Sabtu, 06 Desember 2014

Fashion Designer Indonesia Peggy Hartanto Mendunia

 
Desainer cantik satu ini punya sifat ramah, bersahabat, sekaligus murah senyum. Melalui lima menit diskusi saja anda akan menemukan segudang ide kreatif dan rencana masa depan. Sejak duduk di bangku SMA, ia mengaku sudah membulatkan tekat untuk jadi desainer. Perancang busana tepatnya menjadi cita- cita sejak dulu. Peggy Hartanto pun rela jauh- jauh berkuliah desain ke Australia.

Passion business


"Fashion is my passion," jelasnya.

Mungkin anda yang belum menentukan langkah akan berpikir, dunia fashion itu glamor. Tapi bukan kesan itu yang ada pada pemikiran Peggy. Alasannya bukan lah tentang glamor di dalam dunia fashion designer itu. Dia menambahkan dunia ini sangat menggairahkan. Punya marketnya apa yang kami tangkap. Meskipun begitu, disisi lain, bisnis ini sangatlah kompetitif. Inilah jalan yang dipilihnya yaitu sebuah jalan sulit.

Setelah menyelesaikan pendidikan di affles College of Design and Commerce di Sydney, Australia, ia tak lantas menjadi seorang desainer. Ada tahapan yang perlu dilaluinya. Dia mengawali karir pertamanya dulu dengan menjadi desainer untuk desainer asal Australia, Collette Dinnigan. Pengalaman menjadi pegawai orang dululah yang ikut membangun usahanya sekarang.

Pengalaman di Australia membawanya mendapatkan banyak penghargaan. Maka ketika Peggy kembali ke Indonesia bukan tanpa bekal pengalaman. Kembali ke Indonesia pada 2012, Peggy Hartanto memulai debut sebagai seorang fashion designer di Indonesia melalui label Peggy Hartanto. Ketika kembali sambutan hangat pasar telah menantinya seketika.

"Saya membuat label Peggy Hartanto setelah kembali ke Indonesia pada 2012 (sebelumnya saya menyelesaikan kuliah dan bekerja di Sydney, Australia). Sebelum kembali ke Indonesia, saya bekerja di Collette Dinnigan Australia sebagai bagian Production dan Quality Control. Membuka label ready-to-wear sendiri adalah impian saya," jelasnya pada satu kesemapatan pada swa.co.id.

Kesempatan untuk debut pertamanya ada di Jakarta Fashion Week 2013. Dengan dukungan teman- teman, keluarga, ia bersama tim -nya membuat momentum melalui produk pakaian ready-to-wear. Untuk koleksi produk pertamanya Spring/Summer 2013, Peggy mencari bahan di seluruh penjuru Surabaya. Dia lalu mulai menjahitnya sendiri. Proses perekrutan SDM secara intens ada setelah fashion show pertamanya. Itu juga sejalan dengan jumlah produksi yang meningkat.

Sehari setelah pulang dari Jakarta, ketika di Surabaya, ia langsung membangun brandnya melalui media internet, yaitu melalui www.shoppeggyhartanto.com. Semua untuk mengakomodasi permintaan pesanan yang melonjak setelah fashion show. Tim nya pun langsung melakukan press release pada media dalam dan luar negeri untuk koleksinya. Semua dilakukan cepat, penuh perhitungan, dan strategis, tercermin dalam tempo waktunya.

"Proses selanjutnya adalah follow up inquiry yang datang kepada kami. Semua proses ini kami jalani secara otodidak dengan belajar banyak dari orang-orang yang berpengalaman dan dari buku. Buyer pertama kami adalah bobobobo.com," jelasnya lagi.

Quality control


Bekerja di Asutralia sebagai quality control dibawanya hingga Indonesia. Meski pasar Indonesia tak sama, tapi soal kualitas, memberika yang terbaik itulah Peggy. Ia pun berpendapat: suatu koleksi busana hendaknya memiliki cerita dimana satu karya dengan karya lain saling berhubungan.

"Waktu saya belajar di Australia, saya sudah dididik untuk membuat suatu koleksi itu harus ada cerita di belakangnya, kalau tidak, koleksi itu biasa saja, tak ada yang spesial," sebutnya.

Ia mengambil contoh ketika membuat salah satu gaun karyanya. Peggy mendapatkan inspirasi dari sebuah batu permata. Tepatnya ia mendapatkan inspirasi dari batu agate (akik). Itu tercermin dari gaunnya yang ada berwarna biru keunguan. Corak tengahnya terinpirasi dari tekstur dan desain batuan agate. Wanita yang dulu sempat berpikir untuk kuliah arsitektur guna meneruskan usaha keluarganya ini selalu memiliki cerita disetiap karyanya.

Jangan kaget jika ditanya tentang satu karyanya dengan cepat dia akan bercerita. Bagaimana sumber, pola, serta pengaplikasiannya pada produk- produknya.

Segudang prestasinya antara lain pernah mengikuti Pekan Fesyen Australia pada tahun 2010. Ia juga pernah menyabet juara pertama kategori anyaman di Penghargaan Fesyen Wol Australia, dianugerahi 'Asian New Generation Fashion Designer Award' oleh sebuah majalah mode di Indonesia pada tahun 2013. Tak habis, ia masih punya segudang prestasi yang diidam- idamkan insan mode Indonesia.

Desainer 26 tahun ini tak menampik Australia memiliki peran besar terhadap desainnya.

"Saya belajar feshion di Australia, dan saya juga mengamati mode- mode yang ada di Australia serta gaya hidup di sana, nuansanya santai, simple dan minimalis. Dari situ terbentuk secara personal, inilah Peggy Hartanto," ceritanya kepada ABC Internasional.

Kembali jauh kebelakang, sosok Peggy Hartanto bukan tiba- tiba ingin menjadi fashion designer. Ini yang perlu kita catat bahwa ia telah lama ingin membuat bajunya sendiri. Sejak keci, ia selalu memilih bahan dan material apa yang ada pada pakaiannya. "Saya kurang suka memakai renda- renda karena tidak nyaman," tambahnya. Dia suka segala sesuatu yang berbau seni. Itulah kenapa fashion designer menjadi rujukan apa yang ia inginkan.

Dia yang memiliki sifat kompetitif. Peggy suka mengikuti berbagai kompetisi untuk mencapai cita- citanya. Dia yang ditempa untuk untuk mengenal dan mengerti dunia fashion; ia jatuh cinta. Membuka brand -nya itu menjadi tujuannya. Produk- produk ready-to-wear merupakan apa yang dia inginkan. Ini telah menjadi cita- citanya sekembalinya ke Surabaya. Keluarga pun mendukungnya baik secara finansial, moral, untuk memulai usahanya sendiri.

Artikel Terbaru Kami