Senin, 22 Desember 2014

Tas Kulit Ular Eksotis Hasilkan 4,5 Juta


Pengusaha kulit ular Anto Suroto


Industri rumahan ini mungkin tak terbayang dalam benak kamu sebelumnya. Sukses Anto Suroto itu semua berkat usaha kulit Lebih tepatnya tidak hanya kulit ular sih. Tapi, ia menyamak berbagai kulit reptil untuk dijadikan berbagai produk. Produk yang dihasilkan bermacam. Dari produk tas, pakian, aksesoris, dan juga berbagai produk lain. Anto tidak hanya sukses di pasar lokal. Produk kulitnya telah meraja lela ke berbagai negara.

Omzetnya bisa mencapai 20 ribu sampai 30 ribu dollar per- bulan. Kendati begitu karena berbahan eklusif maka produksinya tak banyak. Meski begitu karena itulah produknya diburu. Tengok saja sentra kerajinan miliknya yang tak pernah sepi. Pusat kerajinan yang berpusat di kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Di rumah tiga lantai itulah workshop sekaligus gerai miliknya didirikan.


Hasilnya tak hanya produk untuk kaum pria tapi juga produk wanita. Ada tas mewah aneka kulit buatannya yang membuat kamu berdecak kagum. Melalui brand Scano Exotica Indonesia, Anto menyebut produknya terutama tas, bukanlah cuma tentang mahal atau bagus saja. Tapi ini tentang daya tarik untuk dilirik orang, mampu mengangkat percaya diri, bahkan yang pendiam bisa jadi cerewet imbuhnya.

Dalam membuat aneka produk kulit, Anto mengaku condong ke kulit phyton. Untuk pasar Asia, Eropa, dan Amerika sendiri, keunikan warna phyton amat disenangi. Usaha yang dirintis tahun 1990 -an tidaklah mulus. Ia sudah mengalami jatuh bangun. Alhasil kemampuannya dalam membedah kualitas kulit tak diragukan lagi. Kegigihan dan konsistensi menjadi kekuatannya. Melalui berbagai pameran baik dalam maupun luar negeri ia ikuti, membuat produknya semakin terkenal.

Meski membidik pasar kulit phyton. Ia tak lantas berhenti berkreasi berinovasi. Kerajinan kulit biawak juga keahlian pria yang selalu tampil necis ini. "Selain eksotis dan lucu, reptil juga memiliki daya jual yang tinggi. Itulah yang menjadi alasan saya mengapa memilih reptil dalam sentra kerajinan ini," ujar pria lulusan S3 University of Berkley, Amerika Serikat ini.

Anto yang berasal dari Medan mulai berbisnis kulit sejak berkenalan dan menjadi pembantu pengusaha kulit reptil asal Jepang. Ternyata kulit reptil bisa diolah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi. Usaha awalnya itu bermodal lumayan besar dengan pasar luas. Tahun 1990 -an, bermodal fantastis yaitu 500 juta dari kantong pribadi Anto. Dibantu 20 karyawan, ia mulai mengerjakan produk bermerek Tassku dan Scano ini. Berkat mengikuti banyak pameran, nama produknya pun melejit.

Ia mampu berkembang bahkan ke pasar ekspor. Karena menjanjikan maka Badan Pengembangan Ekspor Nasional pun turun tangan memberikan dukungan. Dibawah naungan Menteri Perdagangan inilah ia belajar berbagai hal tentang ekspor- impor lebih lanjut. Anto juga mendapatkan naungan dari Kementrian Koperasi. Dia mendapatkan banyak pelajaran tentang hal produktivitas, efisiensi kerja, dan pelatihan kepemimpinan.

Modal yang digunakan sebagian besar untuk membeli kulit. Sisanya digunakan untuk melakukan berbagai eksperimen. Utamanya ia menyebutkan bagaimana cara mengolah warna pada bahan kulit. Menurutnya hal yang tersulit jutru ada pada pewarnaan. Apakah bahan pewarna yang digunakan mudah luntur atau sebarapa lama bisa bertahan.

"Jika kita tidak bisa mengelola dengan baik bisa-bisa ambruk, karena biayanya sangat besar pada waktu itu," katanya menjelaskan.

Kulit ular phyton yang sering digunakan juga punya standar kualitas. Apapun jenis kulitnya selalu dipilih yang sesuai. Kulit ular phyton yang digunakan ada pada kategori medium up atau mendekati angka lebar 29 cm atau lebih. Semua bahan bakunya berasal dari dalam negeri, khususnya dari Kalimantan, Jambi, Palembang, Pekan Baru, dan Medan. Sedangkan untuk kulit biawak, kobra, atau ular- ular kecil lain itu didatangkan dari kawasan Pulau Jawa.

Anto lalu menjelaskan kulit ular ada kategori yang mempengaruhi harga. Yang paling murah terbuat dari kulit ular air tawar, air asin, dan kobra. Golongan menengahnya atau kedua adalah ular karung dan biawak. Dan yang terakhir, yang paling mahal, ada kulit buaya dan phyton. Untuk phyton pun masih dibagi lagi yaitu baby phyton (anakan), medium, dan besar atau big phyton. Kulit phyton 80% akan diolah menjadi produk tas yang menawan. Sisanya akan digunakan untuk bahan dompet, ikat pinggang, sepatu/sandal, jaket.dll.

Kendala usaha kulit


Karena memang produk eklusif makalah harganya tak murah. Patokan harganya ada dikisaran $300 sampai $5000 atau jika dirupiahkan Rp.2,5 juta sampai Rp.4,5 juta. Produk Tassku dan Scano memang brand lokal berkualitas internasional. Produknya pun hanya dijual di mall ternama seperti Sarinah, Pasar Raya Grande, Sogo dan Plaza Indonesia.

Menurutnya, kenapa dijual disana, karena tempat- tempat itulah yang banyak dikunjungi turis mancanegara. Sebagai tambahan produk yang paling laku ialah produk eksotis kulit phyton. Apa yang membuatnya jadi spesial karena warnanya tak selalu mengikuti jaman. Ketika warna silver, gold, pastel, green ataupun ungu tengah menjadi tren 2008, sebelum 2009 datang, Anto sudah memiliki warna- warna itu. Selain kualitasnya, Anto juga fokus pada integritasnya sebagai penjual.

Dia menambahkan bahwa perusahaannya memiliki CITES atau sertifikat integritas untuk flora dan fauna. Lebih lanjut, melalui sertifikat tersebut, produk Tassku dan Scano menggunakan bahan legal.

"Di usaha reptil ini tidak sama dengan produksi lain karena reptil itu ada yang dilindungi. Tetapi di Kalimantan ada beberapa daerah yang boleh mengekspor reptil. Namun kalau tidak disertai CITES berarti sama saja dengan melakukan penyeludupan," tuturnya.

Yang menjadi kendala bisnis kulit adalah chemical color atau pewarna kimia yang belum setabil. Maksudnya ialah pewarna yang digunakan bukanlah warna asli tapi sudah dicampur. Untuk mendapatkan kualitas warna terbaik maka ia terus bereksperimen. Semuanya dilakukan secara disiplin. Ia juga menambahkan kamu ingin berbisnis kulit utamanya reptil: harus disiplin, belajar dengan orang yang tepat, orang yang benar dan pintar. Karena kita tau penyelundupan kulit binatang tindakan kriminal.

"Ketiga kategori ini harus dirangkum jadi satu, instrospeksi diri, rendah hati, mau merubah menjadi lebih baik terutama dalam hal berkarya," tuturnya.

Menyikapi pasar luar negeri memang masih terbuka luas. Tapi, ia lantas mengingatkan, menegaskan "Kita jangan lantas menganggap diri kita mampu, karena di luar sana banyak yang lebih mampu. Oleh sebab itu salah satunya kita harus bisa menyikapi kultur luar baru kita bisa menyikapi produknya, tanpa kita bisa menyikapi kultur atau budaya tersebut jangan harap kita bisa masuk ke negara itu," papar lulusan S2 Jurusan Strategi Marketing Universitas Jayabaya ini.

Artikel Terbaru Kami