya pengusaha lain, ia selalu berinovasi dengan bisnis miliknya. Ina mampu menciptakan produk dari tahu, tempe, rosella, green tea, jamur, tepung ubi, singkong, tapung ganyong, dan tepung pisang. Kesemuanya dapat diolahnya jadi aneka kue kering. Menakjubkan.

Ina mampu mengkreasikan olahan murah meriah jadi kaya rasa. Semuanya Ina lakukan guna membantu para petani. Usahanya berbasis bahan pertanian lokal. Dia menyebut bahwasanya bangsa Indonesia itu punya masalah. Masalahnya ialah pada bahan pangan, dimana para petani selalu mengeluh. Suatu hari Ina ketika jadi pembicara di sebuah seminar, ada seorang ibu petani datang. Ia lantas mengeluh kepada Ina tentang harga tepung ubi singkong. Ia lantas membantunya membuat produk kue enak.

Eh, ternyata kue itu laris- manis hingga banyak ibu tani berdatangan.

Dari pristiwa diatas produk kue Ina menjadi semacam problem solving. Tak hanya mengambil untung, Ina tetap foku bagaimana agar produk lokal berjaya. Khususnya apa yang dihasilkan para petani. Oleh karena Kepedulian itulah ia mendapatkan penghargaan dari Menteri Perdagangan RI saat itu. Ibu Menteri Mari Elka Pangestu memberinya penghargaan Pangan Award 2010. Ina dianggap mengembalikan kejayaan para petani melalui aneka kue kering buatannya.

Tangan Ina yang mampu mengolah anek kue kering. Dari usahany tersebut mampu memberikan optimis bagi para petani. Produk olahan yang berkualitas miliknya menghasilkan nilai ekonomis tinggi. Selain itu ia juga tercatat pernah mendapatkan penghargaan Best Women Entrepreneur 2008 dari Ikatan Pembauran dan Pengusaha Indonesia (IPPI) yang diberikan langsung oleh istri Wakil Presiden Indonesia saat itu, Hj. Mufidah Jusuf Kalla, dihadapan ribuan pengusaha lain.

Penghargaan diatas ditujukan bagi pengusaha yang sudah berbisnis lebih dari 10 tahun. Usahanya itu haruslah dimulai dari nol, memiliki lebih dari 100 karyawan, kreatif dan berinovasi tinggi, memiliki kehidupan berumah tangga dan bermasyarakat baik. Serta harulah sering menjadi pembicara di berbagai seminar. Itu semuanya ada pada sosok Ina Wiyandini. "Wah saya waktu itu tidak percaya. Perasaan saya kan biasa-biasa saja," Ina benar- benar tak percaya.

Penghargaan lainnya pun menyusul pengusaha wanita ini. Seperti salah satunya penghargaan dari MarkPluc. Inc, Herman Kartajaya, dengan Marketers Women 2010. Tiga penghargaan itu pun ternyata masih tidaklah cukup. Ada penghargaan lain seperti penghargaan Pretty Women dari ASTRA Internasional, Dewi Sartika Muda 2009, Pengusaha Kreatif IWAPI 2009, Perempuan Pengusaha Berprestasi IWAPI 2009, IWAPI Wanita Pemgusaha Kreatif 2010 dan lain- lain.

Dia pernah bangkrut saat mengelola perkebunan jahe gajah. Ina juga pernah bangkrut usaha manisan jahe yang sempat diekspor hingga Jepang. Pengusaha wanita ini menyebut usaha kue kering bukanlah jadi cita- citanya. Bahkan menjadi pengusaha bukanlah cita- citanya, apapun bisnisnya. Dia memilih menjadi dokter sebagaimana ayahnya sebagai cita- citanya. Tapi, ternyata takdir berkata lain, dia memilih jadi pegawai lalu menjadi pengusaha.

Pengusaha pantang menyerah


Lulus dari Jurusan Bahasa Jepang di Akademi Bahasa Asing, Ina muda diterima menjadi sekertaris bagian penjualan Astra di Bandung. Disinilah mungkin pemahaman akan marketing itu tumbuh. Bertahan cuma dua tahun, Ina meninggalkan Astra untuk menikah. Dia menikah dengan Rakhmat Basuki, pria yang bekerja di Departemen Pekerjaan Umum dan ditugaskan ke Aceh Tenggara.

Suatu ketika, di tahun 1989, suaminya pensiun dini dari Dinas PU dan memboyongnya ke Cirebon. Mereka lalu bersama membuka bisnis perkebunan jahe gajah.Idenya datang dari kakak ipar Ina sendiri. Awalnya, ia sukses ekspor hingga Jepang, dan memiliki 500 orang pegawai. Sayangnya, batu sandungan besar menghadang langkah bisnis jahenya. Yaitu ketika adanya pristiwa panen raya di Thailand dimana harga jahenya jatuh murah. Putri dari pasangan Wiyono Kartodirekso (almarhum) dan Toeti Ferliani akhirnya bangkrut.

Seperti sudah diduga, pembeli asal Jepang itu lebih memilih impor jahe dari Negeri Gajah Putih tersebut. Padahal, ia lantas menjelaskan lagi, perkebunannya sudah menanamkan modal 14 hektar kebun jahe di kawasan Plumbon. Dia memang belum lama berbisnis ekspor. Semua modal telah dipertaruhkan di bisnis perkebunan jahe, yang kemudian tak laku. Ironisnya disaat yang sama Ina harus melahirkan anak kedua. Bahkan untuk persalinan saja tidak ada uang lagi.

Pertolongan Tuhan datang ketika suaminya diterima kerja di IPTN. Sementara itu Ina belajar membuat lima kue kering yang laku di pasaran. Yaitu kue putri salju, nastar, sagu, cokelat mede, dan corn flake. Sembari mempelajarinya, ia mencoba memasarkan kuenya dari pintu ke pintu. Dia mulai menjualnya ke para tetangga, teman arisan dan pengajian. Waktu itu ia masih menjualkan kue- kue milik kakaknya karena dia belum bisa membuat kue sendiri.

Kue buatan kakaknya yang seharga Rp.25.000 dijualnya Rp.35.000/toples. Hasilnya lumayan dimana setiap hari setidaknya laku enam toples. Kala itu Ina belum membuat kue sendiri. Meski sering mendapat cemooh seorang eksportir jahe sekarang berjualan kue kering, Ina tetap berlalu. Baginya, usaha dari keringatnya sendiri itu sangatlah menyenangkan meski untungnya kecil. Dia pun disarankan sang kakak ipar mulai memproduksi kue sendiri.

Semuanya agar margin untungnya lebih besar. Benar saja, dengan menjual produk sendiri, hasil keuntungan Ina bisa separuh harga jual.

Bisnis rumahan


Ina yang menuruti saran kakanya mulai membuat aneka kue kering. Dimulai dari membuat enam toples kue per- harinya. Respon pasar ternyata baik, Ina bahkan bisa merekrut lima orang karyawan. Perkembangan usahanya terus lah meningkat. Hingga, Ina memiliki total 50 orang pegawai dimana pasarnya kelas menengah atas. Bisnis kue kering yang sudah dimulai sejak 1992 mampu menjual kue biasa seharga Rp.15.000 jadi Rp.25.000.

Semua berkat branding dan kualitas kue kering yang terjaga. Sistem pembelian menggunakan sistem beli- putus. Maksudnya agar pembeli setelah membeli selesai tak ada kue kembali. Ia beralasan karena untungnya pun sedikit. Tapi dari sini, karena kue buatannya enak, kue itu jutru diburu ulang untuk dinikmati. Bahkan mulai menyebar dari mulut ke mulut. Kuenya terjuang hingga ke luar Cirebon, seperti Tasikmalaya.

Wanita yang sudah hobi memasak sejak SD ini semakin dicari oleh para penikmat kue. Semuanya cuma melalui promosi dari mulut ke mulut. Setelah pindah ke Bandung, Ina semakin bertekat agar bisnisnya semakin besar. Tahun 1994, bisnis kuenya dilanjutkan dengan memboyong tiga karyawan inti dari Cirebon. Sang suami lantas memilih keluar dari IPTN dimana pesangonnya digunakan untuk modal Ina. Semuanya sudah dipikirkan matang- matang oleh anak kedua dari lima bersaudara ini.

Hasilnya, ternyata diluar dugaan, bisnis rumahannya berkembang sangat pesat bahkan menambah 100 orang karyawan. Tahun 1994, total karyawannya mencapai 500 orang dimana 150 karyawan inti. Maksudnya dari 150 orang, sisanya diperuntukan jika ada order yang tak bisa ditangani sendiri. Kebanyakan karyawan didatangkan dari kampunya dimana sisanya dari warga sekitar. Pesanan kue terbanyak jika menyambut momen tertentu.

Tapi jangan salah sangka, dihari biasa juga banyak permintaan. Khusus dihari Lebaran, Natal, Tahun Baru, Imlek dan Valentine’s Day, produksi kue keringnya bisa mencapai 21 ribu lusin per hari. Padahal menurutnya di hari biasa cuma kurang lebih lima lusin (sekitar 20 resep). Sebagai wujud syukurnya maka Ina pun memberangkatkan umroh karyawan terbaiknya. Ada empat faktor yang menjadikan kue keringnya laku keras disegala musim.

Ina menjelaskan empat faktor itu: pertama, kehalalan produknya. Kedua, adanya kualitas bahan dengan standarisasi. Ketiga, bagaimana penyimpanan. Kue dipastikan tetap terjaga kualitasnya saat penyimpanan. Keempat, harus jeli pada apa yang ada di sekitar kita. Nah, yang keempat inilah yang jadi faktor utama. Ina Cookies selalu punya inovasi dalam resep kuenya. Dia bercerita jika di satu daerah ada produk terkenal bisa dibuatkan kue keringnya.

Misalnya, ada daerah yang dikenal dengan  peuyeum (tape singkong), akhirnya dia pun membuat kue dari peuyeum. Dengan cara begini, Ina Cookies bisa mengumpulkan 114 macam kue. Ini sesuai dengan slogan perusahaan kecilnya "The Most Creative Cookies". Bagiamana bisa sebanyak itu resep Ina Cookies. Kami menyadari ialah sang pemilik selalu belajar dan berkreasi. Ia pernah bercerita mendapatkan kesempatan menimba ilmu gratis ke berbagai negara. Pengalaman itu digunakannya untuk belajar bikin kue.

Sebuah brand keju langganan lah yang mendorongnya. Dia bisa studi gratis dari Taiwan, Filipina, Cina, Singapura, Malaysia dan Jepang. Dalam segi kemasan, Ina Cookies juga mengandalkan keunika. Selain rasa sudah ditanggung sedap, bisnis rumahan ini menggunakan aneka kemasan tidak umum. Ada kemasan daur ulang yang terbuat dari kemasan daur ulang mie instan, bungkus kopi dirajut, atau plastik bekas coklat. Sejak 2007, limbah plastik dari Ina Cookies dimanfaatkan sebagai aneka kerjinan tangan.

Selain dijadikan wadah roti, ada yang dijadikan tas cantik, tempat pensil, sajadah, celemek dan sandal. Bahkan ada produk aneka topi unik dari jerami, yang kemudian mencuri perhatian pembeli asal Belanda dan Jerman. Dari sekedar cuma daur ulang, Ina Cookies bisa membuat bisnis lain. Banyak agen berminat memasarkan Ina Cookies. Alasanya karena diatas: produk berkualitas dari bahan- bahan unggulan, aneka kue unik, dan kemampuan Ina Cookies membuat aneka kerajinan.

Total sudah ada ratusan agen dimana jumlahnya berfariasi tiap kota. Di Jakarta sendiri, ada 150 agen dimana menjadikan Ina Cookies pamain besar bisnis kue kering Jakarta. Tamy Bambang, salah satu agen dari Bintaro, mengaku berhasil menjual sekitar 5.000 lusin saat Lebaran. Menurutnya kue yang laris kue biasa seperti putri salju, nastar, sagu keju serta cheese kress.

"Tahun pertama saya jadi agen di Kemang Pratama Bekasi menjual 500 lusin dan tahun kedua saat pindah ke Bintaro bisa memasarkan 1.500 lusin," ucap Tamy yang menjadi agen sejak 1998.

Ribuan agen


Mula- mula Ina menjelaskan agennya di Bandung ada 20 titik. Suatu hari di tahun 2009, ketika ia sedang menjadi pembicara tentang kisah sukses Ina Cookies dihadapan 1.000 ibu- ibu pengajian. Tak disangka dari sana, para ibu- ibu meminta menjadi agen kesuksesan Ina Cookies. Semua dilakukannya tanpa memaksa atau tanpa iming- iming untung.

Untuk agen, Ina memilih fleksibel, terlihat dari ada dua cara pembayaran yaitu beli- putus atau beli dapat barang, down payment untuk pembelian besar, dimana bayar 50% dulu. Walaupun sukses ternyata bisnis Ina Cookies juga punya masalah loh. Diawal sudah ada kendala modal awal. Seperti dikisahkan diatas Ina sampai menggunakan uang suaminya. Itupun masih kurang, dimana butuh modal hingga 200 juta untuk pengembangan.

Tepatnya itu di tahun 1995, dimana Ina Cookies mendapatkan banyak order hingga butuh ratusan juta. Alhasil, ia meminta pinjaman ke bank, dimana cuma 75 juta disanggupi. Sisanya, ya, ia harus cari dari sanak famili. Semua karena bank belum percaya. Pas Bank mulai percaya akan bisnisnya, malah giliran masalah dari pemasok bahan baku kontinu. Umpamanya ada permintaan kue banyak, para petani justru tak menyanggupi untuk memasok. Tapi semuanya itu dilalui dengan penuh usaha tanpa kenal menyerah.

Di Kota Kembang Bandung, tercatat lokasi agennya tersebar di gerai D’Risole, Bandung Supermall, Branded Factory Outlet, Kayoe Manis, Rumah Brownies Kukus, Kedaung Showroom, Maskumambang, Citarum 31 serta Rumah Baju Anak. Sukses berbisnis kue, kini, Ina Wiyandini juga merambah usaha lain yang masih dibidang kuliner. Salah satu usaha lainnya yaitu Cafe De Tuik, berlokasi di kampung Haur Manggung, dimana jaraknya tidak jauh dari Ina Cookies.

Kafe yang baru dirikan tahun 2004, dimana merupakan restoran keluarga khas Sunda. Selain itu, disana, juga ada berbagai sarana rekreasi seperti camping ground dan super kids camp. Tak berhenti di tahun 2007, ada bisnis daur ulang limbah plastik dan Ran Toy’s dari limbah kayu. Untuk usaha daur ulang ini, bisnis Ina menghasilkan aneka barang seperti tas, dompet, tempat HP, baju boneka, tempat pensil, sajadah, celemek, sandal dan aneka kemasan kue.

Sedangkan bisnis Ran Toy’s akan menghasilkan beragam kerajinan tangan seperti aneka mobil- mobilan, motor, perahu, dan lain-lain yang bisa dicopot dan dibentuk ulang. Setahun kemudain Ina masuk ke bisnis kue pastry dengan nama Inara Pastry and Bakery. Bisnisnya kali ini fokus pada snack box baik untuk pernikahan, seminar dan lain- lain. Ada pula pusat pelatihan motivasi dinamai Merhid (Menggapai Ridho Ilahi), bisnis bandeng keju, dan kursus menghias kue.

Belum lama ini, ia telah membuka kafe kue yang diberi nama Mr. Komot kafe coklat dan keju.

"Kita harus menjadi manusia yang bisa berbagi kepada lingkungan sekitar sebelum kepada yang jauh. Percuma kita maju tapi lingkungan kita masih terpuruk," jelasnya.

Untuk regenerasi bisnis nampaknya tak terlalu dipikirkan Ina. Ketiga anaknya sudah memiliki kecendrungan membantu bisnis keluarga ini. Putra sulungnya, Afiandini Nur Sadrina, telah mulai membantu mengurus bisnis kue. Afiandini ikut aktif membantu membuat resep- resep baru. Anak keduanya, Voula Nur Rakhmaniar, baru saja tamat sekolah dan ikut mengelola kafe miliknya. Sedangkan anak ketiga, Fakhri Saefullah Nur Rahman, masihlah bersekolah.

Artikel Terbaru Kami