Rabu, 24 Desember 2014

Berhenti Bermimpi Jadi Miliarder Social Entrepreneurship

Profil Pengusaha Irvan Kolonas



Pernah terpikir untuk menjadi miliarder Indonesia. Semasa SMA, Irvan Kolonas punya hasrat untuk menjadi salah pengusaha terkaya di Indonesia. Masuk sepuluh besar orang terkaya Indonesia, hingga semuanya itu berubah. Ia menemukan sesuatu: jiwa pengusahanya menemukan kenyataan. Hasratnya membantu orang lain lebih besar dari keinginannya untuk sekedar jadi orang kaya.

Ketika itu ia membaca buku Banker to the Poor karya Muhammad Yunus. Sosok bankir asal Bangladesh ini benar- benar menggugahnya. Irvan pun memilih mendalami micro- finance. Idenya bagaimana agar dia ikut berkontribusi untuk masyarakat. Bagaimana caranya mendapatkan profit sambil meningkatkan mutu hidup dari masyarakat Indonesia. Buku penulis Nobel Peace Prize pada 2006 ini begitu berkesan dalam hatinya.

Pria kelahiran Singapura, 6 Februari 1998 ini, mengurungkan cita- citanya jadi miliarder. Berbalik arah, ia memilih mengabdikan dirinya untuk orang lain. Dia sangat ingin mewujudkan kontribusi untuk para petani. Anda perlu tau dia bukanlah sosok pemuda biasa.

Bisnis petani mikro



Ia pernah berkuliah di University of South California, AS, mengambil jurusan sulit Political Science and Economic. Selepas lulus Irvan kembali ke Indonesia dengan gambaran tentang micro -finance. Dia kemudian tergabung dalam Innovative Dynamic Education and Action for Sustainability (IDEAS) Indonesia. Programnya cukup berat yaitu membentuk transformasi individu, keluarga, organisasi, dan negara. Irvan lalu berdiskusi dengan ayahnya, mencari siapa yang dituju.

Hasilnya ia menemukan perlunya gerakan dibidang satu ini yaitu agrobisnis. Dengan caranya sendiri dirinya ingin mencoba untuk membantu petani- petani kecil di desa. Irvan mendapatkan itu dari sang ayah. Lantas ia memilih petani jagung di Lampung. Alasannya karena relatif dekat dengan Jakarta. Dia mulai merencanakan model spesifik bagaimana caranya. Sulung dari tiga bersaudara tersebut menggunakan model bernama Human Centered Design (HCD). Dia tak segan terjun langsung dengan petani.

Melakukan wawancara, sehingga mengetahui kesulitan- kesulitan petani, Irvan pun tak segan tidur beralas tikar di lantai. Semua fasilitas di Jakarta ditinggalkan untuk menggapai citanya.

"Jujur saja, awalnya berat. Tapi, saya bertekad melebur dengan kehidupan petani. Kami menyebutnya soak in atau deep dive," jelas pengusaha yang masih lajang tersebut.

Melalui cara itulah ia mendapatkan penilaian yang dalam. Mendapatkan prespektif tentang produksi petani. Ia juga mengetahui permasalahan dalam keluarga petani pada umumnya. Misalnya kesulitan untuk mereka menyekolahkan anak- anaknya. Serta minimnya pengetahuan bagaimana cara menabung. Irvan bersama dua orang teman akhirnya mengkonsep profiling petani di Lampung dengan segala masalah yang ada.

Pada Agustus 2013, Irvan cs telah bergerak mendirikan perusahaan sosial. Berbendera Vasham mencoba untuk mengaplikasikan keuangan micro bernama Konco. Memberikan pinjaman ringan dalam bentuk serana produksi tani, pelatihan dan pengawasan, bahkan bagaimana mendapat akses langsung ke pasar. Para petani itu tak perlu menjual melalui tengkulak. Irvan pun mengajarkan konsep asuransi dan kegunaanya. Yang pasti mereka tak diberi bunga, pinjaman ringan dijangkau.

Irvan menempatkan perusahaan miliknya sejajar. Pilot project dengan 80 orang petani di lahan yang luasnya 70 hektar. Pada musim pertama, jelas Ivan, tentulah banyak komplain para petani. Banyak kendala dihadapi namun tetap menampung saran- kritik mereka. Kuncinya mengajak para petani menjadi mitra berdiskusi dan bekerja. Untuk pendapatan jika kamu bertanya mereka menggunakan sistem bagi hasil. Jika petani taklah untung, maka Vasham juga tak untung.

Karena menjual ke tengkulak berarti bebas resiko, Vasham harus menanggungnya. Tanpa tengkulak dia dan teman- temannya harus memastikan pengangkutan. Melalui tengkulak para petani dibayar di bawah harga pasaran. Melalui Vasham tujuannya mengarahkan agar tak ada lagi tengkulak. Hasilnya pun jadi lebih besar dari sebelumnya. Sebagai petani mitra, mereka juga mendapatkan penyluhan bahkan pasca panen. Dalam keseharian ada petugas dari Vasham yang stand by di lapangan untuk konsultasi atau bantuan langsung.

Untuk sesi pelatihan juga ada sesi bincang santai mengenai permasalahan. Bersama mencoba mencari solusi. Dan akhirnya, Vasham telah memasuki masa panen pertama di bulan Januari- Februari 2014. Lalu disusul oleh panen kedua pada Juli 2014. Pada musim kedua memang diakui Irvan hasilnya menurun. Pada musim kedua ini ada kendala cuaca, yaitu hujang yang jarang turun. Yang jadi pembeda dengan usaha mikro lainnya ditambahkan Irvan bahwa perusahaanya selalu meningkatkan sistem. Tujuannya adalah produktifitas.

Bersama pengusaha sosial lain dirinya tak enggan saling membantu satu sama lain. Salah satunya adalah program 8Villages, yang berupa layanan sms platform. Melalui sistem pesan singkat petani bisa mendapatkan informasi. Sebagai mitra petani selalui dilibatkan dalam berbagai urusan. Tugiman, salah satu petani binaan, menyebut bahwa usahanya telah meningkat 30%- 40%. Disisi lain pertani asal Kecamatan Metro Kibang, Lampung Timur ini, menyebut harga jualnya juga tinggi.

Bagi Irvan terjuannya ke dunia agrobisnis tanpa bekal keilmuan disini. Ia hanya harus belajar lebih dalam lagi dengan berbagai cara. Setelah Lampung, Irvan berniat masuk ke tanah Jawa. Saat ini dirinya sedang sibuk melakukan riset dengan tanaman lain, yaitu singkong. Irvan mengaku akan konsisten. Menjalankan sosial entrepreneur di mana 3-4 tahun usahanya nanti diharapkan tumbuh. Pengusaha sosial memang hasilnya berupa pengaruh bagi kehidupan orang lain.

Hasilnya akan sangat berasa bagi kamu yang ingin membantu bukan tentang bisnis semata.

Artikel Terbaru Kami