Jumat, 26 Desember 2014

Terpaksa Jadi Pengusaha Sukses Tak Disangka


Dia bukanlah pengusaha tulen seperti ayahnya. Ahmad mengaku cuma mewarisi usaha keluarga. Sempat jadi gamang karena hal itu. Tapi siapa sangka jutru berkat kerajinan batu alam dirinya menjadi pengusaha sukses. Ahmad Ngabdulloh tak pernah belajar menjadi pengusaha. Keluarganya lebih suka Ahmad kecil bersekolah dan berprestasi di bidang akademi. Ia hanya berkonsentrasi pada sekolah dan kuliahnya. Saat remaja paling banter ia hanya melayani pembeli batu alam dari ayahnya.

Kalaupun membantu lebih jauh, Ahmad kecil akan disuruh belajar. Begitulah, hingga masuk SMA, lalu ia melanjutkan kuliah di Jurusan Teknik Mesin Universitas Negeri Yogyakarta. Mengambil Diploma 3, selsai kuliah disana, tentu Ahmad akan bekerja menangani mesin. Cita- citanya kala itu bekerja kantoran. Namun, siapa sangka nasib berkata lain. Selesai kuliah Ahmad sulit mendapatkan pekerjaan. Padahal dirinya sudah rajin menebar ijasah ke mana- mana. Dalam tahun itu ia sama sekali tak terbersit batu alam.

Pengusaha kepepet


"Namun semua ditolak. Ternyata cari kerja itu berat," imbuhnya.

Tak lantas bekerja membuat Ahmad sempat tertekan batin. Suatu hari, sang ayah, yang penompang ekonomi keluarga jatuh sakit. Itulah titik baliknya. Meski enggan akhirnya ia mengambil alih usaha keluarga. "Cita- cita saya bekerja di perusahaan," ungkap Ahmad. Namun ia harus menopang ekonomi keluarga. Pria 32 tahun itu harus membiayai sekolah adik- adiknya.

"Kalau bukan saya siapa lagi," jelasnya. Akhirnya meski tak punya kemampuan mengolah batu alam, ia pun sigap sedia. Usahanya dimulai dengan belajar tentang batu alam. Pendidikan dibidang teknik ternyata taklah cukup membantu di usahanya. Dulu, ia pernah belajar, tapi hanya sampai dasar membuat cobek ataupun kerajinan kecil lain.

Ditengah keterpaksaan ia mulai belajar kembali. Caranya yaitu dengan belajar dari mereka pekerja- pekerja ayahnya. Melalui belajar Ahmad memastikan agar tak tergilas pesaing ayahnya. Nampaknya meski tak secara khusus menyentuh batu alam; jiwanya sudah ada disana. Dia memang menuruni ketrampilan ayahnya bahkan lebih. Meski sempat gamang karena disekelilingnya banyak perajin batu alam; ia tak mau gentar. Jika berjalan- jalan ke kawasan jalan raya Muntilan, memang disana berderet- deret toko usaha batu alam.

Dari usaha pembuatan cobek, patung, batu hiasan taman yang lengkap denga air mancur. Bahkan jika kamu mau miniatur Candi Borobudur gampang disana. Semakin banyak toko disana pastilah samakinlah gampang buat pembeli. Tapi bagi Ahmad itu bisa jadi pertanda bahwa samakin banyak persaingan. Untunglah ayahnya itu punya toko di Jalan raya Muntilan, sehingga ia bisa bebas memajang karyanya. Meski begitu ia juga sadar bahwa tempat strategis tak memastikan penjualan tinggi.

Guna menggaet pelanggan dia tetap bekerja keras. Apalagi ia menarget turis asing. Untuk itulah ia mencari- cari tau apa saja yang digemari mereka. Ahmad yakin, sekian banyak turis, pastilah ada yang melirik hasil karya batu alamnya. Dia selalu membuat apa yang diminati pengunjung turis di etalase tokonya. Ia tetaplah melayani mereka dengan ramah. Meski mereka tak membali atau melihat- lihat saja, itu tak masalah baginya.

"Intinya saya ingin menghasilkan yang kreatif dan menarik," kata Ahmad.

Pengusaha tak perlu kuliah?

Tidak tepat dari berkuliah di teknik mesin justru ia menemukan banyak ide kreatif. Pengalaman menggunakan aplikasi bernama AutoCad digunakannya. Aplikasi yang pernah dipelajarinya semasa kuliah itu mampu mendukung usahanya. Nah, dengan aplikasi itulah ia membuat desain- desain baru. Kemudian lahirlah ide hiasan tanaman yang mengalirkan air mancur. Hiasan tersebut karena ada bola ditengah yang bisa berputar terbalik.

Ia pun berseloroh, "kuliah saya ternyata tak sia- sia". Tak disangka- sangka produk itulah yang jadi maskot dalam bisnisnya. Apalagi, produknya itu tak tersedia di toko lainnya yang masih membuat aneka hiasan tradisional. Untuk menambah pelanggan, ia pun bekerja sama dengan para pengusaha mabel di kawasan Yogyakarta. Ahmad mulai melobi mereka agar saling berbagi pelanggan. Caranya jika ada yang cari hiasan batu alam maka diarahkan ke Ahmad. Begitu juga sebaliknya.

Selain itu ia mulai memperbaiki pelayanan kepada pelanggan. Ia berperinsip ramah kepada konsumen berarti menentukan nasib bisnis. Berkat ramahnya bahkan pemandu wisata dengan senangnya mengarahkan. Meski begitu terlalu ramah juga bisa jadi apes. Dia bercerita pernah ditipu oleh pemesan kerajinannya. Kala itu, di tahun 2008, ada pembeli yang tak mengambil barang pesanannya. Belajar dari sana ia paham untuk mereka para pelanggan, meski kenal, harus tetap membayar dulu atau minimal dp.

Ahmad pun berniat membangun cabang di Jakarta. Tepatnya ia membuka cabang di Jakarta, tepatnya di kawasan Bumi Serpong Damai (BSD). Alasannya karena banyak pelanggan asal Jakarta gagal bertransaksi karena kesulitan dalam pengiriman. Mereka pelanggan dari Jakarta ada yang takut pesanan nanti rusak di jalan, atau karena jadi mahal jatuhnya. Meski kini telah sukses apakah ia masih ingin dengan apa cita- citanya dulu.

Sambil bercanda ia berkata, "Mungkin kalau ada yang menawarkan pekerjaan, saya terima."

Dibawah bendera usaha 77 Craft, kini Ahmad bisa mengekspor produknya ke beberapa negara. Kini produknya telah tersebar di kawasan Asia, Amerika, dan Australia. Negara- negara Asia yang telah rutin meminta  kiriman produknya antara lain Filipina, Singapura, dan Malaysia. Pangsa pasar yang cukup luas tersebut membuatnya mampu mengumpulkan omzet minimal Rp 100 juta per bulan. Jenis produknya berupa produk eksterior seperti air mancur, ornamen lampu, dan patung.

Produk tersebut dijual seharga mulai dari Rp 35.000 sampai Rp 1 juta per unit.

Artikel Terbaru Kami